Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Kepedihan Jelang Hari Anak Nasional

leave a comment »

Anda bangun pagi ini dengan perasaan harap-harap cemas bercampur bahagia. Baru saja kemarin sore, Anda menyelesaikan tahapan interview terakhir yang sangat menentukan masa depan Anda. Respon para panelis sangat positif. Mata mereka berbinar-binar mendengar pencapaian Anda pada pekerjaan-pekerjaan Anda yang sebelumnya. Secara bahasa tubuh, mereka terlihat sangat antusias untuk segera mempekerjakan Anda. Dan di akhir interview yang menjanjikan tersebut, staf HRD menanyakan ekspektasi gaji dan terlihat tidak keberatan dengan nominal angka yang Anda sodorkan. Sebelum Anda meninggalkan ruangan interview, staf HRD tersebut menyatakan: “Saya akan mengirimkan offering kami paling lambat besok siang. Jika offering kami diterima, saya harap Bapak bisa bergabung dengan kami secepatnya.”

Anda pun mengatakan dalam hati, “I nailed it. Damn, I am good!!” Saat pulang ke rumah dan menceritakan pada pasangan Anda mengenai proses interview yang baru saja Anda jalani, Anda merasa seperti super hero yang sangat hebat yang dapat menjamin hari esok untuk orang-orang yang Anda kasihi.

Tentu saja Anda bangun pagi ini dengan semangat, bukan?

Sebelum jam makan siang, email yang dijanjikan belum terlihat di aplikasi email Anda. Entah sudah berapa kali Anda mengecek email Anda di ponsel pintar Anda, yang akibatnya baterai ponsel pun berkurang signifikan dengan cepat. “Mungkin staf HRD tersebut masih harus menyelesaikan beberapa dokumen administratif terkait proses rekrutmen,” demikian Anda membatin dalam hati sembari menenangkan diri dengan meneguk secangkir kopi kedua Anda hari ini.

Jam 2 siang, email yang ditunggu juga belum muncul. Anda mulai sedikit cemas tapi tetap berusaha menghibur diri dengan asumsi bahwa staf dan manajemen mungkin sedang sibuk rapat internal. Anda masih yakin bahwa dalam waktu dekat masa-masa mencari pekerjaan dan masa-masa penolakan akan segera berakhir.

Jam 4 sore, dan Anda masih belum mendengar kabar apa pun. Folder spam entah sudah berapa ribu kali Anda cek karena Anda khawatir email yang dijanjikan tersesat di folder yang isinya email-email scammer dari ratusan orang yang Anda tidak kenal dan mengaku-aku sebagai anak Presiden Bank di Angola. Istri Anda melalui aplikasi messenger sudah berulangkali menanyakan berapa gaji yang ditawarkan ke Anda, dan Anda hanya bisa menjawab, “Kayaknya mereka masih sibuk dengan hal yang lebih prioritas. Mungkin sebelum jam kantor berakhir, mereka baru bisa kirim email offering itu.”

Pukul 5 sore lewat 10 menit, ponsel Anda berdering dengan nyaring dan di layar ponsel terlihat nomor telepon yang sudah Anda simpan sejak interview pertama. “Ini dia, ” kata Anda sambil melingkarkan jari tengah Anda ke jari telunjuk, “Cross-fingered!”

“Selamat sore Pak.”

Suara renyah yang sepertinya sudah Anda kenal sejak lama. Suara yang membuat Anda percaya diri karena suara itu yang menyampaikan undangan interview dari puluhan berkas lamaran yang tidak pernah ada kabarnya.

“Sore Bu. Apa kabarnya?”

“Kabar baik Pak. Sebelumnya saya mengucapkan terimakasih atas kesediaan Bapak mengikuti seluruh tahapan rekrutmen kami sampai tahap terakhir kemarin.”

“Saya juga mengucapkan terimakasih atas kesempatan yang Ibu berikan kepada saya.”

Anda mencoba tetap terdengar profesional dengan memberikan penghargaan setinggi-tingginya untuk kesempatan yang Anda terima.

“Begini, Pak,..”

Anda mulai cemas.

“…kami sangat senang bisa mengenal Bapak dan mengetahui pengalaman dan kemampuan Bapak. Bapak adalah kandidat terkuat yang sangat potensial untuk posisi ini.”

Perasaan Anda yang sudah sensitif karena menganggur lebih dari 6 bulan, segera menangkap gejala-gejala yang tidak Anda harapkan.

“Namun untuk saat ini, setelah manajemen melakukan rapat pagi tadi, manajemen memutuskan untuk menunda proses rekrutmen Bapak. Ada perubahan signifikan yang tidak bisa kami informasikan kepada Bapak, tetapi kami pasti akan menghubungi Bapak kembali pada lain kesempatan jika ada proyek-proyek lainnya. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya, tetapi semoga Bapak bisa memahami kondisi ini.”

Ratusan kata-kata makian kotor terucap di dalam hati Anda. Anda terpekur tak percaya dengan apa yang Anda dengar. Terlebih wawancara terakhir kemarin berjalan dengan sangat baik dan meskipun Anda bukan ahli bahasa tubuh, Anda yakin sekali bahwa Anda sudah memenangkan tahap wawancara akhir tersebut.

“Apakah Bapak tidak keberatan dengan penundaan ini?”

“Baiklah Bu. Kalau itu sudah menjadi keputusan manajemen, saya hanya bisa menerima saja,” kata Anda dengan suara yang bergetar seperti tak kuasa menahan perasaan kecewa Anda.

“Baik Pak. Apakah ada hal yang ingin Bapak tanyakan kepada saya?”

“Tidak Bu.”

“Baik Pak. Terimakasih atas waktu yang Bapak sediakan. Selamat sore.”

Anda duduk terdiam. Ponsel Anda masih menempel di kuping Anda meskipun sambungan telepon dari kantor yang nyaris menjadi tempat Anda bekerja, sudah berakhir. Anda tak habis pikir bagaimana merangkai kata-kata kepada istri Anda, dan mengatakan bahwa nasib Anda masih terkatung-katung. Anda juga tak tahu harus bagaimana mengatakan kepada kerabat Anda yang sudah berdoa siang malam agar Anda segera bekerja. Anda juga kehabisan akal bagaimana membayar tagihan dan cicilan yang sudah mencekik leher Anda. Anda tak tahu apakah esok pagi akan bangun sesemangat hari ini.

Kalau Anda merasa kisah ini seperti Anda, jangan putus asa. Saya pun mengalaminya.

Hari ini. Menjelang Hari Anak Nasional.

Written by Rolan Sihombing

July 22, 2016 at 9:21 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: