Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Tentang Kita (Bab 2)

leave a comment »

Kali ini apa yang akan aku tulis ya. Oke, yang pasti aku masih akan menulis tentang kali pertama aku berkenalan dengan kamu. Lagipula seluruh tulisan ini memang tentang kamu. Tentang kamu yang sudah mewarnai hidupku begitu lama. Meski kamu tak jarang datang dan pergi, tetapi kamu selalu hadir lagi dalam hidupku. Selalu tiba-tiba dan tidak pernah diduga, seperti pencuri yang merampas seisi rumah tanpa pemberitahuan. Tetapi aku suka itu. Spontanitasmu dalam segala hal yang selalu bisa mencerahkan hari mendung sekalipun. 

Termasuk ketika suatu siang itu aku mampir ke toko roti Mama untuk menyampaikan undangan perkawinan anak Bapatuaku. Aku sebenarnya kaget ketika aku membuka pintu toko, pintu toko bertuliskan “Closed” sedangkan hari masih siang, dan biasanya Mama jarang sekali menutup toko meski hari Minggu sekalipun. Beberapa kali aku bahkan sempat berteriak memanggil Mama dan pegawai-pegawai Mama, tapi tak satupun menyahut. Ketika aku menuju ruang kantor toko, aku mendengar suara orang-orang tertawa terbahak-bahak. Dan ternyata seisi toko pindah ke kantor Mama untuk melihatmu melakukan kelihaianmu bermain Dart.

Harus aku akui, kamu sangat terampil memainkan Dart. Bahkan dalam keadaan mabuk sekalipun, kamu bisa melemparkan panah-panah kecil tepat ke tengah sasaran. Kehebatanmu itu yang membuatku seringkali berpikir jangan-jangan kamu keturunan Robin Hood. Dan siang itu kamu melemparkan dart dengan mata tertutup. Tak heran semua pegawai toko, termasuk Mamaku yang gila kerja, tertawa heboh sambil bertepuk tangan dengan riang gembira.

Ckckckck.

Seketika suasana pesta dadakan itu berubah karena Mama menyadari kedatanganku. “Eh Rav, sudah lama kau datang, Amang?”

“Udah dari tadi kok Ma,” kataku sambil menatap kamu yang terlihat berbeda sekali dari pertemuan kita yang pertama. Waktu pertama itu, kamu menangis dengan mascara yang hampir lumer di sekujur pipimu. Sedangkan kali kedua di di ruangan kantor Mama itu, kamu sangat ceria, dan senyum kamu sangatlah lebar dan membuat aku terpana sampai lupa kamu sudah menyodorkan tanganmu untuk berkenalan denganku.

Sambil membuka penutup mata berwarna merah marun yang kamu kenakan saat bermain Dart, kamu berkata dengan suara yang menggemaskan, “Hai, namaku Dinda. Kamu Raven kan? Maaf ya kemarin itu aku menyangka kamu pelayan toko sehingga aku sedikit gak sopan ke kamu. Dimaafkan gak nih?”

Aku masih ingat menyambut tanganmu dengan keraguan. Bukan karena aku tidak ingin berkenalan denganmu tapi aku masih takjub dengan toko roti Mama yang tiba-tiba sepi. Ditambah lagi seluruh karyawan toko, sampai para baker juga ikut-ikutan nimbrung di ruangan kantor Mama, hanya demi melihat seorang wanita dengan mata tertutup melemparkan panah-panah Dart tepat pada sasaran. Hari itu aku berpikir apakah Mama dan seluruh karyawan sedang stress menggila sehingga merasa perlu dihibur dengan aksi akrobatmu itu.

Oya ngomong-ngomong, kamu cantik sekali hari itu. Aku masih ingat sampai hari ini pakaian yang kamu kenakan, kemeja lengan pendek berwarna putih dengan dilapisi cardigan berwarna kesukaanku, warna hijau pastel. Tetapi yang menarik darimu hari itu adalah sebuah kamera LSR menyembul keluar dari tas ransel National Geographic yang adalah tas paling berharga dalam hidupmu. Berulang kali aku membawakanmu tas ransel National Geographic yang baru, karena kebetulan sahabatku bekerja di sana. Tetapi kamu selalu menolaknya karena kamu terlalu mencintai tas ransel lusuhmu itu.

“Dinda ini cucunya Guru SD Mama dulu waktu di Siantar lho ternyata Rav. Dunia sempit ya,” kata Mama memecah kesunyianku yang sedang terpana melihat kecantikanmu, dan tentu saja tas ransel dan isinya itu.

“Kata Namboru, Abang kerja di Majalah Futbal ya?”

“Iya.”

“Udah lama Bang?”

Aku masih terkesima dengan parasmu yang ternyata cantik juga kalau tidak bercucuran air mata.

“Bang, kok diam?”

“Oh kenapa tadi? Oh iya, aku sudah tiga tahun inilah kerja di Futbal.”

“Sibuk hilir mudik dong ya?”

“Lumayan. Kamu pernah baca Futbal?” tanyaku memperhatikanmu dari ujung rambut sampai ujung kaki.

“Aku ini pelanggan Futbal nomer satu, Bang. Hellow,” katamu sambil mengikat rambut panjangmu yang hitam dan harum itu.

“Wah, beruntunglah ya Futbal memiliki pelanggan secantik kamu.”

“I know.”

Itulah kelebihan kamu. Selalu percaya diri. Meski tak jarang kamu selalu pura-pura percaya diri. Aku tahu betul tatapan matamu ketika kamu mengatakan “baik-baik saja” padahal kamu tidak sedang baik-baik saja. Ketika kita semakin mengenal dengan dekat, aku semakin memahami mengapa kamu seringkali berpura-pura percaya diri. Ya hidupmu penuh dengan tantangan, khususnya tantangan secara emosional.

Aku ingat hari itu, kita habiskan satu hari di pojok toko roti Mama. Kamu dengan green tea lattemu dan blueberry cheese cake. Sedangkan aku kopi hitam kental dan kacang asin. Hanya dengan itu, kita bisa habiskan berjam-jam berbicara panjang lebar.

Hari itu aku tahu, kamu lulusan S1 dari sebuah perguruan tinggi negeri di Jakarta. Meski bukan cum laude, tetapi IPK kamu sangatlah mencengangkan. Berbeda dengan aku yang beruntung bisa lulus kuliah. Mungkin aku diluluskan karena istri Rektorku kebetulan pelanggan setia bolu gulung Mama yang kebetulan tak tahan juga mendengar curcol si Mama yang mengeluhkan betapa santainya dan ogah-ogahan aku untuk menyelesaikan kuliahku.

Kamu sedang merintis event organizer kecil-kecilan bersama teman-temanmu. Sebuah pekerjaan yang memang sangat cocok dengan passionmu, meski pekerjaan ini yang menjadi sumber air mata yang sering kamu teteskan di hadapanku.

Kita memiliki selisih umur yang tidak terlalu jauh berbeda. Kamu 23 tahun kala itu, sedangkan aku 29 tahun dengan tampang seperti anak 20 tahun. Aku berulangtahun di bulan September, dan kamu juga. Mungkin karena itu kita sangat mudah nyambung.

Kesamaan kita selain bulan kelahiran adalah golongan darah kita yang B. Kamu selalu bangga dengan golongan darah itu, karena menurut kamu golongan darah B adalah golongan orang kreatif dan tidak ingin dikekang. Tapi golongan darah B juga, kita maksudnya, adalah orang-orang yang memiliki rasa solidaritas yang tinggi dibanding golongan darah yang lain. Menurut kamu kita adalah tipe-tipe orang yang rela menerima peluru yang ditembakkan orang lain agar orang yang tadinya menjadi sasaran tembak tidak terkena peluru.

Selain itu kesamaan kita hanya ada di fotografi, film, dan Coldplay. Kita memiliki hobi fotografi yang sama. Kita bahkan sering traveling bersama dan berburu obyek foto, walau meskipun akhirnya kartu memory aku selalu hanya penuh dengan foto-foto kamu.

Meskipun genre film kita berbeda, tetapi kita maniak film. Seringkali kita menonton 4-5 DVD setiap malam minggu di rumahku ataupun di rumahmu. Setiap ada film terbaru dirilis di bioskop, kita akan berupaya untuk menontonnya bersama. Jika kebetulan aku sedang bertugas, biasanya begitu aku sampai Jakarta pasti beberapa hari kemudian kita pergi menonton bersama.

Sedangkan Coldplay, seperti yang kamu bilang, generasi mendatang harus berterima kasih kepada Tuhan karena Ia pernah membentuk sebuah Band hebat bernama Coldplay.

Dan bagiku tidak ada lagu dari Coldplay yang paling tepat untuk menggambarkan dirimu selain Yellow.

Selebihnya, kita adalah orang yang sangat berbeda. Aku orang yang serius, sedikit bicara sedangkan kamu banyak bicara dan selalu bisa membuat segala sesuatu menjadi ceria.

Kamu begitu terorganisir dengan barang-barangmu, hingga seringkali kamu tahu kalau aku baru saja membuka-buka tas kamu untuk meminjam sisir kamu. Kamu masih ingat kan rambutku agak sedikit gondrong ketika kita pertama kali bertemu. Meskipun aku berusaha keras untuk tidak meninggalkan jejak-jejak berantakan di tasmu dengan berhati-hati mengambil sisirmu yang akhirnya menjadi sisirku, kamu selalu tahu aku baru saja membuka tasmu.

Aku kebalikannya kamu. Aku begitu berantakannya sehingga seringkali lupa dimana aku meletakkan KTP atau kartu ATM. Sudah berapa kali bahkan aku menghilangkan karcis parkir tanpa sengaja, karena aku punya kebiasaan buruk meletakkan karcis parkir di saku celana yang sama dengan uang receh. Setiap kali aku merogoh saku untuk mengambil uang receh, setiap kali itu pula aku kehilangan karcis parkir.

Kamu berbicara selalu straight to the point, sedangkan aku cenderung berbicara berputar-putar dan sering membuat kamu kesal dan selalu mengatakan, “Intinya apa Bang?”

Kamu gemar berdebat dan berdiskusi. Kamu keukeuh sekali dalam mempertahankan pendapatmu. Pantaslah memang jika kamu sewaktu kuliah juara debat tingkat nasional. It is in your blood! Sedangkan aku selalu menghindari konflik dan perdebatan tentunya. Bagiku cukup 2-3 kali beradu pendapat, dan selebihnya aku akan mengangkat bendera putih pertanda kamu dan pendapatmu yang juara.

Kamu memiliki suara yang indah, bahkan marah sekalipun suara kamu masih terdengar sangat merdu. Aku masih heran mengapa kamu tidak lolos ajang kontes menyanyi di televisi swasta itu. Padahal siapa pun yang mengenal kamu selalu mengakui merdunya suaramu, termasuk Edgar.

Hahaha.

Sedangkan aku, bersuara bariton yang dalam. Papa suatu kali pernah menelepon ke rumah dan kebetulan aku yang mengangkat telepon itu. Papa sampai harus menutup telepon karena dia mengira salah sambung diakibatkan ada suara bariton yang ia dengar di ujung telepon.

“Ini rumah Pak Panjaitan?” tanya Papa.

“Iya, ini Papa?”

“Lho ini kamu Rav?”

“Ya iyalah! Papa ihh, masa suara anaknya gak dikenali sih?”

“Papa pikir salah pencet nomer telepon. Ya sudah mana Mamamu.”

Suaraku yang begitu berat membuatku sulit sekali menyanyikan lagu-lagu yang memiliki jarak oktaf yang lebar. Sedangkan kamu, hampir semua lagu kamu kuasai dengan sempurna. Sehingga tak heran jika kita karaoke, skor kamu selalu lebih tinggi daripada skor yang aku dapatkan.

Kita begitu berbeda secara karakter dan perilaku. Tetapi itu yang membuat aku begitu menyukaimu. Kamu melengkapi aku, dan kamu pasti setuju jika aku pun melengkapi kamu. Setidaknya kamu menemukan orang yang tak terorganisir untuk kamu atur dan rapikan.

Hehehe.

Hari itu aku tahu tempat tinggalmu, dan itu karena Mama memaksa-maksa aku untuk mengantarmu ke rumah dengan alasan agar orangtua kamu bisa menikmati bolu gulung lapis keju andalan Mama.  Hari itu juga, kita pertama kali berbicara lama, dan hari itu aku pertama kali mengantarkan kamu ke rumah. Sesuatu yang kemudian kita lakukan sangat sering dan dalam waktu yang lama.

Seusai mengantarkan kamu, Mama di rumah bercerita bagaimana kejadiannya sampai kamu ada di ruang kantor Mama beserta seluruh karyawannya melihat kamu bermain Dart. Rupanya hari itu beberapa oven rusak sehingga produksi roti agak sedikit terganggu. Ketika Mama hendak menutup toko sementara, kamu tiba-tiba datang ke toko dan memohon untuk diizinkan masuk ke toko.

Mama mengatakan kamu masuk toko dengan mata sembab dan bibir yang biru sedikit keunguan. Karena Mama kasihan dan takut terjadi sesuatu yang tidak baik terhadapmu, maka ia pun mengizinkan kamu masuk ke toko. Akhirnya Mama dan kamu sempat berbincang-bincang, termasuk tentu saja Mama membicarakan aku apalagi setelah Mama mengetahui kamu boru Batak, dan cucu Guru SD-nya pula. Aku yakin Mama juga menunjukkan koleksi bendera negara-negara yang aku sudah kunjungi yang ada di ruangannya. Di situlah kamu melihat papan Dart yang aku beli sewaktu meliput pertandingan sepakbola di London. Dan singkat cerita kamu akhirnya menunjukkan kepiawaianmu bermain Dart sehingga Mama merasa perlu memanggil semua karyawan ke kantornya.

Di akhir pembicaraan Mama tentang kamu malam itu, Mama lalu berkata, “Rav. Kalau Dinda masih belum punya pacar, kau pacarilah. Dia boru Batak. Sopan. Baik hati. Dan cantik pula.”

Aku hanya tersenyum tipis mendengar pernyataan Mama. Sudah tak terhitung seberapa sering Mama selalu berusaha menjodohkan aku dengan beberapa boru Batak sebelum pertemuan kita. Tapi tak satupun yang nyangkut di hati.

Dinda, pikirku sambil berusaha mengingat garis wajahmu sebelum aku jatuh tertidur dan bermimpi tentang kamu malam itu.

Terima kasih sudah memutuskan untuk datang lagi ke toko roti Mama hari itu. Bahkan lebih gilanya lagi, kamu memutuskan untuk menghibur Mama dan karyawannya dengan bermain Dart sambil mata tertutup. Aku yakin tidak akan ada cerita tentang kita di hari-hari berikutnya jika kamu tidak mampir lagi ke toko hari itu. Dari sekian café dan toko roti yang ada di Jakarta Selatan, kamu memutuskan mampir ke toko keluargaku; dan mampir dalam kehidupanku.

Periode kehidupan yang kemudian aku nikmati dengan penuh tawa dan airmata juga bersamamu.

Baiklah, cukup untuk kali ini tulisanku. Kamu bisa lanjutkan kembali membaca kisah-kisah berikut yang ingin aku ceritakan. Kisah yang akan membuat kamu tersenyum.

Tetap dibaca ya.

Written by Rolan Sihombing

November 3, 2013 at 12:44 pm

Posted in Fiksi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: