Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

First Love

leave a comment »

Inspired by true event.

Hujan baru saja selesai mengguyur Bandung dan sekitarnya. Jalanan yang saat hujan sepi dari lalu lalang kendaraan bermotor, mulai ramai dipadati oleh orang-orang dengan motor dan mobilnya yang berlomba-lomba ingin segera tiba di rumah. Para karyawan kantoran, mahasiswa dan anak-anak berseragam sekolah pun mulai memenuhi angkutan-angkutan umum yang setia mengantarkan para penumpangnya ke seluruh penjuru kota Bandung. Suara klakson pun semakin ramai terdengar seiring matahari semakin terbenam di ufuk barat.

Di sudut pelataran salah satu kafe di Jalan Braga, Dira sedang duduk sendirian. Beberapa kali ia melirik jam dinding yang tergantung di seberang kafe tempat ia berada. Lalu lalang orang yang silih berganti lewat di depan bangku bundar yang ia duduki pun tidak dihiraukan olehnya.

Dira masih ingat dengan jelas peristiwa dua tahun yang lalu di tempat yang sama. Dia dan Agung, pria yang sudah ia kenal sejak SMU, mengukir sebuah kenangan yang tidak pernah hilang dari ingatan Dira. Hari itu, tanpa diduga Dira, Agung mengutarakan keinginannya untuk bertunangan dengannya.

“Tapi aku belum menyelesaikan kuliahku, Gung. Orangtuaku pasti tidak mengizinkan pertunangan kita,” kata Dira sembari menggenggam tangan Agung yang masih basah oleh sisa guyuran hujan.

“Kamu tetap selesaikan kuliahmu. Selama apapun, aku akan menunggumu,” kata Agung sambil menatap Dira.

Dira tahu Agung sungguh-sungguh mencintainya. Tatapan mata Agung selalu jujur sejak pertama ia mengenal Agung. Kala itu Agung adalah seniornya, dan ia adalah siswi baru yang sedang menjalani masa orientasi sekolah. Hari pertama orientasinya tidaklah semulus yang dibayangkan Dira. Di tengah upacara bendera, ia mendadak jatuh pingsan. Dan beberapa saat setelah siuman, ia mendapati dirinya sudah terbaring di ruang UKS. Agung, ketua OSIS sedang duduk di samping ranjangnya. Sembari menatapnya, senior berkacamata ini memberinya nasehat untuk tidak memaksakan diri mengikuti kegiatan orientasi sekolah. Dan sebagai ketua panitia orientasi sekolah, Agung memberitahu bahwa Dira dibebaskan dari kewajiban orientasi sekolah.

Tentu saja Dira tidak setuju dengan nasehat bodoh yang cenderung merendahkan harkat dan martabatnya sebagai perempuan. Keesokannya ia tetap bersikeras mengikuti orientasi sekolah. Tetapi ketika sedang mengikuti kegiatan kebersihan lingkungan sekolah, ia kembali jatuh pingsan. Bahkan kala itu, cukup lama ia baru siuman.

Anehnya, hari itu kembali Agung yang ada di samping ranjangnya di ruang UKS. Kali ini tatapan Agung lebih tajam dari kemarin. Ditatap tajam seperti itu, akhirnya Dira pun menyerah. Ia menuruti saran ketua OSISnya untuk tidak memaksakan diri mengikuti kegiatan orientasi sekolah yang berlangsung selama seminggu itu.

Pertemuan di ruang UKS bukan menjadi kali terakhir ia bertemu Agung. Hari-hari selanjutnya ketika masa sekolah sudah dimulai, pertemuannya dengan Agung pun semakin sering. Seminggu sekali Dira pasti bertemu Agung di ruang redaksi koran sekolah. Kala itu Agung adalah pemimpin redaksinya, sedang Dira adalah salah satu kontributor tetap.

Ruang rapat koran sekolah itulah yang menjadi awal rasa cinta Dira pada Agung. Agung tidak hanya dikenalnya sebagai pemimpin redaksi, tetapi juga sebagai pria yang jauh lebih dewasa dari umurnya. Selain sangat mencintai Ibunya dan adik-adiknya, Agung adalah seorang anak yatim yang harus bekerja seusai sekolah dengan menjadi penjaga kios majalah di sebuah area pertokoan di Setiabudi.

Dari kios majalah itulah Agung mendapat ilmu tentang menulis. Dan dari kios majalah itu pula, Agung mendapatkan pekerjaan setelah kelulusan SMU. Di salah satu lembar sebuah majalah remaja, Agung melihat sebuah lowongan pekerjaan untuk menjadi wartawan lepas di majalah tersebut. Karena dorongan Dira, Agung pun nekat mengirimkan surat lamaran dan disertai contoh-contoh tulisannya di koran sekolah. Tamat SMU, Agung pun langsung bekerja sebagai wartawan lepas. Tidak sampai satu tahun, Agung pun kemudian diangkat menjadi karyawan tetap. Agung dipercaya untuk menjadi kolumnis, dan karena bakatnya yang memang luar biasa peminat tulisan di kolomnya semakin banyak. Tentu saja hal itu pun berdampak pada oplah majalah yang semakin melambung. Dalam tahun kelima ia bekerja di majalah itu, Agung pun sudah dipercaya menjadi wakil pemimpin redaksi.

Sore hari setelah promosi yang diterimanya, di sudut kafe itu dua tahun yang lalu, Agung memberanikan diri melamar Dira.

“Sejak hari pertama kamu pingsan di ruang UKS, aku sudah menyukaimu. Dan semakin lama aku mengenalmu, aku semakin yakin kamu yang terbaik untukku. Aku ingin kamu jadi bagian hidupku untuk selama-lamanya.”

Dira hanya tersenyum simpul sembari memalingkan pandangan matanya ke arah lain. Tatapan mata Agung yang dalam tetapi lembut selalu bisa membuatnya tersipu malu. Tetapi ia tahu tidak akan semudah itu untuk Agung menjadi bagian dalam hidupnya.

“Aku akan menyayangimu sampai maut memisahkan kita, Ra.”

“Aku percaya Gung, tetapi berikan orangtuaku waktu untuk belajar menerimamu,” kata Dira sambil berusaha menahan airmatanya.

“Apalagi sih yang orangtuamu inginkan, Ra? Kalau soal mapan, aku sudah mapan. Sekarang aku wakil pemimpin redaksi majalah remaja beroplah paling besar di Indonesia. Aku sudah punya rumah, mobil, tabungan, dan semua hal yang bisa membahagiakanmu.”

“Aku tahu Gung. Aku tahu,” kata Dira sembari mengusap punggung tangan Agung. “Tetapi ini masalah yang jauh lebih rumit dari sekedar materi dan harta. Pertunangan bahkan pernikahan tidak semudah itu dibicarakan dengan papa mama. Masih syukur aku jika saat ini kita sudah cukup bisa sering bertemu. Kamu gak lupa kan dulu kita harus sembunyi-sembunyi?”

“Aku gak lupa. Tetapi aku pikir ini momentum kita sekarang. Aku sudah cukup sukses sekarang. Mengapa kita tidak coba sekarang untuk bicara dengan orangtuamu mengenai ini?”

“Kamu tahu kan, aku juga menginginkan itu. Tetapi kamu juga tahu orangtuaku seperti apa. Belum lagi keluarga besarku,” kata Dira berusaha memberi pengertian kepada Agung.

“Ya, memang aku Jawa, dan kau Tionghoa. Tetapi tidak semua orang Jawa seperti yang orangtua kamu pikirkan,” sergah Agung.

“Gung, please. Aku minta kamu mengerti aku. Aku pasti akan memperjuangkan kita. Tetapi izinkan aku melakukannya dengan caraku. Aku mengenal orangtuaku, dan aku tahu bagaimana merubah pendirian mereka.”

Agung hanya diam sembari menatap kosong ke seberang jalan.

“Kau tahu, aku sebenarnya pura-pura mau jatuh waktu di ruang UKS dulu itu. Aku sengaja supaya dipeluk ketua OSISku yang ganteng tapi kalau cemberut agak kurang ganteng.”

Agung masih diam. Tetapi kali ini matanya menatap Dira yang sedang tersenyum-senyum berusaha menggodanya.

“Dan aku sangat bangga dan bahagia, priaku yang satu dan cinta pertamaku ini bisa membuktikan bakatnya pada orang-orang yang dulu meremehkannya.  Dan suatu saat, seluruh Indonesia akan menunggu-nunggu untaian kata-kata pria yang satu ini,” kata Dira sambil mengusap-usap lembut pipi Agung.

“Semua kerja keras dan perjuanganku  untukmu, Ra.”

“Aku tahu, sayang. Aku tahu itu. Aku wanita yang sangat beruntung karena dicintai oleh orang sebaik dan sehebatmu.”

I love you, and I’ll wait for you. Even if it takes forever, I’ll still be here.”

“Aku juga sayang kamu. Sangat sayang. Terima kasih buat cinta dan pengertianmu. Kamu percaya aku kan, priaku?”

“Aku percaya kamu,” kata Agung sambil mengecup kening Dira dengan lembut.

Agung duduk dan terdiam di bangkunya. Demikian pula Dira.

“Ya sudahlah. Kita di sini bukan untuk bersedih-sedihan kan? Nah sekarang, aku mau traktir kamu makan es krim sepuasnya dengan gaji wakil pemimpin redaksi,” kata Agung sambil membuka buku menu yang ada di meja.

Dira hanya tersenyum mendengar perkataan Agung. Ia  pun makin tersenyum geli melihat kelakuan Agung yang memanggil pelayan kafe dengan bersiul.

Tetapi Dira tahu Agung sebenarnya sangat kecewa, dan sikap Agung yang seperti itu adalah cara dia menyembunyikan kekecewaannya. Sikap Agung yang menutup-nutupi kekecewaan ataupun kesedihan sudah sering ia lihat sejak kerap bersitegang dengan Agung dalam rapat redaksi koran sekolah. Tetapi justru perilaku Agung yang tidak kasar dan emosional itulah yang makin membuat Dira mengagumi dan menyukai Agung. Karena kedewasaan Agung pula yang membuat Dira tidak ragu menerima cinta pria itu di malam kelulusan Agung.

Sembari Agung memesan es krim kesukaannya, pikirannya terus bergejolak. Hanya dia yang tahu gejolak di pikirannya itu. Dira membayangkan reaksi orangtuanya ketika ia bercerita tentang rencana Agung untuk melamarnya. Dan semakin Dira membayangkan, semakin bergejolak pula pikirannya. Namun Dira berhasil menyembunyikan gejolak itu dengan terus tersenyum di hadapan Agung yang masih sibuk memesan es krim dan pasta kesukaannya.

Hari itu menjadi hari terakhir Dira bertemu Agung. Sudut kafe itu jadi saksi bisu kecupan terakhir Agung di keningnya. Seminggu setelah Agung berusaha melamarnya, ia tidak pernah bertemu Agung lagi. Entah bagaimana, Agung tiba-tiba menghilang. Tanpa ada kabar. Tanpa jejak. Bak hilang ditelan bumi.

Dira selalu berpikir kalau kepergian Agung adalah karena salahnya. Seandainya dia tidak terlalu khawatir mengenai respon orangtuanya terhadap Agung, pasti pria yang ia cintai itu tidak akan menghilang. Cinta pertama dan cinta sejatinya tidak akan pupus dan lenyap.

Tetapi Dira juga kerap berpikir, kalau Agung mungkin ternyata adalah sejenis pria brengsek yang suka menghilang tanpa jejak tanpa mempedulikan perasaan perempuan. Dan tak jarang pula Dira mensyukuri kalau ia akhirnya mengetahui karakter asli Agung yang ternyata sama saja dengan laki-laki yang suka mempermainkan cinta perempuan.

Sebenarnya Dira juga tak habis pikir mengapa ia bisa ada di sudut ruangan yang pernah menjadi kenangan indah dan kenangan pahitnya. Dan entah bagaimana pula ia mau duduk menunggu sendirian, pada tanggal dan waktu yang sama saat ia pertama kali mendengar lamaran Agung. Peristiwa yang membahagiakan tapi juga menyedihkan baginya.

Bak baru terbangun dari mimpi, Dira menyadari kebodohannya berada di sudut kafe yang membuatnya kehilangan Agung. Ia pun bergegas meninggalkan ruangan itu. Tetapi ketika ia baru ingin beranjak dari bangku bundar yang penuh kenangan, sudut matanya menangkap sosok yang ia kenal.

Itu Agung, gumam Dira. Apa yang ia lakukan di sini?

Hati Dira serasa ingin menangis dan tertawa bersamaan melihat Agung memasuki pelataran kafe. Perasaan marah dan senang itu pun makin menjadi-jadi ketika Agung menatapnya dan dengan ekspresi yang dingin berjalan mendekatinya. Dira ingin sekali memaki-maki pria yang sangat ia cintai itu, tetapi rindu yang ia rasakan membuat ia hanya diam dan terpana. Bahkan ia semakin tidak bisa berkata-kata sedikit pun ketika Agung menghampiri kursi kosong di hadapannya, dan duduk berhadapan dengannya.

Kamu jahat, Gung. Pergi tanpa jejak. Menghilang begitu saja, gumam Dira. Ia sungguh tidak bisa berkata-kata. Lidahnya tercekat melihat wajah pria yang ia rindukan dan benci.

Dua tahun menghilang, Agung tidak banyak berubah. Model rambutnya masih sama seperti dulu. Lurus, dan berbelah samping persis model rambut mantan Menteri Penerangan zaman Orde Baru, Harmoko. Tubuhnya pun tidak bertambah besar. Masih kurus persis seperti masa SMU dan dua tahun yang lalu. Tatapannya pun masih sama meskipun agak kosong. Dalam tetapi lembut.

Ada cincin emas, di jari manis kanannya. Dia pasti sudah menikah. Kamu laki-laki brengsek, Gung. Dalam benak Dira penuh dengan kata-kata umpatan, tetapi rasa cintanya pada cinta pertamanya begitu besar sehingga tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Tenanglah Dira. Tahan perasaanmu. Tarik nafas. Setelah tenang, baru kamu maki-maki pria brengsek ini, kata Dira dalam hatinya.

Dira berusaha menenangkan diri, karena banyak kata-kata yang ingin dia lontarkan pada Agung saat ini. Setelah menarik nafas panjang, Dira pun memberanikan diri membuka mulutnya. Tetapi sebelum Dira berbicara, Agung melihatnya dengan tatapannya yang sangat dalam tetapi kosong. Dan perlahan-lahan, ada butiran air mata jatuh dari sudut mata Agung.

“Aku berusaha untuk tidak menangis, Ra.”

Aku pun tidak ingin menangisimu Gung, gumam Dira dalam hatinya.

“Aku sangat mencintaimu. Tidak pernah ada wanita yang begitu mempesonaku selain kamu,” kata Agung sembari menunduk.

Laki-laki pembohong! Kau hilang tanpa jejak, dan sekarang datang dengan cincin melingkar di jari manismu, Gung. Kau benar-benar brengsek!

“Sejak hari pertama aku mengenal kamu, duniaku tidak pernah sama lagi. Aku menemukan alasan sejati untuk terus hidup lebih baik setiap hari. Hidupku bahkan lebih indah sejak aku terpana melihat senyummu, bola matamu, rambutmu, tanganmu, jari jemarimu. Semua yang ada padamu, terasa benar dan tepat untukku.”

Kalau kau mencintaiku, mengapa kau hilang seperti ditelan bumi, Gung? Dira masih belum bisa bersuara untuk menanyakan banyak hal kepada Agung.

“Kamu cinta pertamaku. Aku belajar banyak tentang hidup darimu. Aku jadi seperti aku sekarang juga karenamu Ra. Ibu tahu itu. Betapa tiap malam aku bekerja keras, menulis dan menulis.” Agung menghapus butiran air mata yang merambat turun ke pipi kanannya. “Aku tahu aku tidak akan pernah bisa kuliah. Dengan ijasah SMU, aku pasti hanya jadi pekerja serabutan. Dan uang dari kerja serabutan tidak akan pernah bisa membuat orangtuamu ikhlas mengizinkan kamu bersanding denganku.”

Aku tidak butuh uang, Gung. Aku butuh kamu, tetapi kau menghilang.

Sembari menghela nafas, Agung berkata lagi, “Kamu jadi inspirasiku untuk jadi penulis hebat. Karena kamu aku ada seperti sekarang. Dan jika aku bisa mengulang banyak hal dalam hidup ini, aku ingin tetap mengenal dan mencintaimu. Belajar darimu agar aku bisa mencintaimu lebih baik lagi.”

Baiklah Gung, kau mau apa sebenarnya? Mempermainkanku lagi, hah?

“Tetapi waktu tidak bisa terulang. Dan aku mengutuki diri sendiri untuk itu,” kata Agung sambil terisak-isak menahan tangis. “Seharusnya aku tahu dari awal. Seharusnya aku tahu dari awal.”

Seharusnya aku juga tahu dari awal kalau kamu brengsek, gumam Dira yang semakin jengkel melihat airmata Agung.

“Seharusnya aku tahu peristiwa yang kamu alami. Seharusnya aku tidak memaksamu menerima pinanganku dua tahun yang lalu.”

Peristiwa apa? Kamu yang pergi Gung!

“Aku tidak pernah memaafkan diriku sejak hari itu dua tahun yang lalu. Aku membebani pikiranmu dengan ide pertunangan kita. Dan kamu…”

Mengapa sekarang jadi salahku? Kamu yang lari dariku Gung. Kamu yang menyakiti aku!

“Kamu mengalami kecelakaan lalu lintas dalam perjalanan menuju kampus. Saksi mata kecelakaan itu melihat kamu melamun saat hendak menyeberang jalan. Dan sejak saat itu kamu tak sadarkan diri, Ra. Berbulan-bulan aku mencaritahu keberadaanmu. Rumahmu kosong, dan di pagar bertuliskan “For Sale”. Dan tidak lama, rumahmu dibeli oleh orang lain. Aku sempat berpikir kamu lari dan menghilang dariku. Hingga suatu hari, seorang wartawan memberiku sebuah kliping,” kata Agung terbata-bata sembari mengeluarkan sebuah lembar kliping berita yang sudah sangat lusuh, “dari kliping itu aku tahu keberadaanmu. Kamu terbaring koma. Dan dari orangtuamu aku mengetahui kalau malam itu sepulang dari tempat ini dua tahun yang lalu, kamu bertengkar dengan mereka. Kamu mengatakan pada orangtuamu tentang rencanaku bertunangan denganmu.”

Dira melihat kliping koran yang sudah sangat lusuh itu. Itu fotoku, gumamnya.

“Lalu orangtuamu meminta bantuanku untuk menyadarkanmu dari koma. Setiap pagi sebelum ke kantor aku mengunjungimu di rumah sakit. Saat istirahat makan siang, aku mendatangimu. Dan malam sepulang dari kerja, aku menemanimu dan mengajakmu berbicara. Aku sering membacakanmu cerita, puisi, dan tulisan-tulisan yang pernah kamu buat di koran sekolah.”

Kamu jangan bercanda, Gung. Aku masih sehat sekarang? Tidakkah kamu lihat kalau aku baik-baik saja?

“Sampai suatu kali orangtuamu memintaku menikahimu dengan maksud siapa tahu setelah pernikahan kita kamu bisa sadar dari koma, Ra,” kata Agung sambil mengusap-usap cincin emas yang melingkar di jari manisnya.

Itu cincin pernikahan kita, Gung?

“Ini cincin kita sayang. Tanda cinta kita. Dan aku akan selalu mengenakan ini sampai hari kematianku, Ra.”

Agung, aku sungguh tidak mengerti maksudmu. Kamu meninggalkanku Gung. Kita menikah? Kau jangan mempermainkanku, Gung. Dira berusaha menjerit tetapi satu kata pun tidak berhasil keluar dari mulutnya.

“Cincin ini akan selalu di jariku, sampai kapan pun. Sampai nanti aku bisa kembali bertemu denganmu. Sampai nanti aku bisa kembali melihat senyummu. Membelai rambutmu. Menggenggam tanganmu,” kata Agung dengan terbata-bata.

Dira berusaha menggenggam tangan Agung, tetapi entah mengapa ia tidak bisa menyentuh tangan pria yang masih sangat mencintainya itu. Dira kembali berusaha menyentuh pipi Agung yang penuh dengan air mata, tetapi lagi-lagi Dira tidak bisa sama sekali menyentuh Agung.

Agung, ini aku. Aku di hadapanmu sekarang. Dira terus berusaha mengeluarkan kata-kata dari mulutnya. Tetapi mulutnya masih terkunci dan tidak bergerak sedikit pun meski berulang kali ia berusaha membuka mulutnya lebar-lebar.

Kali ini Dira memiringkan tubuhnya. Agung, ini aku. Agung lihat aku!  Dan tatapan Agung masih lurus ke depan. Tajam dan kosong.

Dira menyadari kini jika Agung tidak mengetahui keberadaannya, karena tatapan Agung selalu lurus ke depan sementara dia sudah berulangkali memiringkan tubuh dan kepalanya. Apa yang terjadi padaku? tanya Dira dalam hatinya.

 “Pagi ini, kamu meninggalkanku untuk selama-lamanya. Aku hancur, Ra. Hancur,” ujar Agung sembari menangis. “Aku tidak ingin kehilanganmu. Ini semua salahku.”

Dira terdiam. Dan tiba-tiba ia melihat bayangan dirinya yang ditabrak mobil di tengah jalan. Ia juga melihat dirinya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Ia pun melihat Agung duduk di samping ranjangnya, sembari membacakan sebuah cerita untuknya. Ia juga melihat sekelebat gambaran pernikahannya dengan Agung. Dan ia melihat dirinya menggunakan pakaian pengantin, tetapi ia tak sadarkan diri dan tergolek lemah. Lamat-lamat ia mendengar ikrar pernikahan yang diucapkan Agung, dan bersamaan dengan itu ia juga mendengar isak tangis dari Mama dan adik perempuannya.

Dira pun melihat upacara pemakaman yang terjadi tadi pagi. Bahkan semua tangisan dari orang-orang yang menghadiri pemakamannya semakin terdengar jelas ketika gundukan tanah sedikit demi sedikit mulai menimbun peti jenazahnya yang berwarna putih. Dan ia melihat Agung menangis tanpa suara sembari memegang foto dirinya.

Tersadar dengan semua peristiwa yang telah dilewati tanpa ia sadari, Dira pun terdiam lama sembari menangis di dalam hatinya. Yang dikatakan Agung semua benar. Aku selama ini terbaring koma akibat peristiwa tabrakan itu. Agung tidak menghilang dan meninggalkan aku. Aku yang meninggalkan dirinya.

Setelah lama terdiam, akhirnya ia mengingat dengan jelas semua kejadian yang sesungguhnya. Ia sudah meninggal tadi pagi. Dan selama ini di sudut kafe tempat ia duduk, tak satu pun orang yang melihat dan menyadari keberadaannya. Termasuk Agung, pelayan kafe, dan semua orang yang dari tadi lalu lalang di dekat mejanya.

Menyadari kenyataannya yang sesungguhnya, Dira pun berdiri mendekati Agung yang menangis sesengukan di atas meja. Dengan sekuat tenaga, ia berusaha menyentuh pundak Agung, tetapi semakin kuat ia mencoba semakin ia tidak bisa menyentuh Agung. Tuhan, izinkan aku menyentuhnya sekali saja. Agar ia tahu aku selalu ada di dekatnya. Agar ia tahu aku sangat mencintainya,” gumam Dira memanjatkan doa di dalam hatinya.

Dira memejamkan matanya. Semua kisah hidupnya dengan Agung, satu persatu melintas dalam benaknya. Sejak dari hari pertama ia berjumpa Agung di ruang UKS, hingga hari terakhir ketika ia merasakan keningnya dikecup lembut oleh Agung.

Aku mencintaimu, cinta pertamuku. Untuk selamanya sayang, gumam Dira sambil mengecup kening Agung.

Agung mengangkat wajahnya. Ia merasakan sesuatu di keningnya, tetapi ia tidak tahu apa itu. Beberapa saat kemudian, sekejap ia mencium aroma parfum yang biasa dikenakan Dira.

***T A M A T***

 

Written by Rolan Sihombing

December 11, 2012 at 7:00 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: