Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Yang Sudah, Ya Sudah

leave a comment »

Melupakan kegagalan masa lalu, memaafkan diri sendiri atas kebodohan yang dibuat dulu, dan sembari berikhtiar kuat untuk menata kehidupan yang baru adalah bagian terpenting untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Pelajaran berharga ini saya dapatkan dari adik saya tercinta, Nana. Beberapa saat menjelang hari-hari terakhirnya di dunia, dia kerap mengatakan kepada saya, “Yang sudah, ya sudah.” Dan ketika akhirnya Nana berpulang ke Rumah Tuhan untuk selamanya, saya bisa melihat kedamaian dan ketenangan di wajah terakhirnya dan saya yakin itu disebabkan karena dia sudah berdamai dengan masa lalunya.

“Yang sudah, ya sudah.” Mengucapkannya sangatlah mudah, tetapi melakukannya sangatlah sulit. Berapa sering kita tidak rela menerima konsekuensi buruk yang kita alami, dan malah lebih sering mempersalahkan orang lain atas semua momen keterpurukan (baca: kesialan) yang kita alami? Saya dulu sering melakukan itu. Menyalahkan orang lain, menyalahkan keadaan, bahkan menyalahkan Sang Pencipta. Tetapi kemudian saya mendapati bahwa dengan mempersalahkan orang lain ataupun keadaan, saya justru menutup pintu untuk saya sendiri agar belajar dari kesalahan, dan bangkit berjuang melakukan yang benar di kemudian hari. Dan untuk menuju kepada tahap perubahan yang hakiki itu harus dimulai dengan sebuah sikap “Yang Sudah, Ya Sudah.”

“Yang Sudah, ya Sudah” bukan pertanda menyerah, tetapi merupakan bentuk kepasrahan terhadap jalan kehidupan yang sedang dalam penataan Sang Khalik. Karena seburuk apa pun sebuah konsekuensi masa lalu yang kita terima dan bahkan muncul dari kebodohan kita sendiri, pada akhirnya dapat dijadikan Tuhan untuk mengarahkan kita kepada fitrah kita sesungguhnya. Yaitu sebuah fitrah kehidupan dimana segala sesuatu ada dalam rahmatNya, dan limpahan kasihNya.

“Yang sudah, ya sudah” bukanlah pertanda jiwa yang ciut.  Justru ini merupakan tanda keberanian untuk berbenah dari semua lumpur-lumpur penyesalan yang berlepotan di hidup kita, sembari menegakkan kepala untuk melihat kemungkinan di masa yang akan datang, bahwa segala sesuatu akan baik adanya. Karena banyak orang tidak mau bangkit dari keterpurukannya karena takut dengan bayangan masa lalu yang akan kembali menghantui masa depannya. Sehingga alih-alih berpikir positif mengenai hari esok, ia justru meringkuk ketakutan di kubangan lumpur yang sama. Akibatnya bukan hidup yang lebih baik, melainkan bertambah kotor dari keadaan yang sebelumnya.

Hidup adalah perjuangan. Perjuangan keras untuk melupakan kegagalan, perjuangan keras untuk memaafkan diri sendiri atas semua kebodohan yang kita lakukan, dan perjuangan keras untuk menatap masa depan sembari menggenggam erat tangan Sang Penguasa Kehidupan.

“tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku, dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” – Fil. 3:13-14

Untuk Nana.

nana n me

Written by Rolan Sihombing

June 26, 2013 at 12:05 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: