Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Tentang Kita (Bab 3)

leave a comment »

Hari ini aku akan bercerita tentang kisah spesial. Kisah tentang kita.

25 Juni 2009. Kamu ingat tanggal itu? Tentu saja kamu ingat. Kujitak kepala kamu jika kamu tidak ingat ada apa di tanggal itu.

Hehehe.

Setelah nyaris 5 bulan kita berkenalan, akhirnya aku tidak sanggup lagi menahan perasaanku. Setelah nyaris tiap hari kita berbicara panjang lebar di telepon, dan entah berapa kali kita pergi berduaan, ataupun bertemu di toko roti Mama, akhirnya aku mencoba memberanikan diri untuk menyatakan perasaan yang sudah aku pendam.

Dan menyatakan perasaan kepada lawan jenis adalah kelemahanku. Terlebih harus menyatakan isi hati kepada seseorang yang sangat istimewa seperti dirimu. Aku pernah bercerita kepada kamu bukan, bagaimana aku pernah terdiam tanpa bisa berbicara satu patah kata pun ketika aku ingin menyatakan cinta kepada seseorang saat aku masih SMA. Yang aku katakan waktu itu padanya bukan, “Aku menyukaimu,” tetapi malah sekedar kata, “Hai,” setelah hampir 2 menit membisu di depan gadis itu.

Atau ketika aku hanya berani menyatakan cinta lewat surat yang aku selipkan di sebuah buku lagu-lagu Natal yang aku pinjam dari seorang adik kelas ketika SMP. Tidak ada yang lebih kampungan daripada menyatakan cinta lewat surat bertuliskan 3 kata, “Gue suka elo,” dan menyerahkan buku itu sambil lari ketakutan. Padahal tidak ada bom atom yang meledak; jadi kenapa aku harus lari saat itu. Entahlah aku juga bingung.

Itulah yang menyebabkan aku tidak terlalu banyak memiliki mantan pacar. Memang aku banyak menyukai lawan jenis, baik di sekolah, kampus ataupun di gereja. Tapi dari semua cinta terpendam itu, mungkin hanya 1 atau 2 yang kemudian betul-betul menjadi pacarku.

Dan jika aku tidak menyatakan perasaanku malam itu, kamu pun hanya seperti perempuan-perempuan lain yang sekedar aku cintai secara diam-diam. Aku ingat betul hampir 3 malam aku tidak bisa tidur hanya sekedar pusing mereka-reka kata-kata apa yang akan aku ucapkan kepada kamu.

Selanjutnya kamu tahu apa yang terjadi. Aku menyatakan cinta lewat pesan di Facebook.

Hahahahaha.

Lengkap dengan poin-poin. Lebih mirip materi presentasi daripada pernyataan cinta. Dan kamu selalu bilang kalau itu adalah pernyataan cinta paling bodoh yang pernah diungkapkan seorang pria dalam sejarah dunia.

Hahahahaha.

Kamu pernah bilang, jika kamu tidak pernah menjumpai aku secara langsung di dunia nyata, besar kemungkinan kamu akan membalas pesan di Facebook itu dengan umpatan dan makian. Karena bagimu cukup menakutkan jika ada laki-laki yang tidak pernah kamu jumpai lalu tiba-tiba menyatakan perasaannya lewat akun social media, dan menuliskannya dengan poin-poin seperti orang ingin menulis skripsi saja.

Meski keesokan hari ketika kita bertemu, kamu tertawa terbahak-bahak hampir 10 menit, sedangkan aku hanya terdiam berusaha tertawa tapi dengan hati yang getir, akhirnya pada tanggal itu kita memutuskan untuk tidak lagi sekedar teman dekat. Kita sepakat untuk mencoba membawa hubungan kita kala itu ke level yang lebih dalam, yaitu sepasang kekasih.

Ketika kemudian kamu beberapa kali bertanya, mengapa aku mencintaimu, aku pun membuatkan puisi yang kemudian akhirnya menjadi sebagian lirik dari sebuah lagu yang aku ciptakan untuk ulangtahunmu yang ke 24. Dan lagu itu adalah lagu yang selalu membawamu kembali kepadaku di kemudian hari. Nanti aku akan menuliskan kisah itu di lembar-lembar yang berikutnya.

Puisinya seperti ini.

Mungkin senyummu,
yang membuat hati ini lirih berucap,
“Aku ikatkan diri ini sepenuhnya untukmu.”
Tapi bukan itu.

Mungkin sinar matamu,
yang memantulkan segenap indahmu,
bak selukis indah karya tangan keabadian.
Tapi bukan itu.

Kamu memang indah,
hanya insan buta yang akan menepis semburat pesonamu,
hanya hati yang dingin yang tak sudi menggenggam hangat jiwamu.
Yang tak terlihat, justru itu yang memikat.

Meski sejuta indahmu dirangkaikan satu persatu,
tapi bukan itu alasan kumeniti jalan kembali ke hatimu.
Mungkin semata-mata karena aku milikmu.
Hari ini, besok, lusa dan sampai akhir cerita.

Untuk alasan itu,
aku mau dirimu.

Baiklah. Aku akan melanjutkan tulisan ini kembali esok hari. Tidurlah dengan nyenyak, Dinda tersayang.

Written by Rolan Sihombing

November 3, 2013 at 6:00 pm

Posted in Cinta, Fiksi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: