Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Tentang Kita (Bab 1)

leave a comment »

Entah bagaimana memulai menceritakan kisah ini. Bukan karena aku tidak mahir menulis. Kamu tahu merangkai kata-kata adalah kemahiranku. Tetapi karena kisah ini terlalu rumit untuk dimengerti. Terlalu pahit untuk ditertawakan. Terlalu indah untuk ditangisi dan disesali.

Tapi aku akan mencobanya. Karena tulisan ini untukmu. Kelak bacalah sesekali agar kamu bisa mengetahui betapa berartinya kamu untukku.

Namaku Raven. Entah kenapa aku dinamai dengan nama yang berarti burung gagak, mungkin saja ketika aku lahir Papa melihat burung gagak sedang bertengger di lokasi proyek jalan yang sedang ia kerjakan di pedalaman Kalimantan. Aku lahir dan dibesarkan di keluarga Tapanuli. Papaku seorang pegawai negeri sipil yang berdedikasi hingga akhir hayatnya. Sedangkan Mamaku adalah seorang ibu rumah tangga. Setelah aku dan abang serta kakakku bisa ditinggal, Mama kemudian mulai merintis toko roti yang kemudian cukup sukses sekarang. Kamu tentu tahu toko roti mana yang kumaksud kan? 

Waktu awal-awal toko roti itu berdiri, Mama selalu bangun pagi-pagi buta dan tidur larut malam. Ketika aku SMP, beberapa kali aku sempat mendengar suara pertengkaran antara Mama dan Papa. Mama pernah bercerita, di depan kamu juga, kalau pertengkaran mereka dikarenakan kesibukan mereka berdua sehingga mereka sulit untuk berkomunikasi. Tetapi untungnya Papa dan Mama selalu berbaikan meski mereka usai bertengkar hebat sekalipun. Dan adegan yang sama selalu kulihat di pagi hari sehabis mereka bertengkar di malam hari adalah Mama memasangkan dasi Papa sebelum Papa pergi bekerja. Dan tentu adegan si Abang makan nasi goreng buatan Mama dengan lahapnya hingga butiran nasi menempel di sekujur pipinya. Kamu masih sering melihat Abang makan celemotan kan hingga sekarang meski dia sudah punya empat anak?

Lalu tanpa pernah aku duga, suatu pagi Papa terkena serangan jantung. Meski Papa sempat koma beberapa hari, tapi kemudian Tuhan berkehendak lain. Papa meninggal di usia yang relatif muda meski sekarang rata-rata pria-pria di Jakarta dan kota besar lainnya meninggal pada usia yang sama seperti almarhum Papa. Kamu yang mengatakan itu, karena kamu menyukai angka, statistik, rumus dan semua yang berhubungan dengan angka. Tidak seperti aku yang hanya tahu menghabiskan angka.

Hanya Abang yang mengikuti jejak Papa bekerja di bidang konstruksi. Sedang kakakku lebih sering membantu Mama menangani toko-toko rotinya yang sudah bertebaran di mana-mana. Aku sendiri? Aku jadi kuli tinta di sebuah majalah olahraga. Aku menyukai pekerjaan ini, karena aku bisa meliput pertandingan sepakbola di seluruh dunia. Kamu tahu kan sejak kecil aku bermimpi menjadi pemain bola, tetapi karena cidera aku terpaksa berhenti bermain sepakbola. Lagipula siapa yang tahan menghadapi omelan Mama yang selalu gusar mendengar rengekanku untuk bermain sepakbola bersama teman-teman. Ketika Mama tahu aku diterima bekerja di Majalah Futbal, hampir tiga hari aku diceramahi olehnya. Untung akhirnya dia mengerti dan mengizinkan anak bungsunya mengambil karir sebagai jurnalis. Buktinya dia selalu minta dibawakan pernak-pernik dari negara-negara yang aku datangi seusai tugas liputanku di negara-negara tersebut.

Lalu suatu siang; aku selalu ingat siang itu. Bukan karena aroma jahe yang memenuhi toko roti Mama akibat bubuk jahe untuk adonan roti Mama tumpah berantakan di dapur, kamu kan benci aroma jahe, tetapi karena seorang wanita muncul di toko roti Mama saat aku mengantarkan titipan pernak-perniknya. Wanita itu muncul dengan celana legging warna hitam, yang menutupi seluruh kakinya. Dia mengenakan sepatu kets berwarna hijau yang sedikit lusuh, lalu memakai jaket kuning Lakers dengan headset Marshall warna putih yang menutupi rambut panjangnya yang lurus dan hitam. Aku selalu ingat kata pertama yang diucapkan orang itu kepadaku dan dia mengucapkan kata-kata itu karena pasti mengira aku adalah pelayan toko. Padahal aku anak pemilik toko roti. Sialan.

“Selamat siang. Mas, saya pesan green tea latte satu dan blueberry cheese cakenya ya.”

Wanita itu adalah kamu. Datang tergopoh-gopoh, dengan musik R&B yang sayup-sayup terdengar dari headset yang bertengger di kepalamu. Entah seberapa keras volume musik di pemutar MP3 milikmu itu, hanya Tuhan yang tahu. Tidak hanya itu, kamu pun berbicara dengan cepat tanpa memandang lawan bicaramu yang jelas-jelas tidak berseragam pegawai toko. Waktu itu di leherku bertengger kamera yang selalu kubawa kemana-mana setiap kali aku meliput pertandingan sepakbola. Saking kesalnya aku dengan gayamu yang sedikit sengak, aku pun memutuskan untuk mengantarkan pesananmu ke meja di pojok toko roti Mama. Meja di pojokan yang selalu jadi pilihanmu di kunjungan-kunjungan kamu berikutnya. Keputusan itu menjadi keputusan yang kemudian merubah hidupku. Dan merubah hidupmu juga.

Aku nyaris saja mengeluarkan kata-kata sarkastikku ketika hendak meletakkan pesananmu di meja, tetapi itu tidak aku lakukan karena aku melihat kamu buru-buru menghapus tetesan air mata dengan tissue yang kamu keluarkan dari tas ranselmu yang besar itu.

“Siang Mbak, ini pesanannya. Satu green tea latte dan satu blueberry cheese cake,” kataku sambil melirik kamu yang masih sibuk menghapus air matamu.

“Oh iya Mas. Makasih ya.”

“Ada lagi yang bisa saya bantu Mbak? Mungkin membawakan tissue lebih banyak?” Aku bermaksud baik sebenarnya waktu itu bukan untuk menyindir kamu. Tapi seusai aku mengatakan itu, mata indahmu tiba-tiba membelalak dan aku mendengar suara yang lebih tepatnya seperti suara orang menyalak.

“Mas, jangan kepo ya. Sok berbaik hati banget! Just leave me here all alone, Ok!”

Galak banget kayak si Edgar di rumah, pikirku kala itu. Memang kalau kamu marah dan emosional, kadang-kadang kamu sangat persis dengan Edgar, anjing Doberman di rumahku. By the way, Edgar merindukanmu, asal kamu tahu.

Hehehe.

Aku ingat sekembalinya aku mengantarkan pesananmu ke meja, Mama menampar pipiku dengan pelan sambil berkata, “Rav, kamu ini ya tengil banget sih. Kamu tahu kan pelanggan itu adalah raja. Kalau kamu tengil seperti itu, besok-besok dia gak datang lagi, terus kamu mau mencarikan pengganti pelanggan yang kamu hilangkan karena ketengilanmu itu?”

“Issh, Mama. Aku kan kasihan melihat dia menangis sendirian di situ. Ya siapa tahu dia butuh tissue lebih banyak, jadi aku menawarkan tissue ke RATU kita itu,” kataku sambil melirik ke arah kamu yang masih sibuk dengan tissue di tangan kananmu. “Siapa tahu besok-besok dia bawa teman-temannya yang lain dan yang lebih galau. Kan lumayan toko Mama nanti bereputasi, Café Galau.”

“Ah dasar anak kurang ajar kau. Sudah pergi sana, badanmu bau asem. Mandi dan jangan lupa kau mandikan Edgar,” kata Mama sambil menutup hidungnya yang tak tahan dengan bau badanku yang baru saja dari bandara kala itu.

“Ya sudah ya Ma, aku pulang dulu. Hati-hati ada perempuan galau di pojokan tuh,” kataku sambil melirik ke arah meja tempat kamu duduk. Aku pun keluar dari toko roti Mama sambil melirik kamu, dan kala itu matamu sempat bertemu pandang dengan lirikanku. Entah apa yang ada di benakmu, tapi mungkin kamu baru saja menyadari kalau aku bukan pelayan toko. Apalagi ketika Mama dengan suara Tapanulinya berteriak memanggilku untuk mengingatkan aku membeli makanan anjing untuk si Edgar, sepertinya kamu semakin menyadari kalau ternyata kamu bukan berbicara dengan pelayan. Tapi ketika tatapan mata kita bertemu untuk yang pertama kali, harus aku akui kalau aku tertarik dengan bola matamu yang indah itu.

Itu bagian pertama dari semua kisah yang ingin aku ceritakan padamu. Sekarang kamu tidur dulu. Besok lanjutkan membaca bagian yang kedua. Oke?

Written by Rolan Sihombing

November 2, 2013 at 4:24 pm

Posted in Fiksi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: