Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Tentang Kebaikan Hati

leave a comment »

Hari ini hujan turun deras membasahi saya sejak dari perjalanan dari rumah di daerah Bekasi hingga sesampainya saya di kantor di daerah Bulungan. Seperti biasa saya bangun pukul 4 pagi, dan sudah harus keluar rumah pukul 4.30 subuh agar bisa menumpang dan dapat tempat duduk di bis Patas AC Bekasi-Blok M. Biasanya tepat pukul 5.30 saya sudah bersiap-siap menyalakan radio dan mencari posisi “wenak” di kursi bis yang sesak agar bisa menyambung tidur yang terputus. Dengan pelbagai kemacetan tingkat parah di ibukota, maka kurang lebih pukul 7.50 pagi saya sudah ada di depan gerbang kantor dengan berkeringat akibat sengaja berjalan dari terminal Blok M ke arah GOR Bulungan. Jarak yang sangat dekat ketimbang jarak yang biasa saya tempuh dengan jalan kaki dari rumah ke kantor sewaktu masih di Ruteng. 

Kalau boleh jujur, saya benci dengan rutinitas tersebut. Pergi subuh, pulang malam. Ditambah dengan fakta beberapa rekan di kantor yang rumahnya masih tak terlalu jauh dari kantor, selalu lebih terlambat daripada saya. Jika menggunakan alasan kehujanan, saya pun mengalami kehujanan yang sama. Sepatu saya sebasah sepatu mereka. Saya pun menggerutu seperti mereka ketika air genangan terciprat ke celana saya karena pengendara mobil yang seenaknya memacu kendaraan mereka meskipun ada genangan air yang cukup dalam di pinggir jalan. Tak jarang saya pun hanya bisa mengelus dada karena stiker mobil mereka bertuliskan “I Belong To Jesus.”

WTF!!!

Suatu hari, ketika saya menumpang APTB menuju kantor dan sedang asyik-asyiknya duduk di kursi yang empuk sembari mendengarkan lagu-lagu yang diputarkan sebuah radio swasta, seorang ibu yang cukup tua menaiki bis APTB yang sama dengan saya. Hati kecil saya mengatakan kalau saya harus memberikan kursi saya kepada ibu tersebut, tetapi badan saya yang kurang tidur mengatakan saya harus pura-pura tidur sehingga kursi tersebut tetap jadi milik saya. Namun ketika saya melihat orang lain, khususnya laki-laki, yang jauh lebih muda dari saya tidak beranjak dari kursinya; bahkan ada yang memakai kalung salib sebesar salib Golgota rasanya, dan juga berdahi hitam yang konon katanya tanda kesalehan; saya pun, dengan berat hati tetapi harus, berdiri dari kursi saya yang rasanya empuk sekali dan menyerahkan kursi tersebut kepada ibu tua tersebut. Saya pun harus berdiri selama 2 jam sampai halte Atmajaya.

Saya ingat Ibu saya waktu itu. Siapa tahu suatu saat, Ibu akan menghadapi situasi yang sama dan ada pemuda yang rela menyerahkan kursinya untuk diduduki Ibu saya suatu hari nanti.

Pertanyaan yang selalu menggelitik saya dari dulu. Mengapa orang yang terlihat sangat saleh dan relijius justru memiliki sifat, perilaku, dan karakter yang berbanding terbalik dengan apa yang ia yakini? Saya yakin di Alkitab, meskipun saya harus akui sudah sering bolong-bolong membaca Alkitab, ada ajaran yang mengharuskan kita untuk disiplin.

“..dan pergunakan waktu yang ada karena hari-hari ini adalah jahat.” (Efesus. 5:16)

Atau bukankah ada ajaran Alkitab yang mengajarkan agar kita mau memberikan semua kenyamanan kita untuk kenyamanan orang lain?

“..dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu.” (Matius. 5:40)

Dan saya pun yakin, agama-agama yang lain pasti mengajarkan hal-hal yang baik saja pada pemeluknya. Sayangnya, para penganut agama yang ada lebih mengutamakan keindahan artifisial lewat pelbagai simbol agama ataupun kesalehan semu. Rajin ke gereja tidak serta merta membuat orang hidup sesuai ajaran yang diajarkan. Rajin melakukan ritual agamawi, tidak serta merta membuat orang menjadi baik.

Agama pada akhirnya hanya sebuah peraturan bagaimana berkehidupan yang dikemas dalam bentuk dogmatisme formal. Para penganutnya tidak serta merta adalah orang yang tahu bagaimana berkehidupan yang sesungguhnya. Artinya, ajaran agama tidak membuat orang menjadi baik secara otomatis. Artinya kebaikan hati seseorang adalah dampak yang terpisah dari agama yang ia yakini. Kebaikan seseorang itu otonom dari nilai tradisional yang sudah diajarkan secara turun temurun. Kebaikan seseorang bisa jadi adalah hasil pengalaman empirik dari seseorang yang pernah menerima sebuah kebaikan di masa lalunya. Seseorang bisa besar di lingkungan gereja, mendengarkan pelbagai aturan hidup yang harus ia taati, tetapi tak tertutup kemungkinan ia bisa membunuh seseorang dengan keji dan tak berprikemanusiaan. Jadi kebaikan mungkin lebih berupa keputusan sadar untuk melakukan sebuah kebaikan dari pelbagai opsi yang mungkin menganjurkan untuk berbuat sebaliknya. Ketika seseorang merasa ia harus berbuat baik karena ia ingin berbuat baik secara sadar dan tanpa didorong oleh dorongan nilai-nilai tradisional dari luar, maka kebaikan yang ia lakukan adalah sebuah kebaikan yang timbul dari kesadaran yang paling dalam.

Dan inilah hakikat moralitas yang sejati. Melakukan sesuatu yang baik, karena semata-mata ia ingin berbuat baik tanpa khawatir akan hukuman kekal yang akan ia terima jika ia tidak berbuat baik. Orang yang seperti ini saya rasa sudah mendapatkan pencerahan sejati dalam hidupnya.

Seseorang bisa hidup dengan pantas dan bermoral, meski tak menganut suatu agama apapun, bahkan meski tak percaya kepada Tuhan sekali pun.

Pusing ya? Saya pun juga pusing. Tetapi kalau kita pusing memikirkan sesuatu, bukankah artinya kita sedang berpikir? Dan ketika kita berpikir, rasanya akan ada pencerahan sejati yang akan menghampiri kita. 

Ah, sudahlah.

Orang beragama pura-pura tak tahu bahwa tanpa dalil-dalil agama sekalipun, manusia menciptakan aturan yang kompleks untuk mengatur kehidupan mereka agar tidak kacau. Ribuan hukum diciptakan di dunia ini tanpa keterlibatan agama atau wahyu.  – Ulil Abshar-Abdalla

 

Written by Rolan Sihombing

February 27, 2014 at 10:26 am

Posted in Filsafat, Humaniora

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: