Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Hanya Tulisan Biasa

leave a comment »

Saya sering bertemu dengan seorang introvert.

Orang seperti ini biasanya cenderung tidak terlalu banyak bicara. Ia akan berkomentar dengan semangat ketika ada sebuah topik yang diperbincangkan dan topik tersebut menarik perhatiannya. Tetapi ketika ia berhadapan dengan orang yang sedang berbicara topik yang tidak ia sukai, maka ia akan menunjukkan dengan bahasa tubuh yang sangat vulgar yang menandakan betapa ia tidak menyukai topik itu. Tetapi tak jarang pula, ia akan tersenyum dengan sangat terpaksa meski dalam hatinya sedang mengutuki dirinya sendiri mengapa ia bisa tercebur dalam pembicaraan yang tak jelas dan bermutu.

Tidak mudah baginya untuk memulai pembicaraan, karena kerap kali ia terlalu mengkhawatirkan kata-katanya adalah kata-kata hampa yang akan menyinggung perasaan lawan bicaranya, ataupun kata-kata kosong yang hanya ditanggapi setengah hati oleh rekan diskusinya itu. Tetapi ia pendengar yang baik jika ia menghormati dan menghargai lawan bicaranya. Telinga dan matanya akan menunjukkan konsentrasi dan perhatian yang mendalam pada setiap untaian kata yang dialunkan teman yang sedang berbicara dengannya,

Ia selalu berpikir ke belakang. Orang yang tidak mengenalnya dengan baik, akan mengira ia adalah seorang yang pesimistis, penggalau yang tanpa akhir, bahkan mungkin label orang yang tidak tahu bersyukur akan dengan mudah diberikan padanya oleh orang-orang sekitarnya. Tetapi sesungguhnya ketika ia sedang memikirkan hal-hal di belakang, ia sedang dalam proses pembelajaran. Tak jarang butir-butir kebijaksanaannya yang tidak terlalu sering ia utarakan, ia dapatkan dari proses melihat ke belakang yang kerap kali ia lakukan.

Ia melihat masa depan dengan tidak terlalu optimistis. Apalagi jika ia memiliki pengalaman yang buruk di masa lalu, maka ia cenderung akan sangat hati-hati memikirkan dan merencanakan masa depannya. Orang akan menilai dia sebagai peragu yang sangat akut. Tetapi bukan berarti ia tidak memiliki visi, mimpi ataupun cita. Orang seperti ini justru gemar bermimpi, meski ia lakukan itu dalam keheningannya. Dan kadang-kadang bagi orang yang tidak tahu pribadinya seperti apa, mimpinya kadang-kadang sangat menakutkan dan menggairahkan pada saat yang bersamaan.

Ia sulit menemukan teman baru, karena kehati-hatian dan kecurigaannya yang terlalu mendalam pada orang lain. Tetapi ketika ia menemukan seorang sahabat ataupun tambatan hati, maka ia merupakan pendukung setia, penggembira yang fanatik, dan pemberi perhatian dalam hal-hal detil pada sahabat ataupun kekasihnya.

Ia akan menunjukkan cintanya dalam hening. Sebagaimana kata-kata sangat jarang keluar dari mulutnya, maka semua kata romantis ataupun motivasi yang berlebihan tidak akan pernah berhamburan keluar. Ia lebih memilih untuk melakukan suatu perbuatan untuk menolong sahabat ataupun kekasihnya. Bahkan tak jarang tanpa diminta ia akan melakukan hal-hal yang diharapkan orang-orang terdekatnya. Orang akan mengira ia adalah seorang yang dingin, tidak romantis, dan tidak tahu mengekspresikan cinta dengan penuh gairah. Padahal sesungguhnya, ke mana pun ia melangkah tak jarang yang ia pikirkan adalah orang yang ia kasihi. Dan di tengah keheningannya pun tak jarang ia melafalkan sebait doa untuk orang-orang yang sudah menguasai kamar-kamar yang tidaklah banyak di rumah hatinya.

Selain peragu, ia adalah seorang pribadi yang absurd. Karena simpul-simpul saraf otaknya yang terlalu sarat dengan pikiran-pikiran tak lazim sehingga terkadang pembicaraannya tidak berujung pangkal. Ia bisa memulai dengan A tapi kemudian berakhir sangat jauh di X, dan sementara orang masih menyernyitkan dahi tanda tidak mengerti apa yang ia bicarakan, ia sudah kembali ke A lagi tanpa memberikan kesempatan otak pendengarnya untuk rehat sejenak dari ketidakmengertian membabi buta mereka. Tetapi bukan berarti selamanya hal-hal yang absurd di dalam dirinya adalah sesuatu yang jenius, terkadang memang sikapnya yang peragu, cenderung tidak percaya dirilah yang menyebabkan ia menjadi tidak jelas dan terlalu abstrak.

Saya sering jengkel dengan orang seperti ini. Karena peragunya, ketidakpercayaan dirinya, absurditasnya, keheningannya, kekikukannya, menyebabkan seringkali ia melewatkan banyak momen-momen berharga yang bisa merubah hidupnya menjadi lebih baik.

Sayangnya orang seperti ini hampir tiap hari saya lihat di cermin saya.

Dan saya telah melewatkan banyak hal.

Written by Rolan Sihombing

March 11, 2013 at 11:42 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: