Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Perjalanan (bagian kelima)

leave a comment »

Sepuluh menit lagi jarum jam akan menunjukkan pukul 4.30 sore. Seperti yang kamu katakan bahwa kamu menginginkan ikrar pernikahan terucap tepat ketika matahari semakin berat membenamkan dirinya di ufuk barat. Jadi jika prosesi pemberkatan pernikahan dimulai sekarang, tentu keinginanmu bisa terwujud. Berulang kali Pendeta pun melirik arloji di lengan kirinya sembari mengelap keringat yang menetes satu-satu dari dahinya. Meski berangin, tapi cuaca di pantai tempat prosesi pemberkatan pernikahan ini memang sedang panas-panasnya. “Ini pengaruh gelombang panas dari Australia, ” kata juru bicara dari hotel kepadaku beberapa saat yang lalu.

Kamu memang tidak bisa dipisahkan dari pantai. Anehnya kecintaanmu pada pantai menular pada keponakanku yang paling kecil. Dan masih tergambar jelas ketika kamu dan Jordy berlari-berlari di pantai. Keponakanku yang selalu ceria itu semangat sekali ingin membuat kamu basah kuyup oleh air laut. Sehingga dia mengejar kamu tanpa henti, yang tentu saja selalu bisa kamu hindari. Lagipula apa yang bisa diharapkan dari kecepatan lari seorang anak kecil berusia enam tahun. Tentu saja bukan kamu yang basah kuyup, tetapi keponakanku itu. Bahkan ia sempat menangis karena terjatuh dengan keras di atas pasir pantai. Dan seperti biasa, ia dan kamu kembali tertawa terbahak-bahak sambil berkejar-kejaran di pantai beberapa bulan yang lalu.

Tiba-tiba petugas hotel menghampiriku dan membisikkan ke telingaku bahwa pengantin wanita bersama ayahnya akan segera memasuki venue acara. Akhirnya, pikirku, kasihan juga para undangan sudah tak tahan dengan sinar matahari yang bersinar panas sore ini. 

“Para undangan dipersilakan berdiri,” kata MC acara yang akan memandu acara resepsi selama 90 menit kedepan, “mempelai wanita dan orangtuanya akan memasuki tempat resepsi.”

Sebentar lagi kamu akan berjalan anggun menyusuri altar. Masih ingat beberapa bulan yang lalu ketika kamu meneleponku sambil berisak air mata. Kamu memberitahukan bahwa Ayahmu agak tidak sreg dengan pilihan hatimu. Pelbagai alasan dikemukakan beliau dan alasan-alasan itu adalah alasan yang pernah kamu katakan padaku lewat pesan pribadi di sebuah akun pertemanan ketika kamu mengatakan tidak pada cintaku saat itu.

Saat pertama kali kamu mengatakan tidak, harus kukatakan kepadamu bahwa itu sangatlah menyedihkan kala itu. Tetapi ketika kamu menangis di telepon mengenai keberatan-keberatan orangtuamu mengenai pilihan hatimu, aku menyadari betapa beratnya pilihan yang harus kamu ambil ketika mengatakan tidak kepadaku dulu. Pelbagai tuntutan yang membebani kamu, dan juga pelbagai persyaratan yang diingini mereka, membuatmu terpaksa menjauhkan aku dari kehidupanmu.

Tapi akhirnya sore ini, kamu segera akan memasuki sebuah kehidupan baru dengan laki-laki yang sangat kamu cintai. Laki-laki yang sanggup bersabar ketika kamu sedang banyak kemauan. Laki-laki yang sangat bijaksana sehingga bisa memberi masukan-masukan berharga untuk hidupmu. Laki-laki yang sangat kuat sehingga bisa menjadi sandaran hatimu.

Setelah entah berapa ratus jam berdoa dan berpuasa, akhirnya suatu malam Papamu mengatakan bahwa ia mengizinkan kamu menikah dengan laki-laki yang kamu cintai meski tidak sesuai dengan standar mereka. Kamu berteriak histeris di telepon beberapa menit setelah Papa kamu menyatakan berita gembira itu. Aku jadi semakin yakin bahwa memang tidak ada yang mustahil dalam hidup ini.

Dan kegembiraanku malam itu, berlanjut di malam-malam selanjutnya ketika kamu disibukkan dengan persiapan pernikahan yang sepertinya tidak habis-habisnya. Tak jarang kamu tidur sampai jauh larut malam karena direpotkan dengan tetek bengek menjelang hari bahagiamu sekarang.

Perfect Wedding

Ah, beruntung sekali laki-laki yang akan menghabiskan seumur hidupnya dengan kamu. Aku pernah cemburu dengan laki-laki yang pernah menjadi kekasihmu untuk waktu yang cukup lama. Dalam setiap foto yang kamu publikasikan di sebuah akun pertemanan, terlihat sekali matamu yang penuh cinta kepada dia. Dan laki-laki yang akan menikahimu sesaat lagi, tidak hanya akan hidup berdampingan dengan wanita yang sempurna, tetapi juga akan mendapatkan cinta yang total dari kamu.

Intro sebuah lagu yang sangat aku kenal, memecah lamunanku. Lagu yang sudah sejak bertahun-tahun yang lalu ketika aku mengenalmu kegandrungan film Twilight. Lagu yang beberapa kali juga sering kamu nyanyikan di tempat karaoke. A thousand years.

Penyanyi wanita yang tentu saja aku kenal, menyanyikannya dengan penuh penghayatan. Aku sempatkan melirik ke sebelah kanan dan kiriku, dan aku melihat kedua sahabatmu menunggu kemunculanmu dengan harap-harap cemas. Mereka beberapa kali setahuku, selalu mendukung kamu untuk tetap bertahan dengan pria pilihanmu.

I have died every day
waiting for you
Darlin’ don’t be afraid
I have loved you for a
Thousand years
I’ll love you for a
Thousand more

Kalau kamu ada di tempatku saat ini, kamu akan merasakan betapa megahnya perayaan kesungguhan cintamu. Semua undangan hanyut dalam lembutnya suara wedding singer dan kuatnya lirik lagu kesukaanmu ini. Dan aku pun semakin grogi dan gugup menunggu kedatanganmu dari balik ujung gerbang itu.

Sahabatku tersayang, ini hari yang kamu tunggu-tunggu selama ini, gumamku sambil melirik Pendeta yang tersenyum kepadaku.

-Bersambung-

Written by Rolan Sihombing

January 21, 2014 at 5:03 pm

Posted in Cinta, Fiksi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: