Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Saling Serang Para Pejabat Negara

leave a comment »

Kekisruhan politik di negeri ini memang tak akan habis-habisnya. Khususnya baru-baru ini beberapa anggota DPR angkat bicara menantang Dahlan Iskan membeberkan dengan terang benderang siapa saja anggota DPR yang disinyalir suka minta jatah ke BUMN. Dalam istilah Pak Dahlan, kongkalikong.

Seperti tidak terima lembaga yang dipimpinnya dizalimi, Ketua DPR RI Marzuki Alie, dari kursi panas Mata Najwa sempat menyatakan ketersinggungannya karena Pak Dahlan Iskan melakukan generalisasi bahwa semua anggota DPR itu bobrok. Dengan gayanya yang “berkesan” lugu, Pak Dahlan Iskan menyatakan akan meralat ucapannya jika ia melakukan generalisasi dan memukul rata kalau semua anggota DPR bobrok. 

Generalisasi, sebuah istilah yang pertama kali saya kenal secara mendalam ketika mengikuti kuliah Ilmu Logika. Generalisasi itu kurang lebih seperti ini. Si A adalah pedagang telur di Pasar Ruteng. Ia jujur dan tidak pernah menipu pembelinya. Si B juga berjualan di Pasar Ruteng, tetapi ia berjualan bumbu-bumbu dapur. Ia juga jujur karena timbangannya selalu pas, dan bahkan kadang sering memberikan lebih kepada pembeli. Si C yang lapaknya tak jauh dari Si A, juga dikenal sebagai pedagang buah yang jujur. Jika ada pembeli yang menanyakan apakah buahnya manis, ia akan menjawab manis sambil memberi sampel buah kepada pembelinya. Dan ketika buah itu dikupas di rumah oleh sang pembeli, memang betul kalau buah itu benar-benar manis.

Kesimpulan, berdasarkan perilaku 3 pedagang itu maka bisa dikatakan semua pedagang di Pasar Ruteng sangat jujur. Benarkah demikian? Bisa ya, bisa pula tidak; alias kebenaran probabilitas. Tetapi apakah itu merupakan kebenaran? Ya, kesimpulan itu bisa dianggap sebuah kebenaran meski sementara. Generalisasi ini akan menjadi kebenaran yang sempurna jika seluruh fenomena yang menjadi dasar kesimpulan tersebut diselidiki secara menyeluruh. Dan jika ini dilakukan, tidak akan ada satu pun yang bisa membantah bahwa seluruh pedagang di Pasar Ruteng sangatlah jujur. Tetapi sebaliknya, jika ternyata semua fenomena diselidiki dan didapatkan bahwa ternyata hanya A, B, dan C yang jujur maka artinya kebenaran sementara mengenai kejujuran pedagang-pedagang di Ruteng dianggap batal dan tidak valid.

Dengan demikian apakah generalisasi itu haram? Apakah ia tidak boleh dijadikan salah satu metode pengambilan kesimpulan sehingga Marzuki Alie harus merasa tersinggung jika semua anggota DPR yang ia pimpin itu tukang kongkalikong?

Generalisasi itu sah. Dan sebagai ketua lembaga tinggi negara, Pak Marzuki sepantasnya tidak mesti tersinggung. Ketersinggungan beliau dan juga beberapa anggota DPR yang ramai angkat suara menantang Pak Dahlan untuk bicara apa adanya dan bukan ada apanya, menunjukkan ketidakarifan dan arogansi kekuasaan dari para wakil rakyat yang terhormat tersebut. Sepertinya para wakil rakyat kita perlu belajar dari Pak Harto yang selalu tersenyum meski tak ada satu pun orang yang bisa mengerti arti sebenarnya di balik senyum beliau.

Apa pelajaran yang bisa dipetik dari ihwal generalisasi ini?

Keberadaan satu individu itu juga keberadaan satu organisasi atau himpunan yang lebih besar dari individu-individu yang lain. Kita tidak bisa lagi mengatakan, “Itu kan oknum. Jadi tidak semua begitu.” Betul, generalisasi pun bisa tidak sempurna; tetapi satu individu itu memiliki peran yang sangat besar dalam menggambarkan keseluruhan himpunan individu-individu yang lain. Pepatah mengatakan, “Nila setitik rusak susu sebelanga.”

Inilah kearifan dunia timur yang mungkin agak mulai dilupakan oleh orang timurnya sendiri. Dunia timur tidak pernah merasa lepas dan terpisah dari lingkungan yang di sekitarnya. Seperti yang pernah saya tulis di SINI, manusia timur memandang alam sebagai satu realitas tak terpisahkan dengan dirinya.  Jadi segala tindakan manusia yang berhubungan dengan alam, haruslah diperhitungkan dengan hati-hati. Karena ketika satu tindakan nir-etis terhadap alam dilakukan oleh seorang individu, maka konsekuensinya adalah munculnya berbagai kekacauan dalam ekosistem yang akhirnya bermuara pada timbulnya berbagai bencana tak alami. Oleh karena itu, sepatutnyalah manusia berprilaku layaknya anggota-anggota rumah tangga lainnya seperti tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme yang secara inheren membentuk jejaring kehidupan untuk menyokong kehidupan itu sendiri (Capra, 2004:235).

Jika satu orang melakukan tindakan nir-etis, maka seluruh tatanan akan hancur. Jika satu orang di kantor melakukan pelanggaran, maka corenglah seluruh kantor. Jika satu anggota DPR korupsi (tentu saja sekarang bukan hanya satu saja yang korupsi. Buanyaaaaaaaakkkkkk), maka seluruh lembaga dicap perompak negara.

Ini adalah kebenaran dunia timur yang harus kita hidupi kembali sehingga kita hidup selalu dengan kewaspadaan. Karena kita, dimanapun kita berada, adalah kepingan puzzle yang melengkapi sebuah gambar utuh yang dibangun dari kepingan-kepingan puzzle yang lain. Tanpa kita, kantor atau lembaga tempat kita bekerja tidaklah lengkap. Dengan kita melakukan kesalahan, maka rusak pula seluruh gambaran utuh dan indah yang ingin ditampilkan oleh organisasi atau bahkan lingkungan tempat kita berada.

Jadi, hati-hati dengan generalisasi. Jangan sampai Anda yang menyebabkan sebuah penyimpulan buruk mengenai lingkungan di mana pun Anda berada.

Salam Generalisasi!

Written by Rolan Sihombing

November 2, 2012 at 10:27 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: