Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Life Begins When You Start To Live

leave a comment »

Filsuf kenamaan dari Jerman, Arthur Schopenhauer, mengatakan:

The first forty years of life give us the text: the next thirty supply the commentary.

Well, ada benarnya tetapi pun tidak sedikit pula kekurangannya. Bukan karena saya masih empat tahun lagi akan memasuki usia 40, dan saya masih belum berhasrat segera mencapai umur itu, tetapi bagi saya adalah hidup adalah sekumpulan peristiwa-peristiwa parsial yang saling merespon satu sama lain dan yang keutuhannya baru terbaca lengkap ketika sebuah peristiwa dalam cerita hidup memang seharusnya akan terungkap. 

Sebagai seorang yang pernah menulis skenario, ketika saya membuat sebuah cerita untuk seorang tokoh, saya sudah membayangkan keseluruhan hidup dari satu orang tokoh yang akan saya tulis. Ada momen ketika seorang pria misalnya terdiam melihat sebuah senyum yang mempesonanya yang membuat dia jatuh cinta. Ada momen ketika dia harus berupaya sekuat tenaga berjuang merebut hati wanita yang ia cintai. Ada juga momen ketika dia harus terdiam kembali menyadari bahwa usahanya hanyalah sia-sia di atas kesia-siaan. Dan dalam membuat skenario kisah cinta yang seperti itu, sebagai seorang penulis cerita saya sudah membayangkan rangkaian-rangkaian kisah demi kisah yang akan mengarah pada akhir cerita si pria malang tersebut.

Jika dilihat dari sudut pandang seorang penulis, tentu saja hidup bisa dimulai kapan saja. Sebuah momentum yang direspon oleh sang tokoh dalam cerita hidupnya sendiri, akan membentuk momentum baru yang lain, yang kemudian pada akhirnya akan berujung pada sebuah akhir yang memang sudah seharusnya terjadi.

Persis seperti frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It. Katanya, dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan seperti berikut ini:

“All the world’s a stage,
And all the men and women merely players;
They have their exits and their entrances;
And one man in his time plays many parts,
His acts being seven ages. At first the infant,
Mewling and puking in the nurse’s arms;
Then the whining school-boy, with his satchel
And shining morning face, creeping like snail
Unwillingly to school. And then the lover,
Sighing like furnace, with a woeful ballad
Made to his mistress’ eyebrow. Then a soldier,
Full of strange oaths, and bearded like the pard,
Jealous in honour, sudden and quick in quarrel,
Seeking the bubble reputation
Even in the cannon’s mouth. And then the justice,
In fair round belly with good capon lin’d,
With eyes severe and beard of formal cut,
Full of wise saws and modern instances;
And so he plays his part. The sixth age shifts
Into the lean and slipper’d pantaloon,
With spectacles on nose and pouch on side;
His youthful hose, well sav’d, a world too wide
For his shrunk shank; and his big manly voice,
Turning again toward childish treble, pipes
And whistles in his sound. Last scene of all,
That ends this strange eventful history,
Is second childishness and mere oblivion;
Sans teeth, sans eyes, sans taste, sans everything.”

— Jaques (Act II, Scene VII, lines 139-166)

Saya tidak pernah membayangkan akan bertemu seseorang secara tidak terduga, yang kemudian orang tersebut sangat berarti dalam hidup saya. Pertemuan yang benar-benar sangat acak dan tidak terorganisir. Tiba-tiba dia muncul. Tiba-tiba dia pun menjadi bagian yang krusial dalam nyaris separuh hidup saya.

Saya tidak pernah membayangkan sebuah materi rapat yang hanya selintas saja lewat dalam pikiran dan kemudian saya ucapkan ternyata berujung pada sebuah ide brilian bagi sekelompok orang dan bahkan kemarin saya tahu, celotehan saya itu bahkan menjadi lebih besar dari apa yang saya bayangkan dalam benak saya bertahun-tahun yang lalu.

Saya tidak pernah membayangkan buku-buku yang secara acak saya baca hanya untuk mengisi waktu saat malam hari di asrama kampus, kemudian bertransformasi menjadi sekumpulan keahlian yang saya miliki secara spesifik sekarang.

Tetapi apa yang tidak saya bayangkan, lalu menjadi sebuah peristiwa; dan apa yang saya bayangkan, lalu tidak pernah menjadi peristiwa, pada akhirnya selalu berupa misteri. Misteri yang terungkap ketika keseluruhan cerita memang seharusnya diungkap.

Itulah kehidupan, menurut saya. Manis dan getir tidak pernah akan kita duga dan perkirakan.

Lalu apa yang harus dilakukan mengenai hidup? Mengalir saja, seperti air laut yang beberapa saat masih di lautan bebas, tiba-tiba sudah menjadi ombak di bibir pantai. Yang dia lakukan hanya mengikuti angin yang membawanya ke pantai mana pun yang sang angin inginkan.

Dan itu yang akan saya lakukan, mengalir saja.

  • Persetan dengan perencanaan hidup.
  • Lakukan apa yang seharusnya dilakukan. Lakukan sebaik-baiknya.
  • Jadi diri sendiri dan tak perlu mengkhawatirkan apa pun kata orang.
  • Semua peristiwa akan memicu peristiwa yang lain. Jalani saja.
  • Ketika harus berjuang, berjuanglah sekuat tenaga. Ketika harus menyerah, menyerahlah seperti seorang ksatria yang sportif.
  • Cinta akan datang sendirinya dengan cara yang tidak pernah bisa diduga.
  • Dan segala sesuatu akan baik-baik saja ketika semua yang baik menurut kita, sudah kita lakukan.

Life begins at 40? Crap! Life begins when you start to live.

 

-Rolan Sihombing, somewhere!-

Written by Rolan Sihombing

September 23, 2013 at 10:05 am

Posted in Filsafat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: