Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Legenda Negeri Penuh Nyanyian: Bab 1

leave a comment »

Bab 1

Ponsel Axel berdering. Sebuah email baru baru saja diterima Axel.

Buka e-mailmu ya, ayah baru saja kirimkan tiketmu untuk ke Bangkok. Sampai ketemu nanti malam di rumah Ayah. NB: Nanti supir ayah yang akan menjemputmu di bandara.

Dengan berat hati Axel pun mengunduh dokumen yang terlampir di email tersebut.

Setelah hari ini, Ayah tidak akan bisa memaksaku lagi. Ini yang pertama, dan yang terakhir, Axel mengomel pelan.

Semenjak ayahnya diangkat menjadi Direktur Regional Asia di sebuah LSM Internasional, sudah setahun ini ayah dan ibu tiri Axel tinggal di Bangkok. Sudah puluhan kali, ayahnya meminta Axel datang ke Bangkok untuk menghabiskan liburan. Dan seperti biasanya pula, Axel pasti akan menolak. Beragam alasan akan diutarakan Axel sehingga bisa terbebas dari keharusan menemui ayahnya itu.

Seperti liburan-liburan yang lalu, Axel sebenarnya sudah berencana menghindari ayahnya. Tetapi karena Om Willy, adik Ibunya yang adalah Pastur, berkali-kali membujuknya sehingga akhirnya Axel bersedia menemui ayahnya di Bangkok.

“Baiklah Om aku akan pergi ke Bangkok. Tapi untuk kali ini saja. Karena setelah liburan kali ini, aku tidak akan pernah mau lagi ketemu Ayah,” kata Axel beberapa hari yang lalu. “Jika setelah ini Om masih memaksaku untuk bertemu Ayah, aku akan pergi ke tempat yang satu orang pun tidak akan tahu.”

“Iya Axel. Yang penting kau rayakan dulu kelahiran adikmu, minimal sehari saja,” kata Om Willy. “Om yakin Ayahmu akan mengizinkanmu kembali ke Bandung, meskipun kamu hanya sehari di sana.”

Om Willy memang selalu bisa membujuk Axel. Seburuk apa pun kondisi emosi Axel, adik laki-laki ibunya yang semata wayang inilah yang akan membuat rengutan di wajah Axel berubah menjadi senyuman. Terlebih sejak ibunya meninggal, Om Willy adalah satu-satunya orang yang dipercaya Axel. Bahkan Om Willy pula yang menjadi teman bicara Axel satu-satunya saat ini.

Setelah selesai mengunduh tiket yang dikirimkan ayahnya, Axel memencet tombol-tombol ponselnya.

“Bandung Travel, selamat siang. Dengan Rini di sini. Ada yang bisa saya bantu?”

“Saya mau pesan travel untuk ke Bandara Soekarno Hatta.”

“Baik. Atas nama siapa, Mas?” tanya gadis layanan pelanggan di ujung telepon.

“Axel.”

“Baik Mas Axel, untuk pesawat keberangkatan jam berapa?”

“Jam 7 malam.”

“Baik Mas Axel. Travel yang tersedia untuk keberangkatan pesawat malam, akan berangkat 1 jam lagi. Mas Axel bisa segera ke pool, dan nanti bisa langsung bayar di kasir kami.”

“Ok.”

“Terima kasih sudah menghubungi Bandung Travel. Semoga tiba di tempat tujuan dengan selamat.”

Axel mengakhiri panggilan teleponnya. Dengan berat hati, ia mengambil tas ransel yang ada di lemari di sudut kamarnya. Tanpa berlama-lama, ia mengambil pakaian seadanya dan memasukkan pakaian itu ke dalam tas ransel yang akan ia bawa ke Bangkok.

Setelah membasahi mukanya dengan air dan mematikan lampu kamarnya, Axel pun keluar dari kamar. Tidak lama kemudian ia sudah berada di dalam angkutan umum yang membawanya ke pool Bandung Travel.

Written by Rolan Sihombing

November 28, 2012 at 9:14 am

Posted in Fiksi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: