Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Kepemimpinan Yang Melayani

leave a comment »

Bennie E. Goodwin, seorang pendidik kulit hitam Amerika, pernah menyatakan sebuah kutipan yang berharga tentang proses kepemimpinan yaitu: “Meskipun calon pemimpin adalah yang dilahirkan, namun pemimpin yang efektif adalah yang digembleng.” Senada dengan itu, Shakespeare juga pernah menulis demikian: “Jangan takut kepada kebesaran. Ada yang besar karena dilahirkan besar, ada yang besar karena usaha sendiri, tapi ada juga yang besar karena dipaksa oleh keadaan.” Kepemimpinan dengan demikian, adalah suatu perbauran antara bakat alami, dan pemberian Tuhan, yang terus dipupuk, dikembangkan, dan mengalami gemblengan oleh faktor eksternal.

Namun setiap pemimpin selain berpotensi untuk berhasil, ia juga tidak tertutup kemungkinan mengalami kegagalan. Para pemimpin terkemuka dalam sejarah bukanlah berbakat alam, mereka belajar memimpin dengan coba-coba. Kebiasaan serta praktek kepemimpinan—yang tidak bisa dipisahkan dari perpaduan faktor internal dan reaksinya terhadap faktor eksternal—yang buruk bisa melahirkan generasi baru pemimpin yang tidak mampu; atau bisa menciptakan cukup ketidaknyamanan sehingga sang pemimpin mencari tahu bagaimana cara melakukannya dengan benar. Terkait belajar dari kesalahan atau kegagalan, Soekarno pernah menyatakan demikian: “Pelajari sejarah perjuanganmu di masa lalu agar kamu tidak tergelincir di masa depan.”

Kesalahan terkemuka kepemimpinan adalah terletak pada hasrat pemimpin untuk menguasai, dan bukannya melayani. Mrk. 10: 42-45 mengisyaratkan bahwa menjadi pemimpin tidak identik dengan menjadi tuan, tetapi menjadi pelayan. Mengapa demikian? Selain dikarenakan fakta bahwa kepemimpinan berpotensi mendatangkan bahaya keangkuhan atau arogansi, melayani orang lain mengindikasikan sebuah pengakuan akan harkat dan martabat orang-orang yang dilayani.

Penghargaan terhadap kualitas intrinsik manusia yang tercipta dalam keindahan dan kesempurnaan Sang Khalik inilah yang seharusnya menjadi alasan dan motivasi kepemimpinan. Melayani sesama manusia adalah jantung utama dari sebuah kepemimpinan. John Stott yang mengutip tulisan T.W Manson menyatakan demikian: “Dalam Kerajaan Tuhan, pelayanan bukan batu loncatan untuk keagungan. Ihwal melayani itu sendiri, itulah keagungan, satu-satunya jenis keagungan yang otentik” (1996:474). Jika manusia adalah segambar dengan Tuhan, maka mereka seharusnya dilayani dan bukan dieksploitasi; dihormati dan bukan dimanipulasi. Sehingga dengan demikian tugas seorang pemimpin adalah melayani, dan yang mereka layani bukan kepentingan diri sendiri, melainkan kepentingan orang lain (Fil. 2:4).

Rudolf Diesel, sang penemu mesin diesel yang sebenarnya berbahan bakar minyak kacang, pernah menyatakan,“Man is not bad, only badly governed.” Pernyataan tokoh dunia yang secara misterius dan mengenaskan meninggal karena terjatuh dan tenggelam dari kapal ferry yang ditumpanginya di Selat Inggris pada tahun 1913, menunjukkan bahwa manusia secara intrinsik memiliki nilai dan kualitas yang baik. Mengapa demikian? Karena manusia diciptakan dalam gambar dan rupa Ilahi. Benar manusia telah jatuh ke dalam dosa—seperti yang telah penulis sampaikan sebelumnya—dan dosa inilah yang kemudian dengan buruk memerintah manusia untuk melakukan hal yang buruk pula. Tetapi meski demikian, rupa Ilahi dalam diri manusia masih tidak binasa (Kej. 9:6; Yak. 3:9).

Kualitas kepemimpinan seperti inilah yang dirindukan oleh setiap orang di setiap periode peradaban, dan di setiap belahan dunia manapun. Pemimpin yang tidak dengan arogan merasa dia layak memimpin karena wahyu ilahi ataupun karena kecakapan dan keterampilan yang dimilikinya, dan kemudian berhak melakukan apa saja termasuk mengeksploitasi orang-orang yang dipimpinnya. Memang tidak dapat dipungkiri jika proses seseorang menampuki jabatan kepemimpinan secara tradisional dikarenakan orang tersebut mempunyai kualitas yang berbeda dibandingkan orang-orang sekitarnya. Bandingkan dengan alasan diangkatnya Saul menjadi Raja Israel pertama, yaitu karena “ia elok rupanya dan tidak ada seorang pun dari antara orang Israel lebih elok dari padanya: dari bahu ke atas ia lebih tinggi dari pada setiap orang sebangsanya” (1 Sam. 9:2). Namun kualitas yang berbeda yang dimiliki seorang pemimpin, yang menjadi batu loncatan dari perjalanan awal kepemimpinannya, bukanlah sesuatu kualitas yang otentik yang harus terus dipelihara. Karena sifat dasar manusia yang gemar berkompetisi akan menyebabkan munculnya orang lain yang lebih berkualitas, lebih cerdas, lebih berwawasan dari pemimpin yang berkuasa. Hanya kepemimpinan yang melayani—yang dengan sadar menyadari bahwa pengikutnya adalah individu yang unik dan istimewa dan berusaha sekuat tenaga mengupayakan peningkatan kualitas intrinsik pada orang yang dipimpin tersebut bukan dengan kekuasaan melainkan kasih, bukan kekerasan melainkan teladan, bukan paksaan melainkan persuasi—yang kelak akan bertahan lama.

Filosofi kepemimpinan sekuler yang biasa dekat dengan sikap otokratis, atau memerintah terlalu berlebihan, menunjukkan bahwa perilaku otoriter secara historis memang merupakan metode paling umum yang dipraktekkan pemimpin-pemimpin (Finzel, 2002:24-25). Ini juga sudah ditunjukkan oleh para pemimpin bangsa yang dijadikan studi dalam tulisan ini. Perilaku otoriter atau sekedar memberitahu orang apa yang harus bawahan atau pengikut perbuat, merupakan bentuk kepemimpinan yang paling mudah dilakukan. Selain paling mudah, sikap top-down ini merupakan kemampuan alami dari manusia. Karena menjadi dominan terhadap orang lain, dan berusaha memupuk kekuasaan atas orang lain, merupakan cerminan dari kejatuhan manusia dalam dosa.

Hans Finzel mengutip teori X versus teori Y yang populer di tahun 1990-an milik Paul Hersey dan Ken Blanchard dalam bukunya “Management of Organizational Behavior: Utilizing Human Resources” untuk menggambarkan perbedaan gaya kepemimpinan Top-Down dengan gaya kepemimpinan yang melayani sebagai berikut (2002: 27):

Teori X: Pada dasarnya bekerja itu tidak disukai oleh kebanyakan orang.

Teori Y: Bekerja itu sama alaminya seperti bermain, kalau kondisi-kondisinya menunjang.

Teori X: Kebanyakan orang tidak ambisius, tidak suka bertanggung jawab, dan memilih diberikan pengarahan.

Teori Y: Pengendalian diri seringkali tak dapat digantikan dalam mencapai sasaran-sasaran organisasi.

Teori X: Kebanyakan orang memiliki kapasitas kreatif yang sedikit untuk memecahkan masalah-masalah organisasi.

Teori Y: Kapasitas kreatif dalam memecahkan masalah-masalah organisasi sangat tersebar di seluruh tenaga kerja.

Teori X: Motivasi hanya muncul di tingkat fisiologi serta keamanan.

Teori Y: Selain di tingkat fisiologi serta keamanan, motivasi juga di tingkat sosial, harga diri, dan aktualisasi diri.

Teori X: Kebanyakan orang harus sangat dikendalikan dan seringkali dipaksa untuk mencapai sasaran-sasaran organisasi.

Teori Y: Orang bisa mengarahkan dirinya sendiri dan kreatif dalam pekerjaannya kalau dimotivasi dengan benar.

Dari perbandingan tersebut, dapat dilhat bahwa teori X adalah gaya kepemimpinan yang top-down dan memerintah habis-habisan. Sedangkan teori Y adalah gaya kepemimpinan melayani yang didasarkan cara pandang Alkitabiah terhadap natur manusia, yaitu bahwa setiap orang hebat dan istimewa di dalam cara-cara dan perilakunya masing-masing. Jika teori X memfokuskan pada taktik memberikan pengarahan serta mengendalikan lewat kewenangan, maka teori X sebaliknya malah memfokuskan pada sifat hubungan antar manusia, dan menyelaraskan sasaran-sasaran tiap individu dengan suksesnya perusahaan atau organisasi.

A.W. Tozer menyatakan demikian (Finzel, 2002:30):Seorang pemimpin sejati rasa-rasanya tidak berhasrat memimpin, namun terpaksa karena tekanan Roh Kudus dan tekanan situasi eksternal. Demikian halnya dengan Musa, Daud, serta para nabi Perjanjian Lama. Rasanya tak ada pemimpin besar, mulai dari Paulus hingga zaman sekarang, selain yang didorong oleh Roh Kudus serta diutus oleh Tuhan untuk mengisi posisi yang sebenarnya tidak diinginkannya. Saya percaya bahwa secara umum, orang yang ambisius untuk memimpin itu tidaklah memenuhi syarat menjadi pemimpin. Pemimpin sejati takkan berhasrat untuk bersikap sebagai majikan terhadap hamba-hamba Tuhan, melainkan akan bersikap rendah hati, lembut, rela berkorban, serta siap menjadi pemimpin maupun pengikut, kalau Roh menjelaskan bahwa telah muncul seseorang yang lebih bijaksana serta bertalenta daripadanya.

Berdasarkan I Pet. 5: 1-5,[1] penulis menemukan ciri-ciri utama dari kepemimpinan yang melayani. Pertama, memimpin bukan dengan paksaan tetapi dengan menawarkan pilihan. Memaksa berarti meminta seseorang melakukan sesuatu sesuai kemauan orang yang meminta. Kepemimpinan memaksakan keputusan berarti menempatkan sang pemimpin di pusat perancangan sebuah keputusan yang akan ditetapkan. Sedangkan seharusnya orang-orang yang dipimpin, justru harus ditempatkan sebagai mitra kerja dalam penyusunan sebuah keputusan. Dengan berlaku seperti ini, maka pemimpin tersebut sedang menghargai kualitas orang-orang yang dipimpinnya, dan ide atau usulan mereka diberi ruang lebih dan peluang untuk berkembang. Ide-ide atau usulan-usulan yang diberikan ruang untuk berkembang akan mengalami proses pematangan melalui proses diskusi, pembahasan ulang yang difasilitasi pemimpin. Ketika ide dan usulan yang ini mengkristal menjadi kesepakatan bersama, maka orang-orang yang dipimpin akan merasa bahwa mereka punya andil dalam kemajuan dan perkembangan sebuah organisasi sesuai yang diharapkan, dan juga dengan sukarela mencurahkan waktu, tenaga, dan pikiran mereka kepada kewajiban mereka. Karena kepengikutan yang sesungguhnya bukan berdasar pada penghargaan yang mungkin mereka terima, tetapi perubahan yang mereka bisa lihat dan rasakan di tengah masyarakat, beneficiary, dan pelanggan.

Kedua, memimpin dengan didorong pengabdian untuk terpenuhinya kebutuhan orang lain. Pemimpin mudah terjebak untuk mencari keuntungan sendiri dengan menggunakan kedudukan yang dimilikinya, sedangkan semestinya kepemimpinan adalah sebuah bentuk memperkaya orang-orang yang dipimpin. Maksudnya bukan praktek memperkaya kelompok untuk kelanggengan kekuasaan dan menimbulkan perasaan utang budi dari pengikut, tetapi mengedepankan pemenuhan kebahagiaan jiwa mereka dalam proses melibatkan diri secara aktif dalam mencapai tujuan organisasi. Karena ketika seseorang merelakan dirinya dipimpin, ia ingin terlibat secara kolektif terhadap perkembangan dan kemajuan organisasi. Kemajuan organisasi adalah perkembangan dirinya juga. Semakin besar kebutuhan anggota-anggota terhadap achievement yang bisa mereka dapatkan dan kontribusikan kepada perkembangan bersama, maka semakin besar juga energi bersama organisasi itu untuk bergerak maju.

Ketiga, memimpin dengan keteladanan. Seseorang memutuskan untuk mengikuti seorang pemimpin, sebenarnya dikarenakan dua hal ini: minat yang sama, dan cara berkomunikasi. Ketika seseorang melihat sebuah kesamaan minat, kepedulian, mimpi, nilai-nilai yang dianut, maka ia akan dengan segera menjadi anggota dari kelompok tersebut. Karena secara natur, orang sangat menggemari perubahan, mereka senang menjadi bagian dari sebuah pergerakan, mereka membicarakan hal-hal yang luar biasa, bukan yang membosankan. Secara natur pula, orang-orang akan meniru prilaku dan mengagumi pribadi yang memulai perubahan, dan yang membuat mata mereka tercelikkan. Sehingga semua yang disampaikan atau dikomunikasikan oleh sang inisiator atau pemimpin, akan menjadi inspirasi bagi mereka untuk meniru prilaku, perkataan, bahkan selera pakaiannya. Bahkan baju yang bertandatangan sang pemimpin, akan ditempatkan dalam pigura sehingga mereka bisa melihat dan merasakan betapa hebatnya mereka. Itu inti kepemimpinan. Seseorang menyukai gagasan yang dikomunikasikan sang pemimpin dalam pelbagai medium, gagasan itu dianggap solusi yang diyakini bisa memicu sebuah perubahan, pengikut mulai menularkan gagasan pemimpin ke orang lain dan seringkali dengan cara yang sama persis dengan sang “idola”, dan ketika perubahan itu benar-benar terwujud dengan wujud sederhana semakin banyak orang lain di sekitarnya yang mengamini dan menularkan kembali gagasan sang pemimpin, maka orang tersebut merasa sudah jadi terlibat dalam kegerakan besar, dan ia merasa sudah mencapai sesuatu. Kepemimpinan itu seperti seorang idola yang tindak-tanduknya ditiru oleh penggemarnya.

[1] Aku menasihatkan para penatua di antara kamu, aku sebagai teman penatua dan saksi penderitaan Kristus, yang juga akan mendapat bagian dalam kemuliaan yang akan dinyatakan kelak. Gembalakanlah kawanan domba Tuhan yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Tuhan, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu. Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu. Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: “Tuhan menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”

Written by Rolan Sihombing

December 10, 2013 at 9:12 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: