Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Viva La Vida (Live The Life)

leave a comment »

Hari ini saya menjejakkan kaki kembali ke Bandara Ngurah Rai Bali.  Dan dari sekian Bandara yang pernah saya singgahi, Bandara Ngurah Rai masih memberikan kenikmatan sendiri dalam pengalaman per-Bandaraan. Terlebih sekarang Ngurah Rai bak disulap dengan sangat besar, dengan alternatif kedai-kedai minuman dan makanan yang bertebaran di sana-sini.

Tetapi saya menulis bukan tentang Bandara Ngurah Rai. Ada hal lain yang yang menarik perhatian saya selama saya duduk di sebuah kedai kopi untuk menunggu pesawat saya yang akan membawa ke Jakarta sore ini. Dari balik kaca jendela kedai kopi ini, saya bisa melihat karakter-karakter unik orang-orang yang lalu lalang masuk ataupun keluar dari terminal kedatangan tempat saya duduk membuka laptop saya sekarang. Dalam hemat saya, ada empat karakteristik orang yang bisa dijumpai di Bandara manapun. Dan jika tidak terlalu naif, sebenarnya empat karakteristik yang ada di Bandara adalah karakteristik orang-orang yang bisa kita jumpai di keseharian di luar bandara tentunya. 

Apa saja empat karakteristik orang-orang yang ada di Bandara? Pertama, mereka yang akan berangkat dari Bandara. Kedua, mereka yang baru tiba di Bandara. Ketiga, mereka yang menunggu di Bandara. Keempat, mereka yang bekerja di Bandara.

Mereka yang akan berangkat dari Bandara. Karakteristik khas dari orang-orang yang akan berangkat dari Bandara pada umumnya adalah berjalan terburu-buru dikarenakan mereka harus segera check in. Tak sedikit pula yang berlari tergopoh-gopoh sambil membawa koper ataupun tas ransel mereka. Beberapa orang yang berangkat adalah orang-orang yang berpergian untuk perjalanan bisnis, tapi tak sedikit juga yang berpergian untuk sekedar melakukan perjalanan wisata. Dan tentu saja ada orang-orang yang akan berangkat kembali menuju rumahnya masing-masing setelah mereka melakukan perjalanan bisnis ataupun perjalanan wisata di kota di mana Bandara itu ada.

Bagi mereka yang akan berangkat menuju sebuah tempat baru, entah itu untuk perjalanan bisnis ataupun wisata, ada kekhawatiran yang setidaknya mereka rasakan tentang tempat baru yang akan mereka datangi. Makanannya enak kah? Orang-orangnya ramah kah? Apakah akan ada kesulitan bahasa? Atau apakah ada gangguan cuaca selama berada di tempat yang akan dituju.

Ketidakpastian mengenai tempat yang akan dituju. Penuh resiko. Besar kemungkinan akan mengalami ketidaknyamanan. Tetapi kita harus menghadapinya juga. dan itu adalah konsekuensi logis daripada pergi menuju sebuah tempat yang baru.

Bukankah demikian dengan hidup? Kita tidak pernah tahu persis bagaimana hari esok. Bahkan jangankan hari esok, apa yang terjadi dalam satu menit ke depan pun tidak bisa kita prediksi dan simpulkan. Yang sering kita lakukan, seperti orang-orang yang akan pergi dari bandara menuju tempat yang baru, adalah melangkah saja dan pergi. Masalah apapun yang akan dihadapi di tempat yang baru, adalah bagian yang tak terpisahkan dari sebuah keputusan untuk melangkah dan pergi yang sudah kita lakukan.

Ayah saya pernah mengatakan, seorang pemenang tidak pernah menyerah dan seorang yang menyerah tidak akan pernah menang. Menaklukkan kesulitan di tempat baru bersama orang yang baru dan juga pelbagai tantangan yang baru, adalah ujian dari sebuah perjalanan meraih kemenangan itu sendiri.

Mereka yang baru tiba di Bandara. Jika mereka yang akan pergi dari Bandara kemungkinan besar berada dalam posisi ketidakpastian mengenai apa yang akan terjadi, mereka yang baru tiba di Bandara agak sedikit berkebalikan. Biasanya mereka lega karena akhirnya tiba di tempat tujuan dari perjalanan berjam-jam duduk di bangku pesawat. Tidak hanya itu mereka biasanya tidak sabaran ingin segera memulai petualangan mereka di tempat yang baru tersebut. Merasakan siraman matahari senja di pantai, ataupun mencicipi kuliner-kuliner khas yang sudah mereka dapatkan informasinya baik di situs-situs di internet ataupun dari kabar burung dari teman-teman mereka yang sudah mencicipinya. Atau juga mungkin ada yang sudah tak sabar menjumpai pacar, kekasih, istri, suami yang sudah menunggu mereka di rumah setelah mereka melakukan perjalanan jauh dari rumah.

Perasaan lega telah mencapai sesuatu adalah tipikal emosi pada umumnya yang mungkin bisa kita simpulkan dari mereka yang baru tiba di Bandara. Lega karena mereka telah menyelesaikan apa yang seharusnya mereka selesaikan. Lega sudah mencapai dan memenuhi ekspektasi dari orang-orang di sekitar mereka.

Dalam satu adegan di film Sherlock Holmes A Game Of Shadows, digambarkan Sherlock Holmes dikepung oleh beberapa berandalan. Lalu kemudian dalam adegan selanjutnya digambarkan Sherlock Holmes menutup mata dan membayangkan semua runtutan adegan perkelahian yang akan dia lakukan untuk menaklukkan berandalan tersebut. Di dalam alam pikirannya ia sudah membayangkan apa yang akan ia lakukan, pukulan apa yang dia akan daratkan, dan berapa gerakan yang ia butuhkan untuk melumpuhkan semua musuhnya itu.

Lalu kemudian ia membuka matanya, dan semua yang sudah ia bayangkan dalam alam pikirannya kemudian ia wujudkan dalam aksi nyata yang kemudian persis sesuai dengan apa yang sudah ia rencanakan di alam pikirannya. Luar biasa! Tentu saja itu adalah film, dan film tentu banyak tipu dan rekayasanya. Tetapi apa yang bisa kita pelajari?

Bayangkan sebuah kehidupan atau pencapaian yang ingin kita alami dalam hidup. Wujudkan semua yang kita bayangkan sekuat mungkin dan semampu mungkin. Jika kita menginginkan sesuatu, semesta pasti membantu. Dan jika semesta membantu, maka cepat atau lambat kita akan mengalami perasaan lega telah mencapai sesuatu dalam perjuangan hidup ini.

Persis seperti orang-orang yang baru tiba di Bandara.

Mereka yang menunggu di Bandara. Beberapa orang ada di Bandara karena ia menunggu kedatangan orang-orang yang harus ia jemput. Mungkin suami, istri, anak, pacar, rekan bisnis, atasan dan sebagainya. Ada pula orang yang menunggu keberangkatan orang-orang yang mereka antar. Dan ada juga orang-orang yang menunggu para penumpang yang baru saja sampai di Bandara untuk menggunakan jasanya seperti portir, supir taksi, petugas money changer, dan agen wisata.

Bagi yang menunggu kedatangan orang-orang yang harus ia jemput tentu mereka mengharapkan kegembiraan yang akan mereka dapatkan dari orang yang mereka jemput. Anak mengharapkan buah tangan dari ayah atau ibunya. Atau orangtua mengharapkan kedatangan anaknya yang mungkin semakin kurus ataupun semakin gemuk. Bagi yang menunggu keberangkatan orang-orang yang mereka antar, tentu menunggu detik-detik berlalu sebelum orang yang mereka antar meninggalkan mereka. Tak jarang mereka melihat jarum jam dengan sedih karena akan berpisah dengan orang yang ia cintai.

Hidup manusia adalah seri dari sebuah penantian yang satu ke penantian yang lain. Setiap kita pasti sedang menanti-nantikan sesuatu yang kita inginkan, harapkan dan rindukan. Menantikan kedatangan cinta yang akan menemani seumur hidup kita. Menantikan kelahiran anak yang sudah lama kita harap-harapkan. Menantikan peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih menjanjikan baik secara karir ataupun secara manfaat finansial.

Ada yang menanti dengan sabar, berjuang tanpa henti untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Seperti kisah Florentina Ariza dalam film Love In A Time of Cholera yang dengan gigih, dan kemudian menjadi sangat terobsesi, menanti cinta Fermina Daza, gadis yang sudah ia cintai sejak masa remaja.  Ada yang sudah terlalu lama menanti dan memutuskan untuk mencari jalan pintas sehingga tidak perlu menghabiskan waktu lebih lama lagi dalam penantian.

Di dalam masa penantian, selalu ada momen dimana kita memutuskan untuk tetap menunggu ataupun kemudian memutuskan menyerah. Tidak ada yang benar ataupun salah dalam hal itu. Hanya kita yang tahu, jika memang yang kita nantikan adalah sesuatu yang sangat bernilai, maka jangan berhenti menunggu. Karena orang yang yakin dengan mimpinya, akan sabar menunggu mimpinya menghampiri dia meski untuk itu ia harus menghabiskan waktu yang lama.

Orang yang bekerja di Bandara. Pernahkah membayangkan jika Bandara yang katakan super megah sekalipun, tetapi tidak ada satu pun orang yang bekerja di sana. Maka Bandara itu tak ubahnya bangunan mati yang tak berfungsi. Bandara tidak hanya berisi orang-orang yang datang dan pergi ataupun yang menunggu, tetapi juga berisi orang-orang yang memastikan orang-orang yang datang pergi dan menunggu ini bisa mendapatkan semua yang mereka inginkan terjadi.

Melayani, itulah tipikal orang-orang yang bekerja di Bandara. Mereka ada di Bandara untuk melayani sebuah sistem transportasi, memastikan kepuasan pelanggan, ataupun menyediakan pelbagai makanan dan minuman yang dibutuhkan oleh para calon penumpang ataupun mereka yang baru saja tiba. Mereka juga memastikan semua sudut Bandara akan bersih dan tertata rapi sehingga semua orang yang menggunakan Bandara dapat merasakan kenyamanan.

Melayani adalah sesuatu yang mulia tetapi juga dapat menjadi sesuatu yang membosankan dan penuh dengan rutinitas tanpa gairah. Seringkali saya mendengar kisah pelayan Tuhan yang kemudian karena sudah kehilangan gairah dalam melayani pekerjaan Tuhan, kemudian undur diri dan akhirnya memutuskan pensiun dari sebuah tugas pengabdian. Tidak salah sebenarnya, tetapi orang-orang yang terpanggil untuk melayani seharusnya sadar betul bahwa ketika ia memutuskan melayani orang, maka pada saat itu juga ia kehilangan semua hak istimewanya.

Petugas cleaning service yang sibuk membersihkan lantai bandara, sudah tahu pasti bahwa seberapa seringnya dia membersihkan lantai suatu saat lantai itu akan kotor kembali, dan suka atau tidak suka ia harus membersihkan kembali lantai tersebut. Ia tidak bisa memarahi orang-orang yang tidak sengaja ataupun sengaja mengotori semua jerih payah pengorbanan pelayanan yang ia lakukan yang mungkin sangatlah merendahkan dirinya sebagai seorang manusia biasa.

Tetapi itulah melayani. Memberikan yang terbaik dari kita untuk kepentingan terbaik orang-orang yang kita kasihi dan layani.

Jadi yang manakah Anda?

Apakah Anda sedang dalam proses menuju sebuah kondisi yang tidak menentu?

Apakah Anda sedang dalam proses berusaha mencapai sesuatu yang ingin Anda alami dalam hidup?

Atau Anda sedang menanti dan menanti?

Atau Anda sedang merasa terhina dan lelah karena semua pelayanan Anda tidak dihargai?

Well…C’est La Vie. That is life. Semuanya itu menjadi tawa dan airmata yang merupakan paket lengkap dari kehidupan. Semuanya penuh keragaman seperti ragamnya orang-orang yang ada di Bandara.

Kalau saya? Saya memilih untuk menikmati hidup, apapun kondisi dan situasi yang saya alami. Karena hidup cuma sekali.

Viva La Vida!

-Bali. Oct 1st 2013-

Written by Rolan Sihombing

October 1, 2013 at 12:33 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: