Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Legenda Negeri Penuh Nyanyian

leave a comment »

Prolog

Hampir semua anak di dunia menyukai liburan sekolah. Tetapi Axel berbeda. Ia benci liburan sekolah.

Tidak ada yang mengetahui secara persis mengapa Axel membenci liburan. Karena memang Axel tidak pernah menunjukkan secara terang-terangan mengenai kebenciannya pada liburan. Guru-guru di SMP Dian Harapan Bandung pun hanya tahu jika Axel yang sekarang sangat berbeda dengan Axel yang dulu. Bukan perbedaan secara fisik, tetapi perbedaan secara perilaku sehari-hari di sekolah.

Bagi yang mengenal Axel sejak SD, mereka akan sepakat bahwa dulu Axel adalah seorang anak yang ceria, penuh percaya diri, dan mudah berteman. Dan tentu tidak ada yang menyangsikan kecerdasan Axel. Sejak kelas 1 hingga 6 SD, Axel selalu mendapatkan ranking 1.

Tetapi mendadak pada suatu hari setahun yang lalu, Axel yang mereka kenal penuh dengan keceriaan tiba-tiba berubah menjadi pemurung dan penyendiri. Banyak sekali kabar burung yang beredar tentang perubahan sikap Axel tersebut. Kabar yang banyak beredar adalah Axel stress karena tidak mampu mengikuti pelajaran di SMP berstandar internasional itu. Sesuatu yang tidak mungkin sebenarnya, sebab nilai-nilai ulangan Axel selalu bagus. Yang pasti tidak ada yang mengetahui alasan pasti mengenai perubahan sikap Axel pada bulan kedua sejak ia duduk di bangku kelas 7 di SMP Dian Harapan.

Sekarang hampir setiap hari di sekolah, Axel tidak pernah keluar dari kelas, bahkan pada saat jam istirahat. Mungkin jika ia terpaksa harus ke toilet, barulah ia keluar dari kelas. Tidak sampai 5 menit saja ia di luar kelas karena setiap kali sebelum bel berdentang, teman-temannya akan melihat ia sudah duduk di bangku belakang, tempat sucinya di kelas, dimana ia selalu duduk sendiri.

Bahkan hampir sepanjang hari, sepatah kata pun nyaris tidak terdengar dari mulutnya.

Seperti saat sekarang ketika jam pelajaran kosong, hampir semua siswa kelas 8—kecuali Axel tentunya—bercerita dengan gembira mengenai rencana liburan mereka yang dimulai esok hingga 3 minggu ke depan.

Stella misalnya. Ia bercerita dengan semangat—dan sedikit pongah seperti biasanya—mengenai rencana liburannya ke Universal Studio di Orlando, Amerika Serikat.

Ardi pun tidak mau kalah. Dengan kesombongan yang hampir menyamai Stella, ia pun bercerita mengenai rencana liburan bersama ayahnya yang adalah pemilik salah satu jaringan hotel terbesar di Indonesia. “Aku akan menghadiri peresmian hotel Papa yang ke 30 di Pulau Lombok,” kata Ardi sambil mengunyah roti. “Sebenarnya sih aku bosan ke Lombok, tetapi karena Papa berjanji akan mengizinkanku memencet tombol peresmian, jadi aku ikut saja.”

Ketika tak ada satu lagi siswa yang belum bercerita mengenai rencana liburannya, maka semua mata memandang ke bangku belakang mengharapkan Axel akan menceritakan rencana liburannya. Axel bicara mengucapkan satu kata saja sudah merupakan sesuatu yang langka, apalagi mendengarkan rencana liburannya.

“Kenapa?” tanya Axel kepada semua teman yang memandangnya.

“Kami ingin tahu rencana liburanmu.”

 “Urusi saja diri kalian,” kata Axel.

“Sudah biarin aja. Hantu mah gak usah diurusin,” kata Ardi yang disusul suara tawa berderai seisi kelas.

Axel hanya diam sambil mengeraskan volume pemutar MP3 yang selalu ia bawa setiap hari di tas ranselnya.

Tidak sedikit orang yang tahu, perubahan sikap Axel dimulai sejak kedua orangtuanya sepakat bercerai satu minggu sebelum ia resmi menyandang status sebagai siswa kelas 7 SMP Dian Harapan. Berdasarkan putusan hakim yang mengabulkan permohonan Ibu Axel atas hak asuh padanya, Axel bisa tinggal dengan Ibunya di Bandung. Sedangkan Ayahnya pada saat itu memilih untuk tinggal di Jakarta. Sehingga Axel hanya bisa bertemu Ayahnya sebulan sekali pada akhir pekan, ataupun pada saat hari libur nasional.

Pada suatu akhir pekan—2 bulan setelah Ayah dan Ibunya berpisah—Axel mulai memahami mengapa Ayah dan Ibunya bercerai. Pada saat itu, Ayahnya memperkenalkan seorang wanita yang sangat cantik. Wanita itu jauh lebih muda dari Ibunya yang mulai sakit-sakitan. Dan ayahnya selalu menatap wanita itu dengan penuh kemesraan sehingga Axel merasa diabaikan hari itu.

Akhir pekan itu menjadi awal dari keenganan Axel untuk bertemu Ayahnya. Ia merasa lebih baik menghabiskan akhir pekan bersama Ibunya. Terlebih kondisi Ibunya dari hari ke hari semakin parah saja. Tak jarang pula Axel terpaksa absen dari sekolah, karena kondisi kesehatan Ibunya.

6 bulan setelah Ayah dan Ibunya bercerai, Axel secara tak sengaja membaca pesan singkat yang Ayahnya kirimkan ke ponsel Ibunya.

Besok aku akan menikah dengan Anita, dan dua minggu setelah pernikahan aku pindah ke Bangkok. Bisakah kau membujuk Axel agar menghabiskan akhir pekan sebelum kepindahanku ke Bangkok. Trims.

Setelah selesai membaca pesan itu, Axel pun semakin membenci Ayahnya. Dan agar ia tidak bertemu lagi dengan Ayahnya, ia pun menghapus pesan singkat itu.

Suatu hari Ibunya memanggil dan berkata, “Axel, Ayah meminta kamu ke Jakarta. Karena ia akan pindah ke Bangkok, jadi Ayah ingin bertemu kamu.”

“Tidak. Aku tidak akan pernah lagi mau bertemu orang itu.”

“Kamu tidak boleh begitu, Nak. Sekali ini saja. Toh sudah lama sekali ia tidak bertemu kamu. Ia pasti sangat merindukanmu,” kata Ibunya.

“Aku gak mau Bu. Kalau orang itu sayang kepadaku dan sayang Ibu, kenapa dia meninggalkan kita,”  kata Axel sambil menahan tangisan.

“Tapi dia masih Ayahmu, Nak.”

“Aku bukan anaknya, dan dia bukan ayahku. Aku cuma punya Ibu. Titik.”

“Tapi, Nak…”

“Tidak Bu. Kalau aku bilang tidak, berarti tidak.” Axel pun meninggalkan Ibunya dan masuk kamar sambil membanting pintu.

Axel juga berulang kali mematikan panggilan telepon dari Ayahnya yang bermaksud pamitan kepada anak semata wayangnya itu. Hingga suatu ketika, Ayahnya datang ke Bandung dan menjemputnya di sekolah. Meski berusaha kabur, tetapi akhirnya Ayahnya berhasil membawanya menginap di Jakarta.

Sepanjang hari itu di rumah Ayahnya, Axel tidak bicara sepatah kata pun. Bahkan ia menolak untuk makan dan juga minum. Dan keesokannya, adalah hari yang tidak pernah dilupakan Axel. Ibunya meninggal dunia.

Sendirian. Tanpa seorang pun di saat-saat terakhirnya.

“Ayah jahat!” teriak Axel berulang-ulang saat gundukan tanah sedikit demi sedikit menutupi peti jenazah Ibu yang sangat ia cintai. Axel yakin Ibunya tidak akan meninggal jika ia tidak dibawa paksa ke Jakarta sehari sebelumnya.

Berbulan-bulan setelah Ibunya meninggal, hampir setiap hari Axel mengunjungi tempat peristirahatan Ibunya yang terakhir. Tetesan air mata yang ia tumpahkan tidak dapat mengobati rasa bersalah karena tidak berada di samping Ibunya pada detik-detik terakhir. Bahkan juga tidak bisa mengurangi rasa bencinya kepada Ayah yang dia anggap menjadi penyebab kematian Ibunya.

Sejak hari itulah, Axel membenci liburan.

Written by Rolan Sihombing

November 27, 2012 at 3:44 pm

Posted in Fiksi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: