Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

“A Son Never Forget”: Terima Kasih Papa dan Mama

leave a comment »

Rumah adalah tempat berlangsung proses pendidikan yang sesungguhnya. Saya sering mendengar kalimat tersebut dikumandangkan dari pelbagai podium dan mimbar. Suatu kali saya pernah mendengar celoteh kesal seorang teman yang mengatakan betapa mubazirnya dia mengikuti sebuah seminar yang mahalnya luar biasa.

“Mengapa mubazir?”

Lalu dia mengatakan kepada saya, “Mahal bayarnya, tahu-tahu kesimpulannya cuma tentang pentingnya keluarga dalam proses transfer ilmu kepada anak-anak, khususnya ilmu kebajikan.”

Saya hanya tersenyum mendengar gerutuannya.

Namun ketika saya menoleh ke belakang, saya bersyukur memiliki orangtua yang menyadari peran mereka sebagai guru kehidupan untuk anak-anaknya. Orangtua saya bukanlah keturunan cerdik pandai yang maha bijak. Mereka datang dari keluarga biasa-biasa saja, bukan bangsawan, bukan pula hartawan. Tetapi bagi saya, merekalah sumber ilmu, hikmat, dan kebajikan yang jauh lebih saya perlukan dalam hidup ini ketimbang deretan titel akademis di belakang nama saya.

Salah satu dari sekian banyak ilmu yang saya dapatkan dari mereka adalah, lima frase yang penting dalam kehidupan. Frase apa saja itu? 

Yang pertama adalah “Maaf.” Sebagai manusia, tak sedetik pun kita luput dari kekhilafan. Contoh sederhana, pada suatu waktu lidah kita bisa memberikan dorongan dan motivasi untuk orang-orang di sekitar kita. Tetapi pula pada saat yang sama, kita bisa melukai perasaan orang yang sudah berbuat baik kepada kita dengan kata-kata hinaan dan celaan.

Manusia merupakan makhluk yang tidak dapat tidak berdosa, artinya setiap detik manusia punya potensi untuk melakukan kesalahan, baik secara sadar ataupun tidak. Karena itu penting bagi kita untuk selalu melakukan evaluasi dan segera meminta maaf jika kita memang melakukan kesalahan. Meminta maaf dan mengakui kesalahan serta ditambah upaya yang kuat untuk tidak mengulanginya, bukanlah menunjukkan kelemahan kita. Tetapi sebaliknya berani mengakui kesalahan dan meminta maaf justru menunjukkan kebesaran hati kita yang berusaha untuk mencoba berubah menjadi orang yang lebih baik setiap hari.

Frase yang kedua adalah “Terima kasih.” Semasa kita hidup, kita tidak akan pernah bisa menafikan pentingnya orang lain di sekitar kita. Karena kita butuh orang lain, kita tidak bisa hidup sendiri ataupun menjalankan praktek kehidupan yang anti sosial. Suka atau tidak, kita membutuhkan orang lain untuk mendampingi dan membantu kita.

Karenanya tidaklah heran jika kita sesekali harus membiarkan orang lain memberikan bantuan kepada kita. Bukan sesuatu yang pantang jika sesekali kita pun meminta bantuan orang lain. Konsekuensi dari ketergantungan terhadap orang lain tersebut tentu saja adalah ucapan terima kasih. Dengan berterimakasih, kita sedang menyadari bahwa kita memiliki banyak keterbatasan. Dengan berterimakasih, kita sedang mengapresiasi peranan orang lain dalam kehidupan kita. Dan pada akhirnya, dengan kita mengapresiasi peranan orang lain, kita sedang menjadikan orang-orang di sekitar kita penting dan eksis. Merupakan suatu kebahagiaan tersendiri, jika keberadaan dan eksistensi kita diakui oleh orang lain.

Frase yang ketiga adalah “Apa yang bisa aku lakukan untukmu.” Terkait dengan keberadaan kita sebagai makhluk sosial, maka pula kita tidak menutup mata jika ada seseorang yang membutuhkan bantuan kita. Sayangnya di tengah dunia yang semakin individualistik, alih-alih kita memiliki kepekaan terhadap kebutuhan orang lain, kita cenderung mengasingkan diri kita dan mengambil sikap tidak peduli terhadap kesulitan orang lain. Sikap ketidakpedulian ini pernah dipraktekkan oleh gereja Jerman ketika Adolf Hitler dengan membabibuta membunuhi dan memperkerjakan secara paksa orang-orang Yahudi pada masa perang dunia ke 2. Akibat ketidakpedulian tersebut, entah berapa nyawa mati sia-sia. Entah sudah berapa potensi dan talenta terkubur begitu saja ditelan bumi.

Oleh karena itu, mari kita memilih untuk lebih peduli terhadap orang lain. Selalu katakan kepada orang-orang di sekitar kita, “Apa yang bisa saya lakukan untuk Anda?” Jangan kita terjebak dengan mentalitas menolong atas dasar pamrih dan mengharapkan sejuta bintang jasa disematkan kepada kita. Peduli terhadap orang karena kita menyadari bahwa roda kehidupan senantiasa berputar. Orang yang hari ini kita tolong, bisa berubah menjadi orang menolong kita di masa depan. Menolong orang lain tanpa pamrih pula harus didasarkan pada kesadaran kita pun sudah menerima banyak dari Sang Penolong Sejati, dan karenanya sebagai bentuk terimakasih kita kepadaNya, kita pun harus lebih peduli dan membiarkan tangan kita dikotori dengan perbuatan baik kepada orang-orang di sekitar kita.

Frase yang keempat adalah “Aku bisa.” Bapak saya pernah mengatakan, sudah lazim jika suatu bangsa yang hidup dalam penjajahan lambat laun akan memiliki mentalitas inferior. Bapak saya pernah berseloroh, bahwa inferioritas bangsa Indonesia terbaca dengan jelas dari tumpukan utang luar negeri yang harus dibayarkan kepada negara-negara donor. Padahal bangsa ini memiliki kekayaan yang luar biasa, hanya saja karena mentalitas inferior-menganggap “bule” lebih jago dari pribumi-akhirnya kita yang semestinya menjadi tuan di negeri sendiri, malah menjadi jongos di tanah kepunyaannya.

Tuhan menciptakan kita secara unik, artinya setiap orang itu memiliki kekuatan dan potensi yang berbeda-beda. Dengan kata lain kita diciptakan Tuhan untuk melakukan banyak perkara berdasarkan keunikan dan kehebatan kita yang tiada duanya. Oleh karena itu mari kita lebih sering berkata “Aku bisa.” Hentikan kebiasaan merendahkan diri kita sendiri. Itu inferior, itu sifat minder, dan itu sama sekali tidak menarik. Bahkan itu sama saja dengan menghina Tuhan yang sudah menciptakan kita dengan kekhasan tersendiri. Kita bisa melakukan banyak hal, karena kita sebenarnya memang bisa melakukan banyak hal.

Frase terakhir dan merupakan favorit saya adalah “Semua karena anugerah.” Jika saya menoleh ke masa lalu saya, rasanya sangat tidak pantas saya berada di posisi saya saat ini. Seorang pendiam, pemalu, minder akibat kepincangan saya, banyak gagal dalam pelbagai hal, seorang obsesif kompulsif sejati yang penuh dengan luka hati. Tapi saat ini saya harus memimpin dan bekerjasama dengan individu-individu yang unik dan memiliki latar belakang yang beragam. Secara kualifikasi, saya sangat tidak memiliki kuafilikasi. Secara kemampuan memimpin, saya masih memiliki sisa-sisa dari sifat pemalu saya. Secara pengalaman, rasanya pengalaman gagal yang sering saya terima.

Tapi hari ini saya sedang berjalan dalam sebuah jalan menuju versi baru seorang Rolan. Dan tidak bisa dipungkiri, itu semua hanya karena anugerah. Itu semua hanya karena tanganNya yang perkasa masih menggenggam tangan saya. Itu semua hanya karena Tuhan Semesta Alam masih bersedia memberikan saya kesempatan untuk memulai sebuah perjalanan baru dalam kehidupan saya.

Semua semata-mata hanya karena anugerahNya yang besar dalam hidup kita. Pekerjaan kita, harta benda kita, pasangan hidup kita, anak-anak kita, itu ada bukan karena kehebatan kita sebagai manusia. Itu semua diberikan secara cuma-cuma karena kebaikanNya yang maha sempurna. Oleh karena itu, mari setiap malam kita selalu datang padaNya dengan penuh perasaan takjub atas semua anugerahNya yang selalu limpah dalam hidup kita. Yang lebih mempesona lagi, esok hari, anugerahNya selalu baru bagi kita.

Semoga tulisan ini dapat menjadi berkat buat Anda yang membacanya.

Matur suksma.

Written by Rolan Sihombing

July 12, 2013 at 5:27 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: