Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Segala Sesuatu Akan Baik-baik Saja

with 2 comments

Hari ini saya memecahkan gelas secara tidak sengaja. Dikarenakan terburu-terburu keluar dari kursi kantor untuk menghadap pimpinan, kaki saya tersandung kabel laptop dan gelas yang kebetulan berada dekat dengan laptop yang hampir jatuh pun akhirnya menggelinding terjun bebas dan pecah berkeping-keping. Tidak hanya pecahan kaca yang harus dibereskan, tetapi bau bubuk kopi hitam yang kental dan semerbak di seluruh ruangan kerja saya pun harus ditangani. Sapu dan kain pel kemudian menjadi teman saya dalam membereskan kekacauan yang sudah terjadi. 

Saat saya membereskan kekacauan yang sudah terjadi, pikiran saya pun melayang merenungkan kekacauan-kekacauan dalam hidup manusia, khususnya hidup saya, dan saya tiba pada kesimpulan: Tak jarang kekacauan-kekacauan tersebut timbul karena kecerobohan dan ulah saya sendiri. Tetapi meskipun sebegitu parahnya kekacauan yang terjadi, cepat atau lambat kekacauan-kekacauan tersebut terselesaikan seperti saya memberesi pecahan gelas yang tersebar ke seluruh ruangan dan juga mengepel lantai yang penuh dengan tumpahan sisa bubuk kopi kental hitam yang saya minum beberapa jam sebelumnya.

Apa makna dari kejadian ini?

Kita tidak bisa menghindari sebuah konflik ataupun sebuah kegagalan. Selalu akan tiba ketika semua mungkin berjalan dengan baik, setidaknya menurut kita, lalu karena sebuah kesalahan kecil yang sengaja ataupun tidak sengaja kita lakukan, semua ketenangan tersebut berubah menjadi kekacauan yang tidak pernah kita duga dan kemudian menyebabkan pelbagai masalah-masalah yang lainnya.

Ayah saya kerapkali menyatakan ketika saya remaja, saat kita menghadapi sebuah kekacauan yang kedatangannya tidak pernah kita duga-duga yang kemudian pula menyebabkan “kerugian” secara emosional dalam hidup kita, hal terpenting yang kita lakukan adalah jangan pernah menyalahkan orang lain meski orang lain itulah yang sesungguhnya bersalah. Periksalah dirimu sendiri, dan jangan-jangan sebenarnya kekacauan itu disebabkan oleh kecerobohanmu sendiri. Demikian kata Ayah.

Ketika saya menghadapi semua momen-momen kekacauan dan masalah dalam hidup, saya sering mempersalahkan orang lain. Ada satu kesombongan tersembunyi dalam diri saya yang membuat saya tidak mau menudingkan jari itu ke arah saya sendiri. Dan ketika saya melakukan itu, justru yang saya dapat adalah kehidupan yang semakin berlarut-larut dalam masalah yang lebih pelik berikutnya. Contoh ketika saya harus mengubur impian menjadi pemain bola dan kemudian mendapati saya menjadi remaja cacat yang berjalan pincang, maka seringkali saya menyalahkan tetangga saya yang kebetulan adalah teman satu tim saya yang kebetulan pada hari ketika saya mendapatkan cidera adalah orang yang melakukan tackling secara brutal terhadap saya. Tragisnya orang yang dipersalahkan tidak mengindikasikan perasaan menyesal atau merasa bersalah. Ia tetap tenang-tenang saja melakukan aktivitas hidupnya. Semakin keras saya menuding dia sebagai biang kerok permasalahan, justru semakin berbahagia rasanya ia menjalani hidup.

Kemudian saya menuruti nasehat Ayah saya. Saya mulai introspeksi diri dan kemudian jawaban yang saya dapatkan bukan hanya sekedar saya adalah yang orang yang bersalah. Jauh lebih mulia dari itu, saya malah mendapati jawaban atas kecacatan saya karena itu semua bagian dari rencana Tuhan yang begitu mulia dalam hidup saya. Dan semakin saya berada di masa depan bersama Tuhan, semakin saya dengan mudah melihat kembali ke belakang alasan mengapa saya harus mengalami masa-masa kelam di usia remaja itu.

Sahabat, ketika hal-hal yang tidak diinginkan terjadi dalam hidupmu, berhentilah menudingkan jari-jarimu kepada orang lain. Alih-alih membenci orang yang sebenarnya menyakiti kita, cobalah merenungkan apa kontribusi kita dalam peristiwa itu. Jangan-jangan karena kecerobohan kita maka kita mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan tersebut. Jangan-jangan karena ketidakmatangan kita dalam mengambil keputusan sehingga kesialan itu terjadi. Jangan-jangan bahkan karena nafsu duniawi kita sehingga kita mengalami gelap mata dan kemudian melakukan hal-hal yang tak sepantasnya kita lakukan.

Dan percayalah pada saat kita berhenti menyalahkan orang lain, pada saat itulah Tangan Yang Tersembunyi akan menunjukkan pembelaanNya. Ia akan mengambil sapu dan membersihkan semua tumpahan yang berserakan dan penuh kekotoran. Ia akan diam dan tidak sekalipun menghakimimu seperti orang lain mungkin akan dengan mudah dan senang hati melakukan itu pada kita. Ia akan bekerja membereskan semua dampak dari kecerobohan kita dan kemudian memastikan kepada kita bahwa semuanya akan baik-baik saja, selama kita berikhtiar untuk lebih berhati-hati menjaga hidup kita sesuai dengan keinginanNya.

Roma 8:28 dalam terjemahan sehari-hari mengatakan,

Kita tahu bahwa Allah mengatur segala hal, sehingga menghasilkan yang baik untuk orang-orang yang mengasihi Dia dan yang dipanggil-Nya sesuai dengan rencana-Nya.

Segala sesuatu akan baik-baik saja. Percayalah.

(NB: I am sorry for the trouble)

Written by Rolan Sihombing

October 16, 2013 at 5:53 pm

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Trus gimana laptopnya ? (ˆ▽ƪˆ)нiнiнi

    Bayu Soepono

    October 16, 2013 at 6:53 pm

  2. “laptopnya” semoga ga apa2, jauh lebih berharga dari sekedar “gelas” yang pecah.

    sayang banget sama si “laptop” teh..

    Rolan Sihombing

    October 16, 2013 at 7:03 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: