Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Berani Salah Di Sekolah

leave a comment »

Para pecinta produk Apple tentu tidak akan percaya jika gambar di atas adalah salah satu produk buatan dari perusahaan yang telah  memenangkan perang paten melawan Samsung. Dalam rilis yang dikeluarkan situs money.cnn.com, produk Apple JLPGA Powerbook 170 didaulat sebagai salah satu dari 6 produk besutan Apple yang dinilai jelek. Laptop yang 500 buah diantaranya dibuat sebagai dedikasi untuk sebuah turnamen golf yang diadakan di Jepang pada tahun 1992, dinilai sebagai produk yang norak secara warna dan bahkan tidak mencerminkan kualitas semestinya dari lini produk Powerbook 170.

Apple sebuah perusahaan terkemuka yang memiliki reputasi sebagai perusahaan yang inovatif dan kreatif pun pernah mengeluarkan sebuah produk yang dinilai gagal. Tetapi Apple terus belajar dari kesalahan dan setelah dipimpin kembali oleh Steve Jobs, Apple kembali menghentak dunia industri komputer dengan produk-produk revolusionernya seperti iMac, Mac Air, iPod, iPhone dan iPad. Produk-produk Apple kini bisa dibilang menjadi incaran dari para pengguna gadget yang mengedepankan gaya, eksklusifitas dan performa.

Takut Salah Di Sekolah

Sekolah merupakan salah satu tempat di mana seorang siswa tidak boleh melakukan kesalahan. Saya sendiri adalah produk dari sebuah sistem pendidikan di Indonesia yang mengharamkan kesalahan. Sewaktu SD, hasil gambar saya dinilai tidak sesuai dengan yang dicontohkan oleh guru kesenian. Cap pembangkang, kurang kreatif dan tidak berjiwa seni pun dialamatkan kepada saya. Padahal kenyataannya, saya tidak suka menggambar. Menggambar adalah bukan cara saya berkesenian.

Sewaktu SMP, kegagalan saya meraih nilai ulangan yang bagus dalam pelajaran Matematika menyebabkan saya dinilai murid yang nakal dan bodoh. Saya senang berhitung, tetapi ada mata pelajaran lain yang lebih saya sukai kala itu yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Saya lebih senang bermain dengan kata-kata ketimbang menghitung sejumlah angka. Alhasil setiap kali ada pelajaran Matematika, saya sangat tidak bisa memfokuskan diri dengan baik di kelas.

Sewaktu saya SMU, pelajaran Matematika makin menjadi monster yang menakutkan. Meski kegemaran saya dengan bahasa, ilmu sosial, dan kisah-kisah orang sukses jauh lebih tinggi daripada permainan angka-angka tersebut, tetapi karena dulu ada kesan kalau anak IPS adalah kumpulan orang-orang kurang pintar dan bodoh dalam ilmu eksakta, ditambah stigma yang dilekatkan oleh oknum guru bahwa anak-anak IPS adalah kumpulan orang-orang nakal yang kelak pasti sulit mendapatkan pekerjaan, membuat saya terpaksa mengambil kelas IPA saat penjurusan dan menghadapi soal-soal matematika yang menyebalkan.

Kisah saya mungkin hanya segelintir dari pelbagai kisah-kisah yang dialami oleh orang lain yang mengalami periode pengharaman kesalahan di sekolah. Akan bertambah banyak lagi jika ditambahkan dengan kisah-kisah orang-orang yang dididik penuh kekerasan di sekolah bergaya semi militer yang sudah jadi rahasia umum amat tidak mengizinkan sebuah kesalahan. Melakukan kesalahan berarti minimal siksaan fisik pasti akan didapat.

Sebagai contoh, mengharamkan kesalahan dan kemudian mengganjar kesalahan tersebut dengan kekerasan, pun masih marak dipraktekkan oleh guru-guru yang menjadi mitra proyek perlindungan anak yang saya pimpin di Kabupaten Manggarai, NTT. Di depan mata saya sendiri, beberapa oknum guru tak segan-segan menjitak kepala muridnya; atau minimal meneriaki siswa yang ia nilai telah melakukan kesalahan. Di depan saya yang notabene seorang Child Protection and Advocacy Officer dari LSM yang menjadi mitra kerjanya saja dia berani berbuat itu, apalagi jika tidak ada saya.

Bahkan menurut laporan dari asosiasi orangtua murid di sebuah sekolah swasta di Ruteng, ada oknum guru yang tidak segan menendang seorang murid yang ia nilai melakukan kesalahan. Malahan sudah menjadi rahasia umum di Ruteng, ada beberapa guru yang tanpa tahu malu berulangkali diprotes oleh orangtua murid karena kedapatan menyuruh beberapa siswa yang ia nilai melakukan kesalahan untuk menimba air, mencuci piring hingga membersihkan rumah guru-guru tersebut di saat jam sekolah. Dan yang lebih menakjubkan lagi adalah mereka berdalih itu untuk melatih siswa-siswa malang tersebut untuk cakap bekerja.

Berani salah di sekolah itu sama saja siap-siap celaka menerima hukuman dari pengurangan nilai hingga hukuman badani atau corporal punishment.  Corporal punishment menurut definisi Konvensi Hak Anak PBB adalah segala bentuk hukuman yang melibatkan penggunaan kekerasan fisik  dan dimaksudkan untuk menyebabkan beberapa derajat rasa sakit atau ketidaknyamanan meski ringan.

Praktek corporal punishment di sekolah sudah dilarang penggunaannya saat ini di negara-negara Eropa (kecuali Prancis), Kanada, Kenya, Korea, Afrika Selatan, dan Selandia Baru.  Sayangnya Indonesia dan hampir kebanyakan negara Afrika dan Asia lainnya; termasuk 19 negara bagian di Amerika Serikat; masih melegalkan praktek hukuman badani atau corporal punishment kepada siswa-siswanya. Padahal jelas-jelas The New Swedish Parental Code, sebuah upaya awal pada tahun 1979 yang memicu pelarangan corporal punishment pada masa kini, menyatakan bahwa: “Anak-anak berhak atas perawatan, keamanan dan pendidikan yang baik. Anak-anak harus diperlakukan dengan hormat sebagai seorang individu dan tidak dapat dikenakan hukuman fisik atau perlakuan memalukan lainnya.”

Berani Salah Di Sekolah

Sebenarnya dapatkah kesalahan diizinkan terjadi di sekolah? Menurut Sir Ken Robinson, sangat boleh. Bahkan sekolah seharusnya mempersiapkan anak didik untuk berani menghadapi kegagalan. Dalam sebuah konferensi Ted dimana ia menjadi pembicara utama, ia mengatakan demikian:  If you’re not prepared to be wrong, you’ll never come up with anything original. Ketika sekolah tidak memberi ruang sedikit pun untuk sebuah kesalahan, kekurangan atau kegagalan, maka siswa-siswa yang dididik tersebut kelak tidak akan pernah menghasilkan karyanya yang otentik, ataupun juga menjadi orang yang betul-betul otentik di tengah masyarakat ketika dewasa.

Pola pendidikan yang berpotensi menempatkan anak untuk berada di posisi yang bisa dipersalahkan, harus diperbaharui dengan pola pendidikan yang mampu membuat seorang anak berani mengaktualisasikan segenap potensi, bakat dan kecerdasan otentik mereka. Terlebih lagi pola pendidikan yang melanggengkan budaya hukuman seperti corporal punishment, harus diharamkan prakteknya di sekolah-sekolah kita saat ini.

Dengan kata lain, pendidikan modern harus mengalami transformasi menjadi sebuah sekolah yang:

  1. Memastikan hak anak yang diatur dalam Konvensi Hak Anak, dan juga UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, menjadi aspek mendasar dalam penyelenggaraan pendidikan. Sekolah harusnya ramah terhadap hak anak meski anak tersebut melakukan sebuah pelanggaran hukum sekalipun. Karena siswa adalah manusia seutuhnya, bukan separuh manusia dikarenakan ia masih anak-anak, artinya seorang anak berhak memperoleh pemenuhan hak kemanusiaan.
  2. Menjadi laboratorium percobaan kreatif siswa dimana guru sebagai fasilitator yang membimbing proses belajar yang dilakukan oleh siswa. Artinya sekolah harus bersedia mentolerir sebuah kesalahan yang dilakukan seorang siswa dalam proses belajar yang ia lakukan. Dengan peran guru yang bukan sebagai polisi melainkan fasilitator, maka diharapkan kesalahan-kesalahan yang dilakukan seorang siswa makin lama makin berkurang.

Ketika sekolah tidak lagi antipati terhadap kesalahan ataupun kekurangan siswanya, maka di masa yang akan datang kita akan melihat pemimpin-pemimpin yang berani gagal. Karena setidaknya ia telah melakukan sesuatu meski gagal, daripada tidak pernah melakukan apa pun karena takut gagal. 

Di masa yang akan datang, ketika kesalahan bukan lagi sesuatu yang diharamkan, kita bisa melihat generasi yang berani mengeksplor ide-ide kreatif, inovasi-inovasi baru, dan gagasan-gagasan baru yang kelak dapat membawa kehormatan dan kebesaran bagi bangsa ini.

Mungkinkah terwujud? Semoga saja. Asal setiap guru dan para kaum pendidik lainnya, mau berkomitmen mendidik siswa-siswinya menurut jalan yang patut bagi mereka, dengan mengedepankan pemenuhan hak mereka sebagai anak, pasti kelak akan muncul generasi yang lebih baik dari generasi sebelumnya seperti kita.

Ini hanya sebuah usulan.

Selamat menjadi guru yang sesungguhnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: