Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Jalan Rusak Depan Gereja

leave a comment »

Saya termasuk orang yang beruntung. Mengapa demikian? Karena saya bekerja di sebuah organisasi yang mengharuskan saya untuk sering melakukan perjalanan dinas meski juga tanpa mengesampingkan tanggung jawab manajerial dan kewajiban pekerjaan-pekerjaan lainnya di belakang meja kantor. Dengan kata lain selain mendapat gaji, saya juga dibayari untuk keliling Indonesia. Beruntung bukan?

Bagi saya bisa mengunjungi daerah-daerah lain, khususnya yang dikategorikan kawasan tertinggal, adalah kesempatan belajar melakukan observasi tentang banyak hal. Dari budaya, tantangan yang dihadapi penduduk hingga potensi yang dimiliki daerah tersebut. Meski observasi tersebut hanya kesimpulan sekilas dari orang luar yang tidak menetap di daerah tersebut, tetapi pengalaman perjalanan dinas banyak kali membuat saya semakin menghargai keragaman dan juga semakin mawas diri terhadap status quo.

Sepanjang perjalanan saya dari Aceh ke Medan, ada satu pemandangan yang menggelitik jiwa saya. Ketika melewati jalan Gayo Lues menuju perbatasan Sumatera Utara, hampir kebanyakan jalan teraspal dengan baik. Mobil yang kami kendarai pun melenggang mulus tanpa goncangan keras sama sekali.

Perjalanan yang menyenangkan itu kemudian berakhir ketika memasuki Tanah Karo. Bahkan sepanjang perjalanan ke Sidikalang bisa dikatakan 50 persen jalannya rusak, tak beraspal dan berlubang-lubang. Seperti gambar di bawah ini.

image

Kondisi jalan yang membuat bokong kami cukup menderita ditambah dengan alam yang tandus dan kering kerontang seperti di bawah ini.

image

Dalam diskusi dengan rekan-rekan yang melakukan perjalanan bersama dengan saya, hampir sepakat kami mengiyakan bahwa kejomplangan antara jalan-jalan di Aceh dengan di Tanah Karo ini disebabkan oleh faktor-faktor yang maha kompleks. Ada faktor sentimen agama yang secara sistemik memiskinkan suatu daerah yang dicap minoritas, korupsi yang dilakukan pemerintah setempat, lemahnya perjuangan para wakil rakyat setempat, ataupun mungkin juga faktor ketidakpedulian dari masyarakat setempat.

Berita buruknya adalah sepanjang jalanan yang rusak tersebut, berjejerlah berderet-deret gereja-gereja dengan pelbagai merk. Dari gereja yang mainstream hingga gereja yang baru dan bersemangat. Semakin banyak gereja di sisi jalanan, semakin rusak jalanan tersebut.

Sebagai orang luar yang tidak tinggal di daerah tersebut dan tentu tidak tahu ragam problematika yang dihadapi daerah tersebut, saya akan dengan mudah mengatakan bahwa gereja setempat telah gagal mengupayakan kesejahteraan kota dimana mereka ditempatkan. Tetapi sebagai seorang pekerja sosial tentu asumsi itu haruslah disingkirkan terlebih dahulu dan memilih untuk mempercayai bahwa ada kompleksitas di balik fenomena tersebut.

Akan tetapi pula gereja seyogyanya memang harus menjadi berkat di daerah dimana ia berada. Janganlah hanya bangunannya yang megah tetapi kondisi masyarakat sekitar sangatlah memprihatinkan. Gereja harusnya turut terlibat dalam isu-isu seperti sanitasi warga sekitar yang buruk, jalanan yang rusak, kondisi lingkungan yang penuh sampah, ataupun kondisi sosial budaya yang justru dekat dengan kemaksiatan. Saya yakin ada gereja yang menjadi berkat secara holistik di lingkungan sekitarnya. Tapi tak bisa disangkali juga banyak gereja yang tidak peduli dengan lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Gereja-gereja yang cuek ini lebih banyak memfokuskan diri pada isu-isu internal mereka saja seperti permasalahan gedung ibadah, tata suara dan panggung, atau pula permasalahan doktrinal. Semua isu itu perlu, tapi tidaklah sepenting upaya gereja terlibat dalam permasalahan nyata di tengah masyarakat.

Gereja adalah kumpulan orang-orang yang dipanggil keluar dari kegelapan untuk memberitakan kabar baik dari Dia yang menebus manusia dari dosa. Artinya gereja bukan sekedar kelompok elit yang hanya berkumpul mendiskusikan urusannya sendiri. Gereja justru harus pergi keluar memberitakan Tahun Rahmat Tuhan telah datang atas lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Dan tugas memproklamasikan kabar baik dan karya mulia dari Tuhan ini tidak semata-mata hanya soal pengijilan tetapi juga untuk membenahi segala sesuatu yang rusak di sekitar gereja. Dalam kasus di atas tentu adalah membenahi jalan yang rusak.

Gereja bisa mendesak politikus untuk melakukan pengawasan terhadap alokasi dana perbaikan jalan yang bersumber dari pajak masyarakat dan yang sebenarnya ada dalam APBD. Ini bisa dilakukan tanpa demonstrasi ataupun protes yang masif terhadap pemerintah.

Gereja juga bisa menghimpun dana swadaya jemaat dan masyarakat sebagai kontribusi nyata dari para warga negara sekitar. Jika perlu dana pembangunan gereja bisa disisihkan sebagian untuk melakukan perbaikan jalan secara swadaya.

Jalanan yang rusak memang tanggung jawab pemerintah. Masyarakat juga bertanggung jawab untuk memelihara jalanan yang cukup vital bagi roda ekonomi. Hanya karena jalanan yang rusak, panen jagung yang melimpah ruah seringkali membusuk karena minimnya angkutan yang membawa hasil panen masyarakat ke kota-kota lebih besar. Sebuah masalah yang tak terselesaikan akan menimbulkan simpul permasalahan baru.

Seandainya jalanan depan gereja tidak rusak, saya yakin harga durian di Jakarta tidak akan mahal.

image

Written by Rolan Sihombing

February 7, 2014 at 11:29 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: