Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Size Does Matter: Sebuah Tulisan Sampah

with one comment

Kita hidup di dunia yang menggemari ukuran, standar, nilai, indikator, prosentase dan pelbagai konsep yang bisa dianggap sebagai sesuatu yang diangkakan dan kemudian dirasionalisasikan.

Misalkan kemiskinan dikategorikan dengan pendapatan minimal yang didapat seseorang sehari. Ada yang mengatakan di bawah 2 dollar sehari maka orang tersebut dikategorikan miskin.

Jika rumah seseorang kecil, yang mana untuk selonjoran saja susah, maka bisa dikatakan yang bersangkutan miskin dan tidak bahagia. Atau jika seseorang memiliki mobil lebih dari 1, maka kemudian ia dianggap lebih kaya daripada orang yang sehari-hari menggunakan transportasi umum.

Atau dalam dunia pendidikan. Ada nilai A, B, C, D dan E. A-C adalah angka yang dikategorikan siswa memenuhi syarat untuk lulus. Selain A-C maka yang bersangkutan kemudian dianggap tidak lulus.

Atau kasus yang lain, misalkan mengenai ukuran penis. Konon semakin besar ukuran penis seorang pria maka persenggamaan disinyalir akan lebih maksimal. Wanita juga katanya mudah mendapatkan orgasme jika ereksi penis ke vaginanya maksimal.

Dengan kata lain ukuran sudah menjadi sesuatu yang krusial dalam masyarakat kita. Segala sesuatu diberikan ukuran untuk kemudian terjadi pengklasifikasian antara yang baik atau yang baik. Mengapa krusial? Karena ukuran dibutuhkan untuk menciptakan keteraturan atau validitas yang kemudian bisa membawa kepada kebahagiaan.

Saya tidak bicara soal akurasi dari sebuah hal yang mendapatkan pengukuran. Karena output sebuah ukuran terhadap sebuah kondisi ideal yang diharapkan, bisa dibilang harus dilihat kasus per kasus ataupun melihat konteks per konteks.

Contoh bagi industri fashion, ukuran yang valid untuk sebuah tubuh ideal milik model tentulah langsing, tidak memiliki lemak tubuh yang berlebihan atau yang sering disebut body mass index. Untuk industri fashion, seorang model tidak boleh memiliki BMI lebih dari 16.

Yang menjadi permasalahan adalah ketika ukuran tersebut menjadi standar yang harus dicapai semua perempuan. Perempuan dikatakan menarik jika memiliki tubuh yang sexy, ramping, tidak berperut atau berpinggang besar. Masyarakat dipersepsikan lewat propaganda massif yang menyingkirkan perempuan gemuk dari definisi kecantikan. Padahal di beberapa kultur seperti Mauritania atau Maori, berbadan besar justru merupakan indikator kecantikan.

Atau dalam kasus pemberian nilai A, B, C, D atau E. Untuk memudahkan evaluasi dari perkembangan penguasaan siswa terhadap materi, tentu dibutuhkan sebuah ukuran. Nilai tersebut menjadi evaluasi dari proses belajar mengajar yang sudah diberikan seorang guru.

Terkait dengan itu, tidaklah patut jika kemudian ada stigma, yang karena bias kultur, kepada siswa yang mendapatkan nilai C di satu mata pelajaran adalah siswa yang bodoh dibanding siswa yang mendapat B atau A. Padahal kecerdasan seseorang tidak bisa dihakimi karena ia kurang pintar berhitung atau menghafal. Kecerdasan itu multidimensional dan unik pada tiap orang.

Jadi apakah salah menetapkan ukuran? Tentu tidak. Karena dengan sebuah ukuran atau satuan standar akan memudahkan seseorang untuk mengevaluasi dirinya dan kemudian melakukan tindakan koreksi. Yang tidak boleh adalah ketika ukuran tersebut dijadikan alat menghakimi kebaikan atau keburukan seseorang.

Hari ini saya mendapatkan penilaian sebagai penyakit dalam tim kerja karena tidak asertif, penyendiri, pendiam, dan irit bicara.

Padahal saya hanya seorang introvert yang berada di tengah masyarakat yang kelewat mengagung-agungkan si ekstrovert sebagai ukuran kepemimpinan yang efektif.

Tapi ya sudahlah. Hidup memang tidak adil.

Size does matter!

Written by Rolan Sihombing

January 9, 2015 at 11:02 pm

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. You are not alone in this world. So, cheer up bos..

    Herold

    January 14, 2015 at 8:45 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: