Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Murid Yang Berhasil Adalah Buah Guru Yang Berhasil

leave a comment »

Pasti hampir semua orang sudah menonton film “Gladiator” yang meraih Piala Oscar dalam 5 kategori, termasuk kategori Best Picture dan Best Actor. Saya sendiri secara pribadi sangat mengagumi akting ciamik dari Russel Crowe yang berhasil memerankan seorang Jenderal Roma yang dikhianati dan kemudian bertransformasi menjadi Gladiator ulung yang berhasil menyelamatkan Roma dari kehancuran awal. Sebuah film yang layak ditonton berulang-ulang, menurut hemat saya.

Gladiator (2000 film)

Gladiator (2000 film) (Photo credit: Wikipedia)

Salah satu adegan yang mengesankan dalam film ini adalah ketika Kaisar Marcus Aurelius dibunuh oleh anaknya sendiri, Commodus. Sesaat sebelum anak keji ini menghabisi nyawa ayahnya sendiri, Sang Kaisar mengatakan hal ini:

“Kesalahan-kesalahanmu sebagai anak adalah kegagalanku sebagai orangtua.”

Dan setelah Kaisar Marcus Aurelius wafat, sang putera mahkota yang sebenarnya tidak layak menjadi pemimpin, makin membuktikan cacat karakter dan juga kelemahan kepemimpinannya. Visinya yang keliru tentang Roma pun akhirnya berakhir di tangan mantan Jenderal kesayangan ayahnya, Maximus, dalam ajang duel di arena gladiator.

Yang patut menjadi pokok pemikiran kita hari ini adalah bahwa keberhasilan maupun kegagalan seorang anak ketika kelak ia dewasa, sangat tergantung dari peran orangtua dan juga orang-orang dewasa lainnya yang berada di sekeliling anak tersebut. Tidak hanya orangtua yang bertanggung jawab terhadap keberhasilan ataupun kegagalan seorang anak, guru pun memiliki tanggung jawab yang juga tidak kalah besarnya.

Seorang anak bisa menghabiskan minimal lima sampai enam jam di sekolah, yang berarti 1/4 bagian dari sepanjang hari yang ia miliki. Jika anak itu memiliki orangtua yang sibuk dan bekerja lebih dari delapan jam sehari, maka anak tersebut bisa dipastikan hanya memiliki waktu yang sangat sedikit dengan orangtuanya. Paling maksimal dua hingga tiga jam saja, dan biasanya pun kualitas dari dua hingga tiga jam ini pun bisa diragukan. Bahkan tak jarang komunikasi yang terjalin hanyalah sebuah komunikasi yang basa-basi saja. Percakapan antara individu-individu yang sudah penat karena kesibukan sepanjang hari.

Dengan demikian seperti yang saya sebutkan di atas, suka tidak suka, seorang guru akhirnya memiliki peranan yang cukup krusial terhadap keberhasilan ataupun kegagalan seorang anak ketika kelak ia dewasa. Guru akhirnya harus berperan sebagai pemimpin yang digugu dan ditiru oleh anak-anak yang menjadi muridnya. Semua hal yang baik dan pula hal yang buruk, didapatkan seorang anak dari salah satu sumber yang terdekat dalam hidupnya, yaitu guru.

Jadi jika seorang anak ketika dewasa menjadi koruptor, jangan-jangan ia mempelajarinya dari guru yang sering ia lihat mengkorupsi waktu dengan datang terlambat ke sekolah.

Jika seorang anak ketika dewasa memiliki etos kerja yang sangat rendah, jangan-jangan ia mempelajarinya dari guru yang malas mengajar dan hanya menyerahkan sebuah materi untuk dicatatkan di papan tulis. Ketika anak-anak sibuk mencatat, sang guru pun asyik dengan rokok, ponsel, atau gosip terkini dari para selebritas tanah air.

Tetapi sebaliknya, jika seorang anak kemudian berhasil dalam karir dan kehidupannya, jangan-jangan ia terinspirasi dari petuah dan nasehat guru yang selalu berdedikasi dengan tugas dan tanggung jawabnya.

Guru adalah pemimpin karena semua orang adalah pemimpin, dan kepemimpinan adalah pengaruh. Kepemimpinan yang baik akan menghasilkan pengaruh yang baik, dan tentu kepemimpinan yang buruk akan menghasilkan pula sebuah pengaruh yang buruk. Di tangan seorang guru, seorang anak bisa menjadi penjahat ataupun pejabat; seorang anak bisa menjadi Imam ataupun preman. Dengan kata lain, baik atau buruknya kelak bangsa ini sangat ditentukan oleh baik atau buruknya pengaruh yang ditularkan oleh seorang guru kepada seorang anak.

Itulah berkah dari tanggung jawab sebagai seorang guru. Menjadi inspirator bagi keberhasilan anak-anak bangsa. Tetapi juga sebagai kutukan, karena bisa pula menjadi kontributor bagi kecacatan karakter dan mentalitas anak-anak bangsa ini kelak.

Sudahkah kita menjadi Guru yang amanah?

Written by Rolan Sihombing

October 24, 2012 at 9:45 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: