Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Kerja Di NGO: Gaji Atau Pengabdian?

leave a comment »

Suatu kali seorang teman menuding kepedulian saya terhadap anak-anak miskin hanya karena kebetulan saya bekerja untuk organisasi kemanusiaan yang berkecimpung dalam pengembangan dan penanganan anak-anak miskin. Bahkan di pelbagai status Facebooknya, ia menyindir saya yang dianggapnya hanya memiliki kepedulian palsu kepada kaum yang terpinggirkan. Menjual kemiskinan orang untuk mendapatkan keuntungan diri sendiri. “You just care for the money, not for the poor it self,” demikian pernyataannya kepada saya beberapa waktu yang lampau.

Tidak dipungkiri banyak pekerja sosial, bahkan beberapa di antaranya saya tahu secara dekat, hanya bekerja karena digerakkan oleh uang. Bahkan beberapa teman saya yang lain, yang kebetulan baru saja lulus dari perguruan tinggi,  berhasrat sekali untuk bekerja di NGO karena alasan gaji yang ia kira besar. Padahal seharusnya uang ataupun gaji, tidak boleh menjadi motivasi untuk menjadi abdi masyarakat yang tertindas dan terpinggirkan.

Sejujurnya saya cukup terpukul ketika motivasi saya dalam membela orang-orang lemah diserang sebagai kepalsuan oleh teman saya itu. Dan lebih dari itu, saya sebenarnya sedih jika ada anak-anak muda yang ingin bekerja di NGO karena mengira upah yang akan ia terima besar.

Memang saya tidak menyangkal beberapa NGO asing memberikan jumlah gaji dan benefits yang cukup besar. Para pembaca pun bisa googling NGO mana saja yang memberikan gaji yang besar. Di pelbagai forum seperti Kaskus pun banyak informasi-informasi terkait jumlah gaji dan benefits yang diterima seorang pekerja sosial di NGO. 

Berikut lebih detailnya yang saya kutip dari http://truelia.wordpress.com/2011/12/24/standar-gaji-update/

GAMBARAN STANDAR GAJI NASIONAL TAHUN 2011 (dalam juta rupiah)

Pemerintah dan Semi-Pemerintahan.

  • PNS Analis Gol. IIIA Dep. Keuangan, gaji + tunjangan: 6,5
  • PNS Analis Gol. IIIB Dep. ESDM, gaji + tunjangan: 5,5
  • Commercial Specialist US Embassy: 15
  • Voucher Examiner US Embassy: 7,6
  • Account officer bank ternama: 7
  • Partner relation officer US Peace Corps: 9,7
  • Regional manager US Peace Corps: 11,3

Swasta

  • Editor fiksi: 4 – 6
  • Staff Pertamina (Persero, fresh graduate): 7
  • Staff perusahaan IT grade 6 : 4 – 5
  • Staff perusahaan IT grade 7: 5 – 9
  • Professional perusahaan IT grade 8: 9 – 15 + transport 1,75
  • Managerial perusahaan IT grade 9: 15 – puluhan + transport 9
  • Managerial perusahaan IT grade 10: di atas 30 – ratusan + transport 16
  • Programmer perusahaan otomotif: 12
  • Programmer perusahaan IT: 4
  • Senior office boy perusahaan “besar”: 5

NGO/LSM

  • Analyst/advisor (international NGO): 8 – 22 *new*
  • Admin officer: 6
  • Project officer: 15 (USD 88 per hari)
  • Project officer USAID: 9
  • Program officer British Council: start from 8,8
  • Communication officer British Council: start from 8,8
  • Regional contract development manager British Council: start from 14,5
  • Program manager AUSAID: start from 19 *new*
  • Senior program manager AUSAID: start from 25 *new*

Apa Yang Mendorong Saya

Bagaimana penghasilan yang saya terima di organisasi tempat saya mengabdi sekarang? Tentu saja itu adalah rahasia yang tidak boleh dipublikasikan secara luas. Selain menyalahi kode etik organisasi, tentu saja itu pun akan membuat saya dikenakan sanksi yang serius oleh pihak manajemen.

Namun lebih dari soal penghasilan, keindahan bekerja di NGO ataupun LSM sebenarnya bukan di tataran gaji. Beberapa teman saya yang bekerja di NGO besar pun banyak yang hijrah ke perusahaan profit meski gaji pokok yang mereka terima jauh lebih kecil, tetapi di perusahaan profit itu ia mendapatkan pelbagai benefit yang jauh lebih besar dari yang ia terima di NGO itu.

Sesungguhnya ada kepuasan yang jauh lebih besar daripada menerima sejumlah uang yang ditransferkan setiap akhir bulan, yaitu melakukan aksi nyata di tengah masyarakat yang sangat membutuhkan pertolongan. Apalagi ketika yang dikerjakan ternyata bisa membawa perubahan di tengah kaum marjinal baik secara signifikan maupun secara bertahap, maka tidak ada harta yang mampu menandingi kepuasan tersebut.

Dan alasan saya untuk tetap mengabdi di NGO, dan bukannya di gereja sebagaimana yang dilakukan oleh teman-teman saya yang lain, adalah karena melihat kontribusi yang jauh lebih nyata yang bisa saya berikan bagi negeri tercinta ini. Saya tidak mengatakan bahwa teman-teman saya yang sibuk melayani umat di gereja tidak memberikan kontribusi yang nyata, tetapi saya menyangsikan efektifitas hidup jika saya berada di gereja. Terlebih saya adalah tipe tukang protes yang gampang resah dengan pelbagai hal yang tidak ideal, dan sayangnya saya sering melihat yang tidak ideal dan hanya penuh retorika palsu pada saat di gereja. Sehingga berada di tengah masyarakat yang terpinggirkan jauh lebih membahagiakan bagi saya ketimbang berada di atas mimbar dan panggung gereja.

Dan pagi ini saya kembali menangis melihat kesemena-menaan yang dilakukan oleh para penguasa negeri ini, dan kembali diingatkan Sang Pencipta akan alasan eksistensi saya di kehidupan ini. Di tengah hebohnya kedatangan RI 1 ke Ruteng, dan sembari mendengar pidato beliau yang penuh dengan kata-kata indah, di luar lapangan Motangrua tempat beliau berdiri dengan gagah, masih banyak anak-anak di Ruteng yang putus sekolah dan menggadaikan impian mereka dengan bekerja dan menjadi tulang punggung keluarga mereka yang miskin. Di usia pada saat mereka seharusnya dididik untuk menjadi ahli waris kebesaran dan kemasyuran negeri ini, mereka justru harus bekerja untuk sekedar membeli beras sedikit bagi keluarganya. Di usia pada saat mereka diasuh dengan penuh kasih sayang, mereka harus mengalami kekerasan, pelecehan, dan pengabaian yang perlahan tapi pasti membunuhi fitrah mereka. Alih-alih menjadi pemimpin bangsa, mereka terpaksa kembali berputar-putar dalam kemiskinan yang kelak jauh lebih kejam ketika mereka dewasa dan memiliki keluarga.

Air mata yang diam-diam saya cucurkan pagi ini di tengah pidato SBY di acara perayaan 100 tahun Gereja Katolik di Ruteng itulah yang tidak pernah dilihat oleh teman saya yang mencerca motivasi pengabdian dan pelayanan saya. Dan memang seharusnya air mata itu tidak perlu ia ketahui sehingga persepsinya terhadap saya jadi berubah. Saya tidak butuh komentar teman saya itu untuk makin memotivasi komitmen saya di tengah masyarakat marjinal. Saya hanya cukup menangis di hadapan Pencipta saya yang pasti akan bertindak untuk membela anak-anak miskin.

Saya sangat bersyukur, Sang Penguasa Alam Semesta memakai saya yang jauh dari sempurna sebagai perpanjangan tanganNya kepada anak-anak miskin yang juga Ia cintai sepenuh hati. Dan menyadari kehormatan yang Ia berikan lewat tugas-tugas saya menjadi pembela anak, saya semakin menangis haru.

Kenikmatan tersebut tidak akan bisa dibeli dengan uang. Lagipula bukankah hidup ini seharusnya memberi dan bukan sekedar mendapat? Jika Anda setuju dengan saya, mari kita sibuk berlomba menabur manfaat di mana pun kita berada, baik di NGO, Pemerintahan ataupun Perusahaan Profit.

Selamat menabur manfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: