Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Aku Pulang Segera

leave a comment »

Dalam sebuah wawancara yang beberapa hari lalu saya lakukan, sang pewawancara yang adalah seorang wanita paruh baya dari Filipina menanyakan sebuah pertanyaan yang sebenarnya sering saya dengar dari Mamak-mamak Batak sasak tinggi; dan jika Esther, demikian namanya, bukanlah orang yang bisa menentukan masa depan saya, maka saya akan gerah dengan pertanyaan yang paling saya benci tiga tahun terakhir ini. Pertanyaan itu  adalah:

Why are you still single now?

Sekali lagi jika pertanyaan itu ditanyakan dalam kesempatan yang berbeda, tidak seperti pada kesempatan beberapa hari yang lalu, maka biasanya respon saya cuma tersenyum tipis dengan tatapan mata yang acuh, seperti biasanya jika saya mengisyarakatkan ketidaksukaan pada seseorang. Tetapi karena hari itu semua pertanyaan adalah kunci untuk sebuah masa depan yang jauh lebih baik dari sekarang, maka inilah jawaban saya:

Saya menunggu seorang wanita yang tidak sekedar saya cintai dan membuat saya jatuh cinta berulang-ulang padanya setiap hari. Lebih dari itu saya menunggu seorang wanita yang setiap kali saya menatap matanya, saya tahu saya di rumah. Wanita yang setiap kali tersenyum, dia tidak hanya mencerahkan hari-hari saya, tetapi juga memberikan pesan kalau dengannya saya akan baik-baik saja. Saya menunggu seorang wanita yang akan membuat saya menjadi seorang pria, seorang Kristen, seorang pelayan Tuhan, seorang suami, dan seorang Ayah yang lebih baik setiap hari. Untuk wanita seperti itu, menunggu untuk waktu yang sangat lama pun, akan dengan senang hati saya lakukan.

Entah apa yang merasuki saya sehingga saya bisa menjawab itu dan membuat Esther terpana. Benar-benar terpana dengan mulut yang menganga. Bahkan salah seorang yang juga ikut mewancarai saya pun sempat lama terdiam. Momen kesunyian yang sangat aneh, jika saya mengingat kembali hari itu.

Kesunyian itu kemudian dipecahkan oleh Esther yang kemudian bertanya sambil tersenyum, “Are you in love, Rolan?”

Saya menjawabnya dengan tersenyum, “Yes Esther. I am in love.”

Jawaban yang saya lontarkan kepada Esther itu tentunya tidak datang dengan sendirinya. Banyak sekali pengalaman tidak menyenangkan untuk tiba pada kesimpulan seperti kalimat-kalimat itu.

Wanita yang tepat entah bagaimana caranya akan muncul dengan cara yang tidak pernah diduga. Dia mungkin bisa muncul dari sekedar pertemanan di akun Facebook bertahun-tahun yang lampau. Atau mungkin dia bisa kebetulan ada di antrian kasir yang sama dengan kita. Atau seperti kisah seorang teman yang kemudian menikah dengan wanita yang ia jumpai di ATM.

Cinta, ketika waktunya memang ia harus datang, ia pasti datang. Kedatangannya tidak dalam wujud yang menakutkan ataupun membuat kita merasakan kecemasan yang berlebihan. Ia datang dalam senyum yang hangat yang mana ketika ia datang ruangan yang dingin dan buram sekalipun, seketika menjadi penuh warna dan kehangatan. Ia selalu bisa membuat kita tersenyum dari kejauhan meskipun ia sedang berjalan terburu-buru dengan headset putih Marshall bertengger di kepalanya.

Tapi lebih dari itu, pernyataannya yang paling pedas sekalipun, akan membuat kekerasan kepala kita lumer seketika. Dengan tanpa perlu banyak berusaha, semua keangkuhan seorang pria akan dengan mudah ia runtuhkan lewat kalimat-kalimat yang tidak panjang lebar.

Ia akan membuat kita merasa istimewa hanya dengan mendengar dirinya menyatakan kalimat, “Segala sesuatu ada waktunya.”

Ia membuat semua titik-titik di masa lalu kita akan menjadi begitu jelas makna sesungguhnya.

Ia akan membuat hari esok bahkan terdengar tidak sebegitu menakutkan meski Goliat pun berdiri tegak menantang.

Ya, untuk wanita seperti ini, saya akan menunggu sampai kapan pun. Untuk wanita seperti ini, saya dengan sukarela mengikatkan semua kompleksitas kemanusiaan saya, pikiran, jiwa, emosi, kepadanya. Dan untuk wanita seperti inilah, semua perjuangan dalam hidup akan dengan sukacita saya lakukan tanpa pernah mengeluh satu detik pun.

Untuk wanita seperti ini, saya akan pulang segera ke rumah.

Damn, I miss you!

Written by Rolan Sihombing

October 4, 2013 at 10:37 am

Posted in Cinta, Fiksi, Humaniora, Puisi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: