Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Namaku Piet. Pendeta Piet

leave a comment »

“Apakah Bapak adalah Piet? Pendeta Piet?”

Aku sedang membaca koran di teras rumahku yang asri saat seorang pria berusia 40-an mendekatiku. Rupanya sudah dari tadi ia memasuki halaman rumahku. Aku memang selalu membiarkan pintu pagar rumahku terbuka luas, karena sewaktu-waktu selalu saja ada mahasiswa yang mampir menyambangiku. Dari yang sekedar bercerita ngalor-ngidul tentang apapun, hingga para mahasiswa yang ingin mendiskusikan tesis dan disertasinya.

“Anda siapa ya? Terakhir kali saya dipanggil Pendeta itu empat puluh tahun yang lalu, lho.”

“Bapak tidak mungkin mengenal saya. Tetapi Bapak pasti mengenali pria ini,” kata laki-laki berkulit legam itu sembari menyodorkan sebuah foto hitam putih yang sudah lusuh.

Mata uzurku berusaha mengenali pria asing ini, dan aku yakin betul dia bukan mahasiswaku, dan bukan juga orang yang aku kenal selama karir panjang mengajarku di negeri ini.

Tetapi foto itu. Aku tak akan bisa melupakan wajah  pria berkumis tipis di foto lusuh itu.

Tubuhku mendadak lemas.

***  

Namaku Piet. Pendeta Piet biasanya demikian orang-orang memanggilku. Sudah tiga belas bulan aku bertugas di Maumere, pulau Flores Nusa Tenggara Timur. Menjadi rohaniwan di salah satu daerah yang terpinggirkan dari pembangunan, tidak pernah terlintas sebenarnya dalam angan-anganku. Aku lebih berharap untuk meneruskan pendidikan teologiku di Eropa dan kemudian kembali ke Indonesia menjadi dosen dan ahli kitab-kitab Perjanjian Lama. Di Indonesia masih sedikit sekali teolog yang memiliki kepakaran dalam bidang tersebut.

“Kau ambil saja tawaran penggembalaan itu,” kata dosen pembimbingku suatu sore beberapa hari sesudah wisuda Sarjana Teologiku. “Dua atau tiga tahun cukup. Setelah itu kau bisa mengajukan beasiswa ke Belanda seperti mimpimu.”

“Kondisi Jakarta sekarang saja sangat sulit Pak. Apalagi di Maumere.”

Sembari tersenyum, dosen Bahasa Ibrani favoritku itu lalu berkata, “Kesulitan melahirkan orang besar, Piet. Justru Maumere akan jadi awal episode petualangan imanmu.”

Waktu itu, aku merasa mendapat pompaan semangat. Aku pun membulatkan tekadku untuk mengabdi pada domba-domba Kristus di Maumere. Aku tiba di Maumere setelah menempuh perjalanan lebih dari sebulan.

Kala itu, hampir seluruh pulau Flores dilanda musim kemarau yang panjang. Sawah-sawah banyak yang mengalami gagal panen. Di beberapa kantor desa dan juga gereja, banyak orang mengantri berjam-jam untuk mendapatkan sedikit beras dan bahan makanan lainnya. Walau hanya beberapa kali, aku juga pernah beberapa kali ikut dalam antrian. Dan biasanya akan ada jemaat yang memarahiku dan melarangku mengantri beras.

“Pak Pendeta pulang saja. Nanti saya yang akan antar beras Pak Pendeta,” demikian ucapan dari beberapa jemaat yang kerap memarahiku jika mereka mendapati aku ikut mengantri.

Suatu hari, tak ada lagi antrian baik di kantor desa maupun di kantor gereja. Maumere yang masih jarang penduduknya, semakin terlihat kosong melompong di siang hari. Pasar pun tutup lebih cepat. Begitu juga kantor-kantor pemerintahan dan bank. Hari lepas hari pria-pria tegap berseragam semakin banyak berdatangan di Maumere. Beberapa pemimpin mereka memegang selembar atau dua lembar kertas putih yang berisi nomer urut dan sederetan nama.

Tiga hari yang lalu di suatu pagi, kertas itu ada dalam genggaman tanganku yang gemetar. Seorang pria berbadan gempal, yang adalah salah satu dari pemimpin pria-pria tegap bersenjata, mendatangi gereja tempat aku berkarya menggembalakan umatku.

“Pak Pendeta Piet, tolong lingkari nama-nama orang yang bukan jemaat gereja ini?”

“Ini untuk keperluan apa, Pak?”

“Bapak lingkari saja. Nanti akan ada imbalan yang cukup besar untuk Bapak.” Lalu sambil menyerahkan sebuah surat bercap, pemimpin pasukan itu berkata, “Kami akan mengatur kepulangan Bapak ke Jakarta untuk kemudian dilanjutkan dengan kepergian Bapak ke Belanda.”

“Belanda? Dalam rangka apa?”

“Pimpinan Bapak mengutus Pak Pendeta Piet mengambil studi di Belanda. Ini suratnya.”

Aku pun membaca surat dari ketua sinode gereja tempat aku mengabdi. Lalu kemudian aku melingkari nama-nama di kertas panjang itu. Lebih dari separuh yang kulingkari, adalah bukan nama-nama jemaat yang kugembalakan.

Dan salah satunya adalah pria yang kulihat keesokan sorenya. Ia adalah seorang kerabat jemaatku. Dan sore itu ia menangis tersedu-sedu meminta aku menolongnya. Aku bertemu dia satu bulan yang lalu saat ia mendapatkan bantuan beras di Gereja. Tak jarang ia mencium kakiku sambil berteriak histeris dengan bahasa daerah yang tidak kumengerti.

“Bapa. Tolong saya. Katakan pada orang-orang ini kalau aku tidak bersalah. Istriku, baru melahirkan. Tolong saya, Bapa.”

Tetapi aku diam sambil terus mengucapkan doa Bapa Kami kepada kerabat jemaatku itu. Tubuhku yang nyaris limbung karena kakiku ditarik-tarik oleh tangannya yang terborgol, membuatku semakin mempercepat doaku.   “Terima Kristus dalam hatimu, maka hari ini namamu akan tercatat di Kerajaan Surga.”

Tiba-tiba kerabat jemaatku itu diam. Tangis dan jeritannya yang membahana itu dalam waktu seketika berhenti sama sekali. Tetapi aku berusaha tidak mempedulikan dirinya karena masih banyak orang yang harus aku doakan di bilik sempit itu.

“Pendeta anjing!”

Darahku serasa menggelegak mendengar sumpah serapah kerabat jemaatku.

“Heh, babi! Tutup mulutmu atau kutembak,” hardik seorang yang memanggul senjata laras panjang yang selalu berada di sampingku.

“Tembak saja Pak. Aku lebih baik mati dan masuk neraka. Karena aku akan menghantui kalian semua. Khususnya Pendeta munafik ini.” Matanya melotot kemerahan. “Demi kesenanganmu sendiri, Bapa mengorbankan aku dan seluruh orang di ruangan ini. Masuk neraka kau, pelacur di balik jubah agama.”

Aku baru saja hendak menenangkan tentara yang berdiri di sampingku, tetapi suara letusan senapan sudah terlebih dahulu membahana di ruangan temaram yang penuh sesak dengan orang-orang yang harus kudoakan sore itu. Kerabat jemaatku itu tewas seketika. Dua butir timah panas meledakkan kepalanya. Sebagian otaknya pun berceceran di lantai.

“Ada apa ini?”

“Lapor Pak,” dengan sigap laki-laki kerempeng itu memberi hormat kepada pria berseragam dan berbadan gempal yang masuk ke ruangan. Ia pasti mendengar suara letusan senjata yang menewaskan kerabat jemaatku itu, lalu memutuskan keluar dari ruangan kantornya yang berada di luar. Saat aku baru tiba, aku melihat ia dan beberapa orang sedang memperkosa seorang gadis remaja di ruangannya.

“Babi pengkhianat ini memaki Pak Pendeta, dan menantang saya untuk menembaknya.”

“Lanjutkan. Tapi usahakan lain kali jika terpaksa, kau seret dan tembak yang lain di luar,” kata pria yang lebih mirip residivis itu sambil menghembuskan asap rokoknya. “Supaya yang lain juga lihat akibatnya jika berkhianat kepada Republik.

“Siap laksanakan,” kata si pembunuh berdarah dingin itu sambil membalikkan badannya, “Heh, sini kau bangsat.” Kali ini seorang kakek diseretnya untuk mendapatkan giliran didoakan selanjutnya.

Sembari menepuk pundakku, laki-laki yang resleting celananya belum dirapatkan itu berkata, “Pak Pendeta, nanti jika sudah selesai, datang ke kantorku. Kita minum sopi sedikit, sehabis itu Bapa ambil amplop dan bisa pulang.”

Aku hanya diam sambil tersenyum. Aku hanya ingin segera menyelesaikan tugasku. Mengambil amplop yang dijanjikan, lalu segera meninggalkan kota ini dan melanjutkan studiku di Belanda.

***

“Saya anak pria di foto itu. Laki-laki yang Pak Pendeta doakan Bapa Kami sebelum peluru meledakkan kepala ayah saya.” Pria separuh baya ini terlihat menahan emosinya. Dadanya turun naik dengan cepat, sedangkan kedua tangannya mengepal.

“Maafkan saya, Dik. Saya tidak tahu kalau daftar nama itu adalah orang-orang yang akan dibantai sore itu.”

Seumur hidup aku tidak pernah membicarakan peristiwa kelam itu, bahkan tidak kepada istri dan anak-anakku. Di akhir masa studiku di Belanda aku baru tahu kalau terjadi peristiwa pembantaian orang-orang yang diduga simpatisan PKI secara masif. Bahkan peristiwa itu pun terjadi di Maumere. Dan kecamatan tempat aku bertugas kala itu, merupakan tempat di mana korban paling banyak dibantai secara keji. Pria-pria disiksa lalu ditembak. Karena peluru menipis maka orang-orang yang malang itu pun tewas dengan leher tergorok.

Para perempuan yang tertangkap juga mengalami nasib yang tak kalah tragis. Selain diperkosa secara bergilir, mereka juga dibunuh dengan sadis. Beberapa ibu hamil yang ditangkap, tewas secara mengenaskan. Perutnya dibelah, dan janinnya dicincang-cincang.

“Bertahun-tahun saya menunggu momen ini, Bapa Pendeta Piet. Lebih dua puluh tahun saya mencari Bapak. Dan akhirnya pada hari ini saya bisa melihat wajah Bapak.”

“Jika adik ingin membunuh saya, silakan lakukan sekarang juga. Saya tahu saya harus mempertanggungjawabkan perbuatan egois dan serakah saya.”

Laki-laki itu menatapku dengan tajam . Sementara di dalam hati, aku mengucapkan doa. Mungkin seperti inilah yang dirasakan orang-orang yang memadati ruangan sempit dan temaram empat puluh tahun yang lalu. Mereka melihat ajal yang mendekat, sembari aku menuntun mereka berdoa Bapa Kami sambil mengarahkan mereka untuk menerima Kristus.

“Saya tidak berniat membunuh Bapak. Saya dan Mama, sudah memaafkan Pak Pendeta Piet. Permisi.”

Anak laki-laki dari pria yang aku bunuh secara tidak langsung itu membalikkan badannya dan meninggalkan halaman rumahku. Aku pun duduk terhenyak di kursi dengan rasa malu terhadap perbuatan masa lampauku di Maumere.

Tiba-tiba rasa damai yang menyejukkan menghampiri seluruh relung badanku. Sayup-sayup terdengar suara pria berkata di dekat telingaku.

“Masuk neraka kau, pelacur di balik jubah agama.”

* T A M A T *

Written by Rolan Sihombing

January 24, 2015 at 2:09 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: