Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Perjalanan (bagian keempat)

with 2 comments

Suatu waktu di September, di suatu tempat…

“Aku berusaha kuat untuk tidak mengatakan ini.”

Kamu menatapku dengan tatapan curiga, tatapan yang sering aku dapatkan dari perempuan yang pernah hadir dalam hidupku yang kemudian akhirnya kusadari adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Setiap kali aku berusaha menjelaskan sesuatu, dia sepertinya meragukan setiap huruf dan tanda baca dari semua yang aku katakan. Dan malam itu, ditatap olehmu seperti itu membuatku semakin ragu untuk menyatakan gejolak perasaanku yang sudah kusimpan sejak terakhir kali kamu mengatakan tidak kepada cintaku.

“Aku masih mencintaimu.”

Kali ini matamu membelalak. Dari bibir yang aku rasa sangatlah indah, keluar kalimat-kalimat yang cukup pedas terdengar. “Abang, berapa kali sih kita harus melalui ini? Aku hanya menganggap kamu sebagai abangku. Tidak lebih dan tidak kurang. Aku kira selama ini kamu sudah melupakan perasaanmu, tapi ternyata…”

“Aku mencoba lakukan itu. Sungguh. Tapi apa mau dikata, aku sangat mencintaimu.”

“Tapi, kamu tidak bisa jadi kekasihku Bang. Percayalah. Kamu akan menyesal di kemudian hari,” katamu sambil memalingkan wajah ke luar jendela mobil.

“Setidaknya, berikan aku satu kesempatan itu. Satu kali saja.”

“Tidak Bang. Sungguh, aku tidak bisa melakukan itu.”

Aku pun terdiam. Ditolak berkali-kali oleh wanita yang aku yakin adalah belahan jiwaku sangatlah menyakitkan. Bahkan ketika aku harus mengakhiri hubungan cintaku yang hampir delapan tahun, tidak terasa menyakitkan seperti ini.

“Kadang-kadang,” kataku sambil menghela nafas menahan hatiku yang rasanya hancur berkeping-keping,  “kita tidak pernah mengetahui di balik kabut yang pekat sekalipun ada sebuah pelangi terbentang indah. Mungkin pikirmu hari ini aku tidak cukup baik, tetapi siapa tahu setelah kau memberikan kesempatan itu meski persoalan datang silih berganti, ternyata sebenarnya aku adalah laki-laki yang bisa membahagiakanmu.”

“Bang, aku katakan..”

“Aku mengerti. Baiklah, aku akan mencoba membunuh perasaan ini mulai sekarang. Terima kasih setidaknya sudah menjadi sahabat yang terbaik bagiku.”

Aku berusaha menggenggam tanganmu, tapi tentu saja kau menepisnya. Aku pun berusaha tersenyum meski aku tahu itu senyum terpahit yang pernah tergaris di bibirku.

***

Angin berhembus kencang. Menurut prakiraan cuaca kemarin yang aku baca, kabarnya hari ini hujan akan turun dengan deras. Tetapi entah kenapa, sore ini, sore yang sangat istimewa, semesta sepertinya sangat mengerti bahwa hari ini ada sesuatu yang bersejarah.

Bersejarah bagiku tentunya.

Memang beberapa bulan yang lalu, ada peristiwa lain yang juga bersejarah, tetapi tidak ada yang bisa mengalahkan momen hari ini.

Kamu akan menikah.

Persahabatan kita memang sangat menyenangkan sehingga pernikahanmu adalah peristiwa yang membahagiakanku. Aku sudah membayangkan betapa cantiknya dirimu dalam balutan gaun putih yang sangat mencerminkan kepribadianmu. Elegan tapi juga simpel.

Begitulah dirimu. Elegan, namun sederhana. Tanpa polesan hiasan wajah pun, kamu sudah begitu mempesona. Aku yakin itu karena kepribadianmu yang memang cantik. Begitu juga dengan pilihan busanamu sehari-hari. Entah kenapa, bahkan dengan pakaian yang biasa saja, kamu bisa memadupadankannya sesuai kepribadianmu itu, dan hasilnya selalu sempurna.

Demikianlah dirimu. Sempurna. Dan pasti kamu akan menggelengkan kepalamu dengan keras sambil berkata, “Mana mungkin aku sempurna?”

Kamu sempurna. Karena kamu diciptakan serupa dan segambaran dengan Tuhan. Dan setiap kali aku mengatakan itu, kamu akan berkata: “Haleluyah!”

Kita selalu bisa menertawakan apa pun. Dari ibu-ibu yang bermulut pedas ketika kita sedang makan di mal, hingga menertawakan selera musikku yang sendu dan tidak seatraktif selera musikmu.

Tapi kita bisa bersahabat. Dan sore ini sahabatku akan menikah. Dengan laki-laki pilihannya yang aku tahu sangat kamu cintai.

Bersambung.

Written by Rolan Sihombing

January 20, 2014 at 6:36 pm

Posted in Cinta, Fiksi

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. sigh… kisah cinta yg berliku liku

    Bayu Soepono

    January 21, 2014 at 7:29 am

  2. lika-liku laki-laki yang kesepian hehehe

    Rolan Sihombing

    January 21, 2014 at 12:05 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: