Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Perjalanan (bagian kedua)

leave a comment »

Januari 2013.

Aku berharap tahun 2013 akan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Saat memasuki awal tahun 2012, aku mengawali dengan sedikit kekhawatiran karena aku memutuskan untuk tidak lagi berkecimpung di dunia content provider untuk televisi Kristen, yang mana mencari pekerjaan tentu tidaklah semudah yang dibayangkan. Jadi berada di Ruteng untuk sebuah proyek yang cukup strategis, menjadi modal awal sebuah kepercayaan diri bagiku menapaki tahun 2013.

Dan tiba-tiba, sebuah akun pertemanan yang pernah muncul juga tiba-tiba 4 tahun yang lalu, kembali hidup. Aku masih ingat senyuman lebarku ketika melihat wajah cantik bersenyum maut dan bermata indah, kembali muncul di peredaran.

Tentu saja, aku langsung bertanya, “Hai. Apa kabar?”

Dan tentu tidak langsung dijawab. Tapi aku tidak peduli, karena kali ini aku harus berhasil menaklukkan hatimu.

Selanjutnya kita pun kembali berkomunikasi, dan aku tahu kalau kamu sudah pulih. Dan aku tak heran dengan itu, karena aku tahu siapa dan bagaimana kamu. Kamu seorang perempuan muda yang tangguh. Dengan kekuatan jiwa yang seperti kamu miliki, mestinya apa pun bisa kamu lakukan.

Tapi malang bagiku. Seberapa keras aku berusaha melawan rasa kagumku kepadamu, semakin aku bertekuk lutut di hadapan pesonamu. Sehingga kemudian,..

Maret 2013.

Aku benar-benar nekat. Kuputuskan untuk menyatakan cinta kepada seseorang yang tidak pernah aku temui secara langsung. Bertentangan dengan akal sehat siapa pun memang. Tetapi aku tidak bisa menyangkali ikatan emosional yang entah kenapa bisa sangat kuat dengan kamu. Kamu sudah menjadi teman, sahabat dan adik pada saat yang bersamaan, tetapi kamu juga adalah seperti yang aku idam-idamkan selama ini. Dan anehnya, semua titik-titik dalam hidupku selalu kembali mengarah kepadamu, tak peduli seberapa jauh aku berjalan jauh darimu.

Ya, aku sangat mencintaimu dengan semua kisah hidupku yang tidak semuanya menarik. Aku menginginkan kamu melengkapi diriku yang kikuk, sedikit bicara, dan tukang mimpi.

Tetapi, cintamu sepertinya terlalu sulit digapai. Meski cinta bertepuk sebelah tangan tidaklah menyenangkan, bahkan agak memalukan, tetapi aku berusaha mengerti sudut pemikiranmu. Menangis sehari semalaman sambil mendengar The Beatles melagukan “Let It Be” cukup bagiku untuk menerima kekalahanku.

Kekalahanku pada saat itu.

-bersambung-

Written by Rolan Sihombing

December 23, 2013 at 11:03 am

Posted in Cinta, Fiksi, Humaniora

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: