Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Connecting The Dots

leave a comment »

Steve Jobs, pendiri Apple Inc pernah mengatakan seperti ini:

You can’t connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future.

Selama satu minggu ini saya dan teman-teman di kantor melakukan proses learning dan refleksi mengenai apa yang sudah terjadi dalam satu tahun terakhir ini. Dan kesimpulan yang didapat selama implementasi program setahun kemarin adalah bekerja di tengah masyarakat untuk memampukan masyarakat setempat menyadari dan mengupayakan terwujudnya kepentingan yang terbaik untuk anak adalah seperti membuat titik-titik di tengah komunitas dimana titik-titik tersebut jika dilihat dari konteks kekinian tak ubahnya seperti titik-titik acak yang tak beraturan dan berbentuk. Yang kemudian jika mengacu pada apa yang dikatakan Steve Jobs bahwa titik-titik acak itu entah bagaimana caranya akan saling terhubungkan di masa yang akan datang ketika masyarakat yang dilayani melihat ke belakang dan merefleksikan apa yang sudah dikerjakan oleh teman-teman dan saya selama ini di Manggarai.

Demikian pula hidup.

Semasa remaja saya tidak pernah membayangkan bahwa suatu ketika saya harus merendahkan harga diri serendah-rendahnya ketika bergelantungan di atas sebuah angkot di Pekanbaru dan meneriakkan, “Terminal, terminal,” kepada setiap orang yang berdiri pinggir jalan. Secara latar belakang keluarga dan pendidikan,  seharusnya saya tidak boleh bergelantungan seperti itu dan menerima upah seadanya yang dibayarkan dengan uang logam.

Ketika menyerahkan hidup sepenuhnya untuk melayani Tuhan dan menolak tawaran wali kelas untuk berkuliah di IPB lewat jalur PMDK, saya tidak pernah membayangkan jika suatu hari kemudian saya harus masuk ke sebuah ruangan yang dingin dan berhadapan dengan muka seseorang yang juga tidak kalah dinginnya yang berkata, “Saya tidak peduli jika kamu merintis gereja di Pekanbaru, atau di Cilacap, atau di mana pun. Bahkan saya tidak peduli jika kamu mau merintis gereja setan sekalipun, karena saya dan organisasi saya tidak membutuhkan orang seperti kamu. Sekarang keluar dari ruangan saya.”

Ketika kecil dan bermain-main perang-perangan dengan Nana, adik saya; saya tidak pernah membayangkan jika suatu subuh di tahun 2010 saya adalah orang terakhir yang ia harapkan untuk ia jumpai sebelum ia menarik nafas panjang tanda ia kembali ke Rumah Bapa mendahului saya.

Tidak ada satu pun dari titik-titik tersebut yang ketika terjadi bisa saya mengerti. Penghinaan. Penolakan. Dan ditinggalkan.

Tetapi kemudian setelah lewat bertahun-tahun peristiwa itu terjadi, seperti yang dikatakan Steve Jobs, entah bagaimana caranya titik-titik itu kemudian saling terhubung satu sama lain. Semua yang tidak bisa dimengerti pada saat itu terjadi, kemudian menjadi sebuah pengertian yang terang benderang saat ini.

Saya dihina agar kemudian saya mampu berdiri tegak bukan karena kehebatan saya, tetapi semata-mata karena ada sebuah Tangan tak terlihat yang menegakkan kepala saya.

Saya ditolak, disakiti, dan disingkirkan agar kemudian saya mampu tetap mengasihi orang yang sudah menghancurkan kemanusiaan saya sekalipun bukan karena luka yang mereka torehkan tidaklah dalam, tetapi karena ada Kepala yang sudah bermahkotakan duri hanya demi meyakinkan saya betapa Ia mencintai saya apa adanya; sehingga saya pun harus merefleksikan cintaNya yang agung itu kepada siapa pun yang saya temui, baik itu anak-anak, remaja, pemuda, orang-orang pemerintahan, juga termasuk kepada dia yang sangat saya cintai.

Saya ditinggalkan oleh orang-orang yang saya sayangi agar saya bisa menjadi orang yang tidak pernah mengabaikan penderitaan dan tuli terhadap keluh kesah orang bukan karena saya ingin menjadi pahlawan kesiangan, tetapi semata-mata karena setiap detik Kaki yang sudah terpaku di kayu salib itu telah terbukti setia menemani saya menempuh perjalanan kehidupan selama ini.

Jika hari ini Anda tidak mengerti tentang yang saat ini terjadi dalam hidup Anda, percaya saja jika suatu hari nanti ketika Anda melihat ke belakang Anda akan mengalami momen pencerahan dan bisa mengatakan, “Oh ternyata itu maksud sebenarnya. Terima kasih Tuhan.”

Pada akhirnya hidup adalah tentang Dia dan rencanaNya dalam hidup kita yang harus terselesaikan. Bukan begitu?

Written by Rolan Sihombing

October 12, 2013 at 11:44 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: