Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Tidak Ada Anak Indonesia Yang Bodoh: Refleksi Kegiatan Pemetaan Potensi di Ruteng

leave a comment »

Semua anak dilahirkan pintar, demikian pernyataan Prof. Yohanes Surya. Pernyataan ini dapat diartikan bahwa semua anak memiliki potensi dan kecerdasan yang unik dan istimewa. Dengan demikian, ketika seorang anak dididik dan diarahkan untuk mau dan mampu mengoptimalkan seluruh potensi yang dimilikinya, maka anak tersebut dapat meraih keberhasilan yang paripurna dalam hidupnya. Dan sebaliknya, ketika seorang anak tidak diajar dan diarahkan untuk unggul sesuai potensinya maka dapat dipastikan anak tersebut tidak akan meraih fitrahnya sebagaimana maksud dan rencana yang Sang Penciptanya sudah tetapkan.

Oleh karena itu, perlu diajarkan kepada setiap anak mengenai potensi yang ia miliki sehingga ia bisa bermimpi sedini mungkin untuk kehidupan yang ingin ia miliki kelak ketika ia dewasa. Namun tidak hanya anak yang perlu diajar, orangtua, guru dan orang-orang dewasa lain yang mengasuhnya pun harus memiliki pemahaman mengenai potensi yang dimiliki anaknya. Sehingga diharapkan arahan untuk anak dapat menjadi optimal, dapat bersumber dari orangtua, guru, dan orang-orang dewasa yang di sekitarnya dan menyayanginya.

Dewasa ini telah berkembang teori kecerdasan majemuk yang ditemukan pertama kali oleh Howard Gardner. Menurut Howard Gardner, kecerdasan tidak lagi boleh hanya dipandang secara sempit lewat IQ (Intelligence Quotient), dan juga selain itu pola pendidikan pun tidak boleh lagi hanya berfokus pada kemampuan logis-matematis dan linguistik seorang anak didik. Karena kecerdasan tidak identik dengan IQ, dan tidak hanya bisa digeneralisasi hanya lewat kemampuan berhitung ataupun menulis.

Dari tujuh kecerdasan (bahkan sekarang berkembang menjadi sembilan) yang diteliti oleh Howard Gardner, setidaknya seorang anak memiliki sekurang-kurangnya satu jenis kecerdasan yang dominan. Dan agar kecerdasan ini bisa teridentifikasi sedini mungkin, dapat menggunakan metode kuesioner (salah satu metode yang paling sering digunakan) yang berisi pernyataan-pernyataan yang harus diberi skor nilai oleh setiap anak yang mengikuti kegiatan pemetaan kecerdasan diri.

Kegiatan inilah yang sudah beberapa kali diadakan oleh saya sebagai Child Protection and Advocacy Officer bekerjasama dengan program edukasi yang ada di Wahana Visi Indonesia ADP Manggarai. Kurang lebih sudah sekitar 200 anak binaan yang mengikuti kegiatan pemetaan kecerdasan diri. Kegiatan ini diadakan pertama kali pada tanggal 24-27 September 2012, dan diadakan lagi di SMPN 7 Cumbi pada 23-24 Oktober 2012.

Sebelum kuesioner dibagikan kepada tiap anak, fasilitator menyampaikan motivasi singkat yang mendorong para peserta untuk berani bermimpi dan mau bekerja keras mewujudkan mimpinya. Anak-anak juga diberikan informasi mengenai potensi dan kecerdasan unik yang dimiliki oleh mereka sehingga para peserta tersebut pun memiliki kepercayaan diri bahwa mereka istimewa.

Setelah motivasi singkat diutarakan, kuesioner yang berisi 133 pernyataan pun dibagikan kepada tiap anak, dan fasilitator juga menjelaskan teknis pengisian kuesioner tersebut. Setelah anak-anak memahami cara pengisian kuesioner, mereka pun diberi waktu 30-40 menit untuk memberi skor nilai pada tiap pernyataan yang ada.

Secara umum, para peserta dapat mengisi kuesioner yang beberapa diantaranya berisi pernyataan-pernyataan dengan kosakata Indonesia yang sangat baku. Namun jika dilihat dari ketepatan anak-anak memahami dan memberikan nilai skor pada tiap pernyataan, bisa disimpulkan kemampuan berbahasa Indonesia para peserta tes yang biasanya lebih sering menggunakan bahasa daerah baik di sekolah maupun di rumah, ternyata cukup baik juga. Anak-anak memang tidak sepatutnya diremehkan, karena sejatinya memang tidak ada anak Indonesia yang bodoh.

Dan akhirnya setelah diadakan penjumlahan dari tiap skor yang sudah dibubuhkan, dapat terlihat setiap peserta memiliki keistimewaan dan bakat individu yang sangat unik dan berbeda satu sama lainnya. Pula berdasarkan analisa tersebut, setiap anak diberikan informasi mengenai kemungkinan profesi atau karir yang dapat dimiliki mereka ketika kelak dewasa. Semakin baik jenjang profesi atau karir yang mereka pilih, tentulah akan semakin baik pula taraf penghidupan yang bisa mereka miliki nanti. Dan semakin baik taraf penghidupan yang bisa mereka raih kelak, semakin jauh perangkap kemiskinan akan membayangi kehidupan mereka kelak. Pendidikan memang bisa menjadi senjata pamungkas untuk memutus rantai kemiskinan dalam kehidupan seorang anak.

Namun selain itu juga, berdasarkan matriks kecerdasan individu mereka yang sudah terpetakan, orangtua dan guru dapat memahami keistimewaan dari tiap anak. Dan bahkan diharapkan orangtua dan guru dapat bersungguh-sungguh mengarahkan para peserta, baik di sekolah maupun di rumah, untuk semakin mengasah dan menajamkan potensi dan kecerdasan mereka yang istimewa tersebut.

Tindak lanjut dari kegiatan ini adalah pertama, perlu diadakan sebuah kelompok anak yang memiliki kesamaan bakat ataupun kecerdasan. Contoh jika terdapat sejumlah anak yang memiliki kecerdasan linguistik, maka anak-anak ini akan semakin terasah ketika sekolah ataupun komunitas masyarakat membentuk wadah penulis cilik dimana di wadah itu selain mereka dibekali dengan pengetahuan kepenulisan kreatif dan jurnalistik sederhana, mereka pun dapat menyuarakan partisipasi mereka dalam pengembangan komunitas desa melalui output tulisan yang bisa berupa mading sekolah/desa, ataupun blog dan website.

Begitu juga dengan kecerdasan-kecerdasan lainnya. Intinya setiap anak yang sudah terpetakan harus dikelompokkan dengan anak-anak lain yang memiliki kecerdasan serupa sehingga harapannya kelompok anak tersebut akan menjadi laboratorium dimana mereka bereksperimen mengoptimalkan bakat dan kecerdasan mereka.

Tindak lanjut yang kedua, perlu diadakan sebuah kegiatan dimana anak-anak makin diperkenalkan dengan pilihan-pilihan karir yang mereka bisa jalani kelak. Contoh kegiatan ini mungkin bisa seperti Career Day, ataupun melakukan kunjungan ke pelbagai tempat tertentu dimana terdapat profesi-profesi khusus yang mereka bisa lihat. Misalkan kunjungan ke redaksi koran, radio, televisi, kantor polisi, pemadam kebakaran dan pelbagai tempat kerja lainnya.

Semua anak dilahirkan pintar. Jika kita mendidik mereka di jalan yang benar, menanamkan benih mimpi kepada anak-anak sedini mungkin, dan menyediakan pelbagai kesempatan untuk mereka menampilkan keistimewaan mereka, maka mereka pun kelak dapat menjadi duta-duta masa depan untuk sebuah Indonesia yang lebih baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: