Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Para Tuan Pejabat Indonesia, Belajarlah Dari Rurouni Kenshin Sang Hitokiri Battousai

leave a comment »

Sampul edisi terakhir Rurouni Kenshin yang dirilis Shueisha pada 4 November 1999. Sumber: http://en.wikipedia.org

Bagi penggemar serial manga dari Negeri Sakura, Jepang, tentu tidak asing dengan serial Rurouni Kenshin (るろうに剣心 -明治剣客浪漫譚) yang dalam versi Barat dikenal dengan Samurai X. Komik berseri yang ditulis oleh Nobuhiro Watsuki dan diterbitkan di Shueisha‘s Weekly Shōnen Jump dari 11 April 1994 hingga 4 November 1999. Komik ini telah terjual lebih dari 55 juta eksemplar di Jepang hingga tahun 2012, sedangkan serial animasinya menjadi salah satu dari 100 serial animasi yang paling banyak ditonton.

Saya sebenarnya tidak terlalu menggemari komik Jepang, kecuali Captain Tsubasa ataupun Detektif Conan sehingga tidak pantas saya memberi ulasan mengenai serial animasi Rurouni Kenshin. Kebetulan kemarin seorang teman di kantor meminta tolong untuk mengunduhkan film Rurouni Kenshin yang sudah lama dirilis pada 25 Agustus di Jepang, saya pun menjadi tertarik untuk menonton kisah Pembantai dari Kyoto yang Bertobat ini. Untuk mengetahui dengan lengkap mengenai film Rurouni Kenshin, bisa dilihat di SINI atau di SINI.

Sebagai seorang penikmat film yang suka merenung, yang paling menarik dari film Rurouni Kenshin adalah pertobatan Kenshin dari seorang Hitokiri Battousai, tukang bantai yang biadab dan tak kenal ampun kepada korban-korbannya, menjadi seorang pengembara yang membawa sebuah katana (pedang) yang tumpul pada sisi luarnya; tidak seperti katana pada umumnya yang tajam pada sisi luarnya. Pengembara lugu yang bernama asli Himura Kenshin ini bahkan mengambil sumpah tidak akan pernah membunuh orang lagi. Sebuah sumpah yang sangat mustahil bagi seseorang yang hidup dan matinya ditentukan oleh pedang. Bahkan demi kaulnya itu, berulang kali ia menghadapi lawan-lawan yang berusaha membunuhnya dengan kepalan tangannya, yang mana sangat tidak sebanding dengan ketajaman katana. Lawan-lawannya pun acapkali memintanya untuk tidak menggunakan katananya yang aneh itu dan memancing “keganasan” sabetannya yang sangat terkenal kala ia menjadi seorang pembantai yang legendaris dan ditakuti.

Tetapi apa mau dikata, sebuah sumpah adalah sumpah. Bahkan sampai pada bagian akhir, Kenshin tidak pernah menggunakan bagian dalam pedangnya yang tajam. Pada saat ia berjibaku menghadapi Jine Udo, salah satu musuh kuat diawal seri Kenshin, ia tetap tidak terpancing untuk menghabisi nyawa musuhnya itu. Yang ia lakukan hanya menghancurkan bahu Jine dengan sarung pedangnya, sehingga Jine pun terpaksa mengakhiri hidupnya sendiri.

Para pejabat kita mungkin harus belajar dari Himura Kenshin, sang Hitokiri Battousai yang menyadari pedang sejatinya diciptakan untuk melindungi orang yang tidak bisa melindungi dirinya. Seperti pedang bagi Kenshin, sebuah jabatan seharusnya juga digunakan untuk melindungi dan melayani rakyat. Tetapi ternyata kesadaran ini belum sampai di otak para pejabat kita. Jabatan hanya sekedar peluang untuk meraup harta dan memperkaya diri. Sama seperti sebuah pedang di tangan yang salah dan kemudian membunuhi orang-orang yang tak berdosa; jabatan di tangan yang salah meski sekalipun yang bersangkutan sudah bersumpah di atas kitab sucinya dengan disaksikan imam atau pemuka agama, dan seluruh hadirin yang mengikuti proses pelantikannya, dapat berubah menjadi pedang maut yang membunuhi rakyat yang seharusnya dilindungi dan dilayani.

Data terkini seperti yang pernah disampaikan Wakil Ketua KPK Busyro Muqoddas, sejak 2004-2012 tercatat ada 339 terdakwa kasus korupsi yang ditangani KPK. Dari jumlah itu didominasi oleh oknum pejabat eselon mulai eselon I, II dan III sebanyak 103 orang, kurang lebih sekitar 30 persen. Pada urutan kedua adalah kalangan anggota DPRD dan DPR sebanyak 64 orang. Urutan tiga terbanyak kemudian diisi pelaku terdakwa korupsi oleh swasta yakni mencapai 58 orang. Dan menempati peringkat empat adalah kalangan bupati/wali kota sebanyak 31 orang.

Saya coba berandai-andai apakah para terpidana korupsi ini ketika melewati malam-malam di sel penjaranya akan mengingat momen-momen ketika diambil sumpahnya dengan menggunakan Al-Quran, Alkitab, dan kitab suci lainnya. Mungkinkah mereka merasa sangat malu telah menghina kitab suci, agama, imam, dan juga Tuhannya sendiri? Atau bahkan urat malu mereka sudah putus sama sekali, hingga tak jarang ada terpidana korupsi setelah bebas dari penjara masih pede mencalonkan diri untuk jabatan publik lainnya?

Himura Kenshin, sang pengembara, tetap bersikukuh tidak akan pernah lagi menjadi Hitokiri Battousai, sang pembantai biadab yang legendaris dan tidak berprikemanusiaan.

Kapan ya pejabat publik kita memiliki tekad seperti Sang Samurai X ini? Entahlah…

Sebelum Anda berandai-andai, sebaiknya menyaksikan film Rurouni Kenshin ini. Top markotob filmnya.

Selamat melanjutkan khayalan Indonesia bebas dari korupsi.

Written by Rolan Sihombing

January 8, 2013 at 3:26 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: