Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Adapt Or Die!

leave a comment »

Pindahan itu memusingkan. Bukan hanya pindah ke rumah yang baru, tetapi pindah ke pekerjaan yang baru juga memusingkan. Poin-poin ‘To Do List’ pun berderet panjang ke bawah; dimulai dari pelatihan sangat singkat kepada staf yang akan mengantikan, serah terima dokumen-dokumen penting terkait pekerjaan lama, hingga mengepak-ngepak barang-barang dan buku-buku di meja kantor untuk dikirimkan ke rumah. Kesimpulannya adalah: (tetap) pindahan itu memusingkan.

Saya tak habis pikir ada laki-laki yang menganggap pindah ke lain hati dalam waktu singkat adalah hal yang menyenangkan.

Maaf agak di luar konteks sepertinya. Lupakan!

Beberapa malam yang lalu ketika sembari menunggu saat kencan via telepon dengan kekasih tersayang, saya memutuskan menonton film animasi The Croods. 

The Croods

Film ini mengambil latar waktu pada sebuah zaman pra-sejarah fiksi Pliosen, yaitu satu periode kehidupan akhir dari manusia gua yang masih hidup dalam perburuan dan mulai terancam dengan kedatangan sekelompok inovator jaman pra-sejarah yang menemukan hal-hal baru dan revolusioner pada masa itu. Dalam film animasi komputer 3D ini, keluarga Croods yang selalu hidup ketakutan dalam gua akhirnya harus keluar dari guanya yang aman dan nyaman untuk menuju daerah pegunungan. Petualangan mereka ke tempat yang baru ini dipicu oleh pertemuan Eep, anak perempuan Grug, dengan Guy, seorang jenius yang menemukan api dan bercerita tentang akhir dunia yang akan mengancam nyawa mereka.  Dibarengi dengan konflik ayah yang cemburu karena putrinya jatuh cinta dengan pria eksentrik -inilah mengapa calon mertua laki-laki acapkali membenci pacar anak perempuannya: red- petualangan menghindari tanah longsor dan juga makhluk-makhluk buas, akhirnya berujung pada sebuah kehidupan baru yang lebih baik bagi keluarga Croods.

Dalam sebuah perdebatan antara Grug dan Guy, mengenai apakah mereka akan pergi ke pegunungan atau tetap tinggal di tanah datar, Grug berteriak dengan panik kepada anggota keluarga yang lain, “Hal yang baru itu berbahaya!”

Kepanikan Grug dalam menyikapi sesuatu yang baru, inovatif dan berbeda, bisa jadi mewakili karakteristik manusia yang cenderung menghindari perubahan. Meski segala sesuatu di muka bumi ini pasti berubah karena yang absolut dan mutlak adalah perubahan itu sendiri, tetapi manusia pada umumnya enggan menghadapi sebuah perubahan. Perubahan mengancam kenyamanan yang sudah mereka huni selama ini. Perubahan mengganggu struktur yang berusaha dibangun sestabil mungkin selama ini. Perubahan menuntut penyesuaian baru, strategi baru, metode yang baru, dan juga gaya atau filosofi kepemimpinan yang baru. Dikarenakan pertentangan yang masif antara ketakutan menghadapi perubahan dan harapan yang lebih baik setelah melewati perubahan, manusia ataupun organisasi seringkali gagal beradaptasi dan kemudian mati.  “Adapt or Die!” demikian teriak Pieter Willem Botha ketika berpidato di hadapan parlemen Afrika Selatan pada Oktober 1979. Kalimat ini sebenarnya bersumber dari tulisan Charles Darwin dalam The Origin of Species yang berbunyi: “Multiply, vary, let the strongest live and the weakest die.” 

Lalu bagaimana sebenarnya sikap yang harus diambil dalam menghadapi sebuah perubahan? Suka atau tidak suka, atau sejauh apa pun kita berlari menghindari perubahan, selalu ada hal yang berubah dalam hidup kita. Dan ketika kita gagal bersikap dengan tepat pada saat mengalami perubahan, maka bisa dipastikan kita akan bernasib sama seperti dinosaurus yang punah berjuta-juta tahun yang silam.

Kemarin tidak sama dengan hari ini, dan hari esok juga berbeda dengan hari ini. 

Banyak orang terlalu mengandalkan pengalamannya dalam mengambil keputusan ataupun mengambil pelbagai langkah penyesuaian dalam setiap perubahan yang terjadi dalam hidupnya. Seorang laki-laki yang mengira pola komunikasinya yang lama yang ia terapkan pada hubungannya yang terdahulu, akan berlaku juga untuk hubungannya yang baru. Atau seorang pengantin baru yang mengira cara ia menyelesaikan konflik pada saat ia masih hidup sendiri, bisa efektif diterapkan pada pernikahannya yang baru seumur jagung. Atau seorang pemimpin yang mengira pengetahuan dan pengalaman kepemimpinannya yang silam bisa membawa hasil yang efektif jika diterapkan pada perusahaan ataupun organisasi baru yang ia pimpin.

Yang terjadi kemarin, biarkanlah untuk kemarin. Hari ini adalah cerita baru yang akan membentuk hari esok. Pemikiran inilah yang harus kita bawa kemana pun kita melangkah dalam setiap fase kehidupan. Tetapi tak jarang banyak orang yang hidup di masa lampau, yang selalu melihat ke belakang dan mengenang masa-masa lalu yang sudah lewat dan tak akan pernah terulang. Selalu saja ia mengenang keberhasilannya ataupun luka-luka lama yang masih membekas di hatinya. Dan selalu juga ia mengira apa yang membawanya ke sebuah titik pada masa kini, akan dapat berhasil membawanya ke suatu tempat yang baru di masa depan yang lebih baik.

Seorang teman yang sebenarnya saya yakin adalah pemimpin yang efektif, selalu mengandalkan masa lalunya untuk mengambil pelbagai keputusan dalam kepemimpinannya. Akibatnya alih-alih ia mengarahkan organisasi dan orang-orang yang dipimpinnya kepada era baru dan masa depan yang lebih baik, ia justru membawa kemunduran dan kemerosotan pada organisasinya. Dan tidak hanya itu ia justru menjadi faktor penyebab keluarnya anak-anak buah yang hebat dan berdedikasi ke organisasi yang lain.

Atau seorang sahabat yang akhirnya harus mengorbankan pernikahannya karena ia mengira suaminya akan dapat menerima gaya penyelesaian konfliknya yang sudah ia pelihara selama bertahun-tahun hidupnya. Terlepas dari ketidakgamblangan komunikasi dan penyelesaian konflik pada masa pacaran, tetapi dalam beberapa kali kesempatan saya selalu mengatakan kepada sahabat saya itu untuk merubah pola penyelesaian konflik yang ia anut dan mulai beradaptasi ataupun minimal menyepakati sebuah pola penyelesaian konflik yang win-win dengan suaminya tersebut. Tetapi karena ketidaksediaannya untuk mendengarkan nasihat saya, dan mungkin juga didorong oleh keengganannya untuk berubah, akhirnya dengan sangat menyesal pernikahan yang baru seumur jagung itu pun kandas di tengah jalan.

Saya Dan Yang Harus Berubah

Hadapi saja perubahan ini, dan mulailah kembangkan adaptasi yang relevan terhadap perubahan itu. Demikian kata-kata yang saya gemakan di dalam hati saya beberapa waktu yang lalu. Karena saya akan menghadapi perubahan yang cukup drastis dalam satu bulan ke depan, maka saya harus beradaptasi atau saya akan menemui ajal saya. Namun yang saya tahu dan yakini bahwa perubahan-perubahan yang akan saya hadapi akan membawa saya dan seluruh dimensi kehidupan saya kepada tataran kehidupan yang lebih baik.

Perubahan itu pun dimulai dengan mengepak buku-buku saya yang  bejibun untuk dimasukkan dalam kardus-kardus yang akan dikirimkan ke rumah saya di Bekasi. Selain itu pasti pelbagai pengetahuan dan keterampilan haruslah saya kembangkan untuk mengemban tugas saya yang baru ini. Masa percobaan 6 bulan yang diberikan pada saya, haruslah dihadapi dengan adaptasi yang relevan atau saya harus berhadapan dengan ajal dalam pekerjaan saya.

Meski kemudian di penghujung malam itu, saya ketiduran dan tidak dapat menyelesaikan film The Croods sampai tuntas, dan bahkan yang lebih parah telepon yang ditunggu-tunggu dari siang justru tidak terjadi karena saya ketiduran, satu hal yang penting pagi hari ini adalah: ADAPT OR DIE!!!

-17 hari sebelum pulang ke RUMAH-

Written by Rolan Sihombing

December 6, 2013 at 10:47 am

Posted in Humaniora, Kepemimpinan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: