Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Ayah Dan Aku: Sebuah Memoar (part 2)

leave a comment »

Suatu malam tanpa bintang, aku duduk di teras sendirian. Tanpa aku sadari tiba-tiba Ayahku sudah ada di sampingku. Tangannya yang kokoh itu mengusap-usap rambutku seperti biasanya.

“Eh Ayah.”

“Kamu kenapa menyendiri?”

Aku menoleh Ayah. Pandangan matanya seakan-akan menghujam tajam ke dasar hatiku. Tapi pandangan itu begitu menyejukkan.

“Ayah tahu kamu pasti lagi sedih. Iya kan?”

“Ayah sok tahu. Aku baik-baik saja kok.” Kali ini mataku berusaha menghindari tatapan matanya. Karena aku memang menyembunyikan sesuatu dari Ayah. 

“Ya sudah, kalau kamu tidak mau cerita. Ayah di sini aja sambil nemenin kamu daripada duduk sendirian di luar sini.”

Aku ingin cerita sesuatu Ayah, tapi Ayah pasti sedih mendengar ceritaku, teriakku dalam hati.

“Tapi Ayah punya pertanyaan, ” kata ayah tiba-tiba sembari melingkarkan tangannya ke bahuku, “Nak, kamu tahu mengapa orang takut gelap?”

Aku menatap Ayah dengan pandangan bingung.  Ayah tidak pernah sekalipun membuatku bingung atas pernyataan ataupun pertanyaannya. Karena semua kata-kata Ayah selalu mudah dicerna olehku, bahkan semenjak aku baru bisa belajar bicara. Apa yang Ayah katakan pasti hasil dari pemikirannya yang dalam. Kadang-kadang aku berpikir pasti bakat aku untuk memikirkan segala sesuatu secara mendalam, pasti diwariskan oleh Ayah.

“Maksud Ayah? Aku gak mengerti, Ayah.”

“Malam itu identik dengan kegelapan. Dan kegelapan selalu merujuk pada sesuatu yang membahayakan, menakutkan, dan tidak pasti.”

“Lalu?”

Ayah memandang aku sebentar, lalu sambil tersenyum ia kembali berkata, “Ya, meskipun malam begitu kelam seperti malam ini, tetapi semua orang harus mengalami malam, bukan? Karena entah bagaimana pun seseorang berusaha keras menghindari malam, ia tetap akan menghadapi malam.”

Aku masih belum bisa menangkap arah pembicaraan Ayah. Terus terang pikiranku masih diselimuti peristiwa tidak menyenangkan yang aku alami hari ini, sehingga aku cukup sulit mencerna maksud Ayah.

“Apa yang terjadi jika setiap hari kita hanya bertemu siang, Nak?”

“Panaslah, Yah. Haus. Dan keringatan.”

“Kalau begitu untung ada malam, kan?”

Ah Ayah sepertinya sudah mengetahui isi hatiku, pikirku dalam hati.

“Jika Ayah ibaratkan malam sebagai kesulitan, masalah, dan persoalan, kira-kira apa yang orang-orang akan lakukan?” tanya Ayah sambil menatap aku dengan tajam.

“Orang akan berusaha menghindarinya.”

“Menurut kamu, apakah bisa malam atau masalah, kesulitan, dan persoalan, itu dihindari?”

“Tidak.”

“Walaupun orang tersebut punya kekuasaan, kekayaan, atau semua kemewahan dunia?”

“Tidak. Malam pasti selalu datang, seperti kesulitan selalu datang.”

“Kamu tepat sekali, anakku. Masalah pasti datang,” ayah tersenyum sembari menatapku dengan tajam, “dan ketika masalah itu datang, kamu tidak akan bisa menghindarinya. Tapi kamu punya peluang untuk melalui masalah itu dengan orang-orang yang di sekitar kamu. Seperti kamu memiliki Ayah sekarang di sebelah kamu melalui malam ini. Kamu hanya cukup berbicara. Berbagi dengan mereka, dan mereka pasti mendengar.  Ayah juga akan selalu mendengar. Jadi coba cerita ke Ayah.”

“Aku tadi diejek teman satu sekolah. Mereka teriak-teriak ‘Si Pincang dari Gua Hantu’ sambil meniru-nirukan cara jalan aku.”

Ayah diam.

Aku juga diam.

Ayah masih diam.

Aku juga tetap diam.

Ayah menghela nafasnya lalu berkata, “Kamu tahu, waktu kamu lahir Ayah bahagia sekali, dan waktu Dokter yang membantu kelahiranmu menghampiri Ayah di ruang tunggu dan mengatakan ‘Selamat Pak, anak Bapak laki-laki,’ Ayah bahagia dan bangga sekali.”

Aku menundukkan kepala. Setetes air mata mengalir di sudut mataku.

“Sampai detik ini, Ayah selalu bangga denganmu, Nak. Seburuk apapun keadaanmu, kamu tetap anak Ayah yang berharga di mata Ayah. Untuk kamu, Ayah bahkan rela mengorbankan nyawa Ayah.”

“Mengapa mereka jahat, Ayah?”

Kali ini aku tidak kuasa menahan tangisku. Ayah pun memeluk aku dengan erat.

“Tidak nak, mereka tidak jahat. Mereka hanya belum mengerti bahwa kamu anak Ayah yang hebat. Suatu saat mereka akan melihat anakku ini akan menjadi seperti yang Ayah harapkan.”

Ayah mencium kepalaku. Dan aku merasakan ada setetes air jatuh di kepalaku. Ayah menangis juga, aku bergumam dalam hati.

“Kamu ingat cerita Ayah tentang malam tadi?”

Aku hanya menganggukkan kepalaku.

“Ini malam yang harus kamu lewati sehingga kamu bisa melihat siang di esok hari. Mungkin saat ini kamu belum mengerti, tetapi…,” ayah kembali mengusap-usap rambutku, “suatu hari nanti kamu akan bersyukur telah melewati malam, mengalami luka. Dan pada saat kamu mengerti itu semua, banyak anak-anak seusia kamu, dan mengalami seperti yang kamu alami sekarang, yang akan kamu tolong.”

Aku kembali hanya menganggukkan kepalaku.

Dan Ayah juga kembali diam.

“Terima kasih Ayah.”

Ayah tersenyum. “Ayah janji kamu akan baik-baik saja. Kamu percaya janji Ayah?”

“Iya Ayah.”

I love you, Son. Sekarang senyum yang lebar.”

Aku pun tersenyum.

Written by Rolan Sihombing

July 12, 2013 at 8:26 pm

Posted in Fiksi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: