Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Perjalanan (bagian enam)

leave a comment »

Semua mata penuh kekaguman tertuju padamu seiring langkah-langkah kecilmu menuju altar. Senyum bahagia dan gugup tergambar jelas di wajahmu sembari mata indahmu menyapa ramah para sahabatmu yang tersenyum. Lucunya beberapa dari mereka bahkan menyeka sudut mata mereka dengan saputangan.

Air mata mereka seakan mewakili perjuanganmu hingga bisa sampai pada titik sekarang. Titik dimana kamu akhirnya dapat dipersatukan dengan cinta sejatimu. Cinta yang timbul karena sebuah hubungan persahabatan yang sudah lama terjalin.

Dia laki-laki yang biasa saja. Begitu menurut teman-temanmu. Bahkan menurut orangtuamu ketika pertama kali berjumpa dengannya, priamu itu jauh dari harapan dan keinginan mereka. Entah mengapa kamu bisa begitu mencintai pria itu. Hanya kamu dan mungkin Tuhan yang tahu alasan sesungguhnya.

Tetapi seperti yang berulangkali kamu katakan pada sahabat-sahabatmu, bahwa laki-laki itu membuatmu merasa nyaman. Bahkan menurut mereka sinar matamu yang dulu sering redup, mendadak penuh dengan pijaran tanda kebahagiaan. Meski beberapa kali kamu dan laki-laki itu kerap berselisih paham, tetapi pijaran sinar matamu selalu kembali terlihat jelas.

“Sore hari yang berbahagia ini, kita akan menyaksikan dua insan yang saling berbahagia ini dipersatukan,” kata Pendeta di hadapanmu yang sudah kamu kenal sejak remaja. “Cinta yang bersemi di antara dua sahabat baik, yang dipertemukan dan kemudian dipersatukan karena rahmat dan rencanaNya yang mulia. Dialah kasih yang sesungguhnya. Awal dari sebuah cinta, pemersatu cinta, dan penjaga cinta kedua mempelai.”

Kamu tersenyum sembari Pendeta menyelesaikan kalimat pembukaannya. Kalimat-kalimat itu seakan-akan mempertegas hubungan cintamu yang penuh lika-liku.

“Sembari kedua mempelai mempersiapkan diri untuk mengucapkan ikrar pernikahan yang sudah dipersiapkan sendiri oleh kedua mempelai, yang mana sebenarnya itu agak tidak lazim seperti ibadah pemberkatan pernikahan yang saya pimpin,” ujar Pendeta yang diiringi tawa serempak dari para undangan,”tapi karena saya adalah sahabat kedua mempelai maka saya pun mengizinkan saja.”

Tawa para undangan semakin membuatmu gugup. Aku terlalu mengenalmu sehingga dari perubahan raut wajahmu, aku bisa menebak pikiranmu.

“Apakah kedua mempelai sudah siap dengan ikrar pernikahannya?”

Kamu menggangguk dengan pelan tapi terlihat penuh keyakinan. Saat yang dinanti-nanti semua orang yang menghadirimu pernikahan syahdumu ini.

Written by Rolan Sihombing

February 7, 2014 at 6:03 pm

Posted in Cinta, Fiksi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: