Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Ayah Dan Aku: Sebuah Memoar (part 1)

leave a comment »

“Yang mana, Nak?”

Melihat kiri-kanan, “Aku bingung, Ayah.”

“Tidak perlu bingung, coba kamu lihat baik-baik,” ayah mengusap kepalaku, “pasti kamu akan menemukan yang kamu suka.”

Masih kebingungan, aku pun terus melihat sekeliling. “Kalau yang itu bagaimana ayah?” kataku sambil menunjuk ke salah satu arah.

“Baik. Ambillah.”

Beberapa saat aku meninggalkan Ayah yang berdiri di belakangku. Sempat aku berpaling ke belakang, dan aku lihat Ayah tersenyum padaku. Senyumnya begitu lebar seakan-akan Ayah hendak berkata betapa Ayah mencintai aku. Tetapi entah kenapa jalan yang kulewati mendadak penuh dengan orang. Bahkan aku sempat tidak sengaja menyenggol orang, dan orang itu memarahi aku.

“Kalau jalan lihat-lihat dong. Matamu kau taruh dimana, Dek?”

“Maafkan saya,” kataku sembari melihat ke belakang. Dan Ayah masih tersenyum begitu lebar kepadaku. Dari kejauhan aku melihat bibirnya bergerak seperti mengucapkan ‘Teruskan, Nak.’

Tetapi akhirnya ketika aku tiba di tempat yang tadi aku tunjukkan ke Ayah, ternyata yang kucari sudah tidak ada. Ia hilang.

Aku pun kembali ke samping Ayah dengan kepala tertunduk. Padahal aku yakin bahwa yang aku tunjuk adalah akan sangat menggembirakan hatiku.

Melihat anaknya tertunduk sambil cemberut, Ayah lalu membungkuk. Tangannya yang kekar tapi lembut memegang daguku sementara tangannya yang satu lagi mengusap-usap rambutku.

“Mengapa kamu cemberut, Nak?”

“Aku sudah pergi ke tempat yang tadi aku tunjuk. Aku tahu kemana aku pergi, aku pasti akan bahagia,” aku mengambil nafas dalam-dalam, karena kekecewaan yang begitu dalam aku rasakan, “tapi ternyata setelah di sana aku dimarahi orang, lalu begitu banyak rintangan yang aku temui. Dan setelah di sana, ternyata yang aku tunjuk tadi sudah tidak ada. Ia menghilang.”

“Tidak usah sedih, Nak. Terkadang kamu tidak bisa mendapatkan yang kamu inginkan.” Ayah kemudian menggenggam tanganku lalu mengajakku berjalan. “Kamu ingat pesan Ayah tadi sebelum kamu menentukan pilihanmu?”

“Lihat baik-baik.”

“Betul. Apakah kamu sudah melihat baik-baik?”

Aku terdiam.

“Ayah tanya sekali lagi; apakah kamu sudah melihat baik-baik?”

“Sepertinya tidak, Ayah.”

“Mengapa kamu tidak melihat baik-baik?”

Aku mendongakkan kepalaku ke Ayah. Ayahku tinggi besar, dan aku ingat ketika aku menonton sirkus, dan aku tidak bisa melihat atraksi sirkus itu dengan jelas, Ayah menggendongku ke atas punggungnya sehingga aku bisa melihat dengan lebih jelas. “Karena aku melihat dari tempat aku berdiri, padahal jika aku naik ke punggung Ayah pasti aku bisa melihat dengan jelas.”

Ayah tersenyum lebar. Lalu tangannya yang kokoh itu mengangkat tubuhku yang kecil ke atas punggungnya. “Seperti ini maksudmu, Nak?”

“Iya, Ayah. Seperti ini.”

“Sekarang apakah kamu melihat kemana yang kamu tunjuk dan kamu suka tadi?”

Aku melayangkan pandangan ke sekelilingku. Dan mataku tiba-tiba menemukan apa yang aku cari-cari tadi. “Iya, Ayah. Itu dia. Lihat Ayah! Aku menemukannya!”

Ayah tertawa terbahak-bahak karena aku melonjak-lonjak kegirangan di atas punggungnya yang kokoh dan kuat. “Iya, Ayah tahu kamu pasti akan menemukannya.”

“Aku menemukannya karena aku duduk di atas punggungmu Ayah.”

“Lalu, apalagi?”

Aku terdiam. Masih terbayang ketika aku meninggalkan Ayah dan berjalan sendirian menuju tempat yang aku tunjuk. Meski Ayah tersenyum ketika aku menolehnya, tetapi bukan apa yang aku inginkan yang aku temui justru aku dimarahi orang.

“Aku menemukan apa yang aku inginkan, ketika aku bersama-sama Ayah.”

Ayah kemudian menurunkan aku dari punggungnya. Sembari tersenyum, ia berjongkok dan mengusap-usap kepalaku dan berkata, “Kamu anak Ayah, dan sudah seharusnya kamu bersama-sama Ayah. Dan Ayah senang melakukan hal-hal bersamamu.”

Sekali lagi Ayah tersenyum. “Sekarang pergilah. Lihat itu yang kamu inginkan, bukan?”

Aku menatap matanya yang penuh kasih. Sambil tersenyum lebar, aku melangkah mendekatinya, “Ayah, ayo temani aku. Lebih menyenangkan jika aku berjalan bersamamu, Ayah.”

Dan Ayah pun tertawa terbahak-bahak.

Kami berdua tertawa terbahak-bahak.

Written by Rolan Sihombing

July 12, 2013 at 2:59 pm

Posted in Fiksi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: