Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Untuk Mama

leave a comment »

Esok, tanggal 22 Desember 2013, lazim diperingati sebagai Hari Ibu. Menurut Wikipedia, Hari Ibu adalah hari peringatan atau perayaan terhadap peran seorang ibu dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anak, maupun lingkungan sosialnya. Peringatan dan perayaan biasanya dilakukan dengan membebastugaskan ibu dari tugas domestik yang sehari-hari dianggap merupakan kewajibannya seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya.

Mama, demikian saya biasa memanggil Ibu tercinta, memiliki peranan yang sangat sentral. Sebagai konsekuensi dari berpulangnya Ayah pada usia saya yang ke 18, maka proses pematangan karakter sebagai pria yang beranjak dewasa ada di asuhan Ibu. Mama tidak hanya menjadi orangtua yang rangkap fungsi, yaitu menjadi ayah dan ibu sekaligus, tetapi Mama bahkan sampai sekarang sudah menjadi sahabat, pendukung, mentor, teladan, dan pendoa dalam kehidupan saya.

Mama dan Buah Cintanya

Mama dilahirkan dari keluarga yang biasa-biasa saja. Masa kecilnya meski dalam asuhan yang keras oleh Kakek, tapi kemudian beliau tumbuh menjadi remaja putri yang santun, penuh pengabdian pada orangtua dan menjadi pengasuh adik-adiknya. Sampai kemudian Ayah saya bertemu Mama yang adalah putri ibu kosnya. Mama pernah menceritakan bagaimana Ayah dengan tengil melempar-lemparkan beberapa siung bawang merah untuk menggoda dan mencuri perhatian Mama. Meskipun Mama sempat terganggu dengan ketengilan Ayah, tetapi akhirnya laki-laki perantauan dari Tapanuli itu berhasil meminang dan menikahi Mama. Tentu saja berhasil, karena saya hasil buah cinta mereka berdua.

Sepanjang pernikahannya dengan Ayah, dan juga sepanjang dedikasinya pada kami anak-anaknya, ada beberapa kualitas sikap dan perilaku yang Mama praktekkan kepada kami. Dan hampir semua karakter yang Mama teladankan, bisa dikatakan menjadi manual dan contoh yang saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya yang ingin saya tuliskan dalam tulisan ini, yaitu jiwa pengampun yang sangat tinggi.

Mama adalah seorang pengampun yang luar biasa. Beliau pernah mengalami banyak hal yang tidak menyenangkan. Tetapi ujung-ujungnya Mama selalu mampu memaafkan, melupakan, dan mengampuni semua kesalahan yang orang lain lakukan padanya. Ketika saya diskors cukup panjang dari kampus, dan rektor saya mengatakan kalau ia tidak peduli jika saya merintis gereja setan sekalipun, Mama membelai kepala saya sambil mengatakan:

“Ya sudah. Kamu maafkan saja Pak B*****g. Beliau tidak tahu cerita komplitnya. Mama tahu, dan Mama bangga punya anak seperti dirimu.”

Kalimat itu meski kala itu tidak serta merta menyembuhkan luka batin saya, namun di kemudian hari menjadi mantra ampuh untuk saya praktekkan ketika belasan orang di kemudian hari kembali menyakiti saya dengan cara-cara yang berbeda. Mama mengajarkan kepada saya melalui kalimat itu, bahkan orang paling rohani sekalipun tidak mungkin tidak menyakiti kita. Dan itu sesuatu yang tidak bisa kita ubah. Tetapi yang bisa kita ubah adalah bangkit menyadari kesalahan, karena kita pun tidak luput dari melakukan kesalahan, mengampuni orang yang melukai dan menyakiti kita, dan kembali menjalani hidup dengan keyakinan bahwa di hari-hari berikutnya mungkin saja segala sesuatu akan baik-baik saja.

Terbukti hidup penuh perjuangan pun tetap harus saya lakoni. Dan dalam perjalanan itu pun saya tidak luput dari sasaran tembak orang-orang yang sengaja dan tidak sengaja menyakiti saya secara emosional. Tetapi karena berbuat salah adalah hal yang wajar bagi manusia, maka tugas saya adalah mengampuni orang tersebut. Ketika saya memaafkan dan mengampuni, maka saya sedang membebaskan diri saya dari gelombang negatif yang akan dipantulkan semesta kembali kepada saya. Saat saya memilih untuk berdamai dengan orang yang menyakiti saya, saat itulah saya sedang menyembuhkan diri saya sendiri. Semakin kita memaafkan, semakin cepat luka itu menutup dan pulih. Namun sebaliknya, semakin sulit kita memaafkan orang lain maka semakin lama kita akan mengalami kemerdekaan dari dendam, amarah dan luka batin.

Mama, anakmu segera mengakhiri tahun 2013 dengan beberapa harapan baru. Kesempatan yang baru dalam pelayanan dan pekerjaan, seorang wanita yang luar biasa yang Tuhan izinkan hadir dalam kehidupan anakmu ini, tentu adalah buah dari doa dan balasan dari Tuhan atas semua kemuliaan karakter dan perilaku yang selama ini Mama gemakan di dunia. Di tahun yang baru, hanya doa dan pengabdian yang anakmu ini bisa berikan agar Sang Khalik selalu melimpahkan hanya kebaikan demi kebaikan dalam hidup Mama.

Selamat Hari Ibu, Mama tersayang. Olan menyayangimu.

-Ruteng, 21 Desember 2013-

Written by Rolan Sihombing

December 21, 2013 at 1:54 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: