Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Tahukah Anda Pertanyaan “Kapan Kawin” Adalah Tindakan Bullying?

with one comment

Bullying adalah penggunaan kekerasan atau paksaan untuk mengintimidasi orang lain. Tindakan ini dapat mencakup pelecehan verbal atau ancaman, serangan fisik atau paksaan dan dapat diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu atas dasar ras, agama, gender, seksualitas, atau kemampuan. Kurang lebih seperti itulah arti bullying. Dan sayangnya, kita hidup dalam masyarakat yang gemar bullying. Bahkan saya pun pernah menjadi korban bullying, hingga saat ini.

Bullying terparah pertama yang pernah saya alami adalah ketika saya duduk di kelas 2 SMP di Jakarta. Saat itu saya terpaksa tinggal kelas akibat kecelakaan sepakbola yang saya alami yang kemudian menyebabkan saya mengalami kecacatan permanen, yaitu kaki kanan saya menjadi lebih pendek sekitar 8 cm daripada kaki yang kiri. Akibatnya, saya berjalan dengan pincang. Dan karena kepincangan itu, saya kerap kali dihina dengan sebutan “Si Pincang dari Gua Hantu” dan bahkan beberapa teman kerapkali menirukan cara jalan saya yang pincang. Meski kala itu saya diam saja melihat teman-teman tertawa terbahak-bahak setiap kali mereka mem-bullying saya, tetapi sejujurnya hal inilah yang membuat masa remaja begitu sulit bagi saya kala itu.

Dan bullying terparah kedua yang pernah saya alami terjadi empat tahun belakangan ini, yaitu pertanyaan seputar “Kapan kawin.” Meski biasanya saya akan mengalihkan pertanyaan ini dengan jawaban seperti:

# Belum menemukan yang klik di hati.

# Belum menemukan “pria” yang tepat.

Jawaban nomer dua adalah jawaban yang paling ampuh menghentikan hujan pertanyaan seputar “Kapan Kawin”, karena untuk sesaat para penanya yang gemar mem-bullying akan tertawa. Namun kadang-kadang jawaban ini sering jadi blunder juga karena banyak orang mengira saya adalah PRIA TUA YANG MENYUKAI PRIA. Tentu saja dugaan ini benar-benar sampah, karena saya sangat menyukai wanita-wanita cantik meski wanita-wanita cantik sering tidak menyukai saya, dan khususnya dompet saya.

Tetapi jawaban nomer dua nampaknya sudah mulai harus ditinggalkan karena jawaban itu mengundang dugaan-dugaan sedikit negatif tentang saya. Dan sedikit menyimpang dari uraian ini, tulisan saya yang pernah saya publish di blog ini dengan judul Seorang Pemuda Menjadi Gay Karena Saya, menjadi salah satu tulisan yang sangat sering dibaca akhir-akhir ini. Dan para pembaca yang mendapatkan link tulisan saya karena googling cerita-cerita gay, sering kali akhirnya mengajukan permintaan pertemanan di akun Facebook saya. Dan beberapa di antara mereka bahkan mengirimkan pesan kalau mereka gay dan menyukai tulisan saya yang kemudian ujung-ujungnya ternyata menyukai saya.

*Tidaaaaaakkkkk!!!!*

Karena jawaban nomer dua sudah mulai harus ditinggalkan maka solusinya tinggal 2, yaitu saya harus menemukan yang klik di hati yang mana nampaknya itu masih merupakan sesuatu yang sulit dan mustahil untuk dicapai sekarang; atau orang-orang sekitar saya harus mulai berhenti menanyakan semua pertanyaan yang bermuara pada “Kapan Kawin.”

Saya masih ingat saya harus bertengkar dengan Om saya sendiri ketika dia menanyakan ini dan bahkan menawarkan mengenalkan seorang gadis yang bekerja di kios handphone yang masih tetangga dengannya. Bahkan gara-gara pertanyaan ini sering ditanyakan di kantor yang lama, saya pernah terdampar di sebuah kisah cinta yang salah yang kemudian berdampak pada hal-hal buruk lainnya di kehidupan saya beberapa waktu yang lampau. Oleh karena itu, harapan agar orang-orang sekitar saya berhenti bertanya “Kapan Kawin” nampaknya merupakan solusi praktis yang masih realistis saat ini.

No to Bullying, Please!

Penyebab Bullying

Faktor yang menyebabkan seseorang gemar melakukan bullying adalah karena yang bersangkutan merasa memiliki kekuasaan dan kekuatan yang lebih dibandingkan orang-orang yang menjadi target tindakan bullying yang mereka lakukan. Legalitas merasa memiliki kekuasaan ini dapat didorong karena:

  • Pelaku bullying lebih senior, baik secara umur ataupun secara kedudukan.
  • Pelaku bullying lebih berpengalaman. Dalam contoh kasus bullying “Kapan Kawin”, biasanya orang-orang yang gemar bullying lewat pertanyaan “Kapan Kawin” adalah orang-orang yang sebenarnya punya pengalaman buruk dengan pernikahannya. Sehingga karena ia merasa sudah terlanjur terjebak dalam perkawinan yang salah, yang bersangkutan pun iri hati kepada orang-orang di sekitarnya yang masih single dan bahagia.
  • Pelaku bullying biasanya berkarakter arogan dan tidak mau kalah, ataupun tidak rela melihat kekuasaannya mengalami penyurutan. Sehingga agar orang-orang di sekitarnya percaya ia “berkuasa”, maka biasanya ia akan menunjukkan kekuasaannya dengan menindas orang-orang yang menurutnya lemah.

Akibat Bullying

Bullying dapat terjadi di mana saja; di kantor, di sekitar rumah, di sekolah, di kampus, bahkan di gereja sekalipun bullying bisa terjadi. Korbannya pun beragam, karena orang yang dinilai “lemah” oleh pelaku bullying tidaklah pandang usia. Pelajar, mahasiswa, jemaat, pegawai, bahkan pria tua seperti saya pun tidak luput dari bullying.  Dampak bullying pun beragam, antara lain:

  • Rasa cemas dan ketakutan.
  • Menghindar.
  • Rendah diri.
  • Terisolasi.
  • Stress dan depresi.
  • Bunuh diri.

Semakin sering orang-orang bertanya kepada saya “Kapan Kawin” semakin kuat juga resistensi atau penolakan saya terhadap wacana pernikahan. Bahkan beberapa teman yang senasib dengan saya, semakin bertambah enggan untuk mengakhiri masa lajangnya. Selain jengah dengan pertanyaan yang tidak bermutu itu, mereka juga makin paranoid terhadap ide pernikahan itu sendiri. Dan juga pastinya ada yang kemudian terperangkap dalam hubungan cinta atau perkawinan yang salah akibat terlalu buru-buru menjatuhkan pilihan hanya demi untuk menyenangkan dan membungkam orang-orang yang agresif mencampuri urusan kehidupan si pria atau wanita lajang itu.

Jadi semoga lewat tulisan ini, pertanyaan “Kapan Kawin” berangsur-angsur mulai reda. Karena yang namanya bullying haruslah dihentikan, dan itu harus SEKARANG! Lagipula saya jomblo bukan karena HOMO, tetapi karena banyak prioritas dalam hidup yang masih harus disusun dan diupayakan.

NB: Ini SERIUS.

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. Bang Rolan, tulisannya mantap banget. Sebagai korban nyata dari bullying pertanyaan “kapan nikah” saya sangat merasakan betul pedihnya hati dan munculnya rasa tak berharga karena terus dicecar pertanyaan itu… Diperberat dengan lingkungan kerja dan tinggal saya di pedesaan, disini budaya ibu2 tukang gosip sangat kental. Bagi wanita… Menikah akan menutup pertanyaan “kapan nikah”, tapi selanjutnya akan muncul pertanyaan bully yang kedua “kapan punya momongan”
    Ahhh…. Tuhan benar2 ingin wanita itu berhati BAJA dan bertelinga jala2

    Alberta H

    September 2, 2013 at 11:19 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: