Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Hubungan Kumis Dengan Kepemimpinan

leave a comment »

Jabatan kepemimpinan ditambah kumis menghasilkan arogansi. Tidak logis memang, tetapi teori tidak masuk akal ini kembali menghampiri saya dalam realita. Memang tidak menghampiri saya secara langsung, tetapi berdasarkan penuturan orang-orang dekat yang mengalami luka batin akibat arogansi sang pemimpin berkumis, saya jadi sungguh memikirkan ulang untuk memelihara kumis sekarang.

Kemarin, mewakili kantor, saya berkesempatan menghadiri Misa pesta perak pelayanan dari seorang Romo yang cukup punya nama di Ruteng. Saya tidak perlu menyebut nama Romo tersebut, karena pamali kata orang Sunda. Sebut saja Romo X. Misa dan pesta perak Romo X diadakan di sebuah Paroki yang cukup besar di salah satu Desa di Ruteng. Paroki ini juga membawahi sebuah sekolah asrama yang menghasilkan cukup banyak alumni-alumni berkualitas yang menampuk jabatan strategis di Manggarai, NTT maupun Nasional. Dan Romo X adalah satu lulusan SMP ini yang bisa dibilang berhasil dalam struktur kepemimpinan rohani di Keuskupan Ruteng.

Saat saya mendengar kata sambutan yang disampaikan oleh salah seorang Romo yang cukup dekat dengannya, semua pujian yang setinggi langit dialamatkan kepada beliau. Dan memang harus diakui jika prestasi Romo X patut diacungi jempol. Saya sendiri sangat kagum dengan semua pencapaian beliau, dan bahkan jujur saya terinspirasi meniru jejak prestasi yang telah diwariskan beliau.

Dikarenakan salah satu rekan di kantor adalah anggota panitia pesta perak pelayanan Romo X, maka salah satu topik diskusi pada devosi pagi ini di kantor adalah mengenai pesta dan pribadi Romo X. Dan saya berkesimpulan prestasi setinggi langit yang dicapai ternyata tidak berbanding lurus dengan respek orang-orang yang ada di sekitar kepemimpinannya. Satu kata yang muncul sebagai kesimpulan dari diskusi kantor pagi ini, arogansi. Dan entah mengapa kumis sang Romo X pun dikait-kaitkan oleh salah seorang teman sebagai legalitas dari arogansi kepemimpinannya.

Terlepas dari urusan kumis, arogansi bisa menjadi godaan kepemimpinan. Ketika seorang pemimpin berhasil merintis sebuah perubahan dengan susah payah dari awal, wajar saja ia menjadi arogan ketika keberhasilan sudah diraihnya. Contoh Romo X tadi. Beliau memulai pelayanan imamat di sebuah desa terpencil di Manggarai ketika segala sesuatu masih minim di desa tersebut. Bahkan untuk mencapai desa itu dari Ruteng pada saat ia menerima pengutusan dari Uskup, ia hanya diberikan dua pilihan yaitu naik kuda atau jalan kaki. Dan tidak hanya beliau berhasil mencapai desa tersebut, ia pun berhasil menyulap daerah itu menjadi desa yang mandiri. Karirnya pun makin menanjak sejak kesuksesannya mengembangkan pelayanan di desa terpencil tersebut.

Tetapi sebagai seorang yang suka berpikir, saya tentu tidak puas dengan kesimpulan tersebut. Karena banyak juga pemimpin yang berhasil tetapi tetap menunjukkan kesederhanaan dan sikap yang rendah hati.

Sebut saja Mahatma Gandhi. Manusia fenomenal yang bernama asli Mohandas Karamchand Gandhi bahkan enggan diberikan nama Mahatma yang dalam bahasa Sansekerta memiliki arti manusia berjiwa agung. Ia tidak ingin disejajarkan dengan Dewa, dan dipuja-puja setinggi langit meskipun ia tidak hanya merubah India tapi juga merubah dunia. Bahkan hingga akhir hayatnya, ia masih menenun pakaiannya sendiri. Warisannya bukan harta yang melimpah. Bahkan hadiah Nobel pun tidak pernah ia dapatkan. Tetapi pengaruhnya betul-betul nyata sehingga Albert Einstein pernah menyatakan, “Mungkin para generasi berikut akan sulit mempercayai bahwa ada orang seperti ini yang pernah hidup di dunia ini.”

Dan Gandhi berkumis.

Jadi apakah pemimpin berkumis kebanyakan arogan? Bisa ya dan bisa tidak.

Apakah kepemimpinan sesungguhnya? Kepemimpinan adalah melayani. Tidak kurang dan tidak lebih. Semakin tinggi seorang pemimpin berada dalam sebuah struktur organisasi, semakin besar perilaku dan karakter melayaninya.

Sederhana memang tapi sulit untuk dilakukan. Buktinya banyak pemimpin berkumis arogan.

Dan kemungkinan besar Isa Almasih pun memelihara kumis, jenggot dan brewoknya, seperti kebanyakan orang-orang Yahudi pada zaman itu. Dan Ia tidak arogan.

Written by Rolan Sihombing

December 6, 2012 at 9:55 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: