Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Khotbah Pertama Di Ruteng: “Yesus Dan Anak-anak”

leave a comment »

Selamat pagi Bapak Ibu dan saudara-saudara sekalian, ini kali pertama saya berbicara lewat mimbar khotbah setelah nyaris setahun tidak pernah melakukannya. Terakhir kali saya berkhotbah di depan orang-orang di dalam gereja adalah pertengahan tahun lalu di sebuah gereja Pentakosta di Medan. Dan pagi ini saya diminta oleh Pak Herman, gembala sidang kita untuk menyampaikan sebuah topik terkait bidang yang menjadi pengalaman profesional saya, yaitu anak-anak.

Seperti yang telah saya sampaikan minggu lalu, keberadaan saya di Ruteng selama beberapa tahun ke depan adalah terkait tugas pekerjaan dan pelayanan saya di Wahana Visi Indonesia sebagai petugas perlindungan anak. Saya diutus oleh organisasi untuk menyiapkan sebuah sistem pencegahan dan penanganan perlindungan anak secara formal dan informal di kabupaten Manggarai. Sebuah tugas yang berat namun menyenangkan. Terdengar gampang tetapi juga susah.

Itulah yang saya bisa simpulkan terkait bekerja dan melayani anak-anak. Berat namun menyenangkan. Gampang tapi juga susah. Menangani anak-anak adalah sesuatu hal yang gampang tapi susah. Gampang karena anak-anak itu bagaikan kertas kosong yang bisa kita tulisi apa pun. Mereka bisa menyerap apa pun yang kita berikan. Jika disodorkan hal apapun mereka juga akan menerima dengan senang hati.

Namun pada saat yang bersamaan juga susah, karena anak-anak itu masih sangat polos dalam cara berpikir. Hitam adalah hitam, sedangkan putih adalah putih. Tidak ada yang abu-abu bagi anak-anak. penilai yang jujur. Mereka akan mengatakan hal yang sebenarnya.

Saya lebih percaya diri jika berbicara di depan orang-orang dewasa seperti Bapak Ibu sekarang. Mengapa? Karena kalau saya menyampaikan sesuatu yang tidak benar atau meragukan, maka saya yakin Bapak Ibu tidak akan menyatakannya langsung ketika saya masih berbicara. Minimal Bapak Ibu akan mengkritik saya ketika saya selesai berbicara dan dilakukan tidak secara blak-blakan. Sedangkan anak-anak mereka akan dengan tanpa keraguan menyela pembicaraan saya bahkan tanpa keraguan juga menunjukkan isyarat kebosanan ketika saat saya berbicara terlalu panjang.

Itu hanya sebagian kecil dari ragam kesulitan dan kesenangan dalam melayani anak.

Pagi ini kita tidak akan berbicara mengenai pandangan saya mengenai anak-anak. Kita juga tidak akan membahas pandangan organisasi mengenai anak-anak. Dan kita juga tidak akan membahas pandangan para pakar tentang anak. Karena pandangan saya, pandangan pakar, dan juga pendapat organisasi tidaklah semulia dan seindah apa yang Yesus yakini mengenai anak-anak. Bahkan perlakuan seorang pemerhati anak sekaliber Kak Seto misalkan, tidak akan sedasyat seperti cara Yesus memperlakukan anak-anak.

Bagaimana keyakinan, dan sikap Yesus terhadap anak-anak? Mari kita buka Alkitab kita dan membaca salah satu bagian dari Injil Markus pasal 10 ayat 13 sampai 16. Markus adalah Injil yang paling pertama ditulis dari tiga Injil yang lainnya. Bahkan Injil Markus menjadi dasar dari penulisan dua Injil lainnya yaitu Matius dan Lukas. Jadi jika kita ingin mengetahui kisah pelayanan Yesus selama di tiga setengah tahun, maka Injil Markus bisa dijadikan sumber pertama yang otentik. Mari kita baca Injil Markus 10 ayat 13 hingga 16.

Yesus menginginkan anak-anak datang kepadaNya

Jika kita membaca Injil Markus, Matius, Lukas, dan Yohanes maka kita bisa melihat di dalam beberapa kali kesempatan Yesus juga melayani anak-anak. Yesus menyembuhkan anak Yairus, Yesus memberi makan lima ribu orang dengan roti dan ikan dari seorang anak, Yesus menempatkan seorang anak ketika para murid meributkan siapa yang terbesar di antara mereka, dan tentu saja Ia memberkati anak-anak seperti yang sudah kita baca dalam Injil Markus 10 ayat 13 sampai 16 tadi.

Dengan kata lain kita bisa menyimpulkan Yesus peduli pada anak-anak. Ia tidak hanya melayani orang-orang dewasa, tetapi Yesus juga memberi perhatian dan melayani anak-anak. Jika Yesus mau Ia bisa memikat para bangsawan, pengusaha, orang-orang kaya selama 3,5 tahun pelayananNya. Ia bisa lakukan itu, buktinya Zakheus, Nikodemus, Yusuf Arimetea mau menjadi pengikut Yesus. Dan jika Ia mau, seluruh orang kaya di Israel, bisa direkrutNya menjadi murid-muridNya. Jika Ia lakukan itu, Ia tidak akan bersusah payah memancing ikan dan memungut uang dari ikan itu untuk membayar pajak Bait Allah. Jika Ia memiliki banyak orang kaya di sekitarNya, pastilah Yesus tidak perlu hidup berpindah-pindah, tidur beralaskan rumput dan beratapkan bintang-bintang. Dalam waktu singkat jika banyak orang kaya menyokong pelayananNya, pasti Yesus sudah memiliki rumah, dan uang yang banyak untuk meluaskan pelayananNya hingga ke luar Israel.

Tetapi Yesus tidak lakukan itu. Bukan berarti Ia tidak peduli dengan orang kaya, tetapi Ia melayani orang-orang yang memang mau menyambutNya dan membutuhkanNya. Yesus mengatakan bukan orang sehat yang membutuhkan tabib, melainkan orang sakit. Sehingga orang-orang sakitlah yang banyak mengikuti Yesus, seperti perempuan pelacur, pemungut cukai, sampah masyarakat dan semua orang-orang yang bisa dikatakan sebagai golongan yang tidak dianggap oleh masyarakat. Golongan yang dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang merasa dirinya sehat seperti kebanyakan orang kaya dan tokoh-tokoh agama yang sering mencibir Yesus.

Yesus datang untuk mereka yang memerlukan Dia. Dan dari sekumpulan besar orang yang berbondong-bondong datang membutuhkan Yesus, anak-anak masih menjadi fokus perhatian Yesus. Jika diibaratkan Yesus sebagai seorang Hamba Tuhan modern, maka Yesus akan sangat sibuk sekali. Ia terlibat di pelayanan konseling, mulai dari para perempuan pelacur, tokoh agama dan politik, para petugas Dirjen Pajak, sampai kepada pasangan suami istri baik yang sudah lama menikah maupun baru menikah. Tidak hanya itu, Ia juga sibuk mengadakan pelayanan kesembuhan Ilahi, dari pagi hingga malam Ia sibuk menumpangkan tangan kepada semua orang yang sakit yang datang kepadaNya. Ia pun harus berkhotbah di sana-sini. Di pinggir pantai, Ia berkhotbah. Di atas bukit, Ia pun berkhotbah. Di kantor pemerintahan Ia berkhotbah, bahkan di ibadah rumah tangga Ia pun berkhotbah. Semua pelayanan dikerjakan Yesus. Sibuk luar biasa.

Namun di tengah kesibukanNya yang luar biasa, Ia tidak mengabaikan golongan orang yang paling sering diabaikan, yaitu anak-anak. Yesus tidak hanya fokus kepada orang dewasa, tetapi Ia juga memperhatikan anak-anak dengan sungguh-sungguh. Walau anak-anak tidak bisa memberikan sumbangan uang untuk pelayananNya, Ia tetap serius melayani anak-anak. Meski anak-anak itu tidak jago berdebat untuk meyakinkan orang-orang agar menjadi pengikut Yesus, Yesus tetap memberikan sebagian dari waktuNya yang terbatas kepada anak-anak.

Jika Yesus menyediakan waktuNya untuk melayani anak-anak, bagaimana kita sebagai orangtua? Apakah kita menyediakan waktu untuk anak-anak berbicara dengan kita? Atau kita hanya menyediakan waktu untuk memarahi anak-anak kita? Apakah ketika anak-anak datang kepada kita dan bercerita mengenai hari yang sudah dilaluinya, kita justru sibuk dengan koran, televisi, pekerjaan atau kesibukan kita sendiri?

Saya meskipun belum memiliki anak, tetapi saya sudah dititipkan 7 keponakan oleh Tuhan. Dan ketujuh keponakan ini memiliki keistimewaannya yang tersendiri, bahkan mereka memiliki cerita yang tersendiri. Meski saya bukan manusia dan paman yang sempurna, tetapi setiap kali mereka bercerita maka saya akan fokus mendengarkan cerita mereka. Tidak hanya dengan bahasa sapi, ”Hem…” tetapi bahkan acapkali saya terlibat dalam pembicaraan dengan mereka.

Mengapa saya lakukan itu? Saya menyadari mereka tidak akan selamanya berada dekat saya. Akan tiba waktunya kelak mereka menjadi dewasa, bekerja dan memiliki keluarga sendiri. Saya hanya punya waktu sekarang, yaitu ketika mereka kanak-kanak, untuk menginvestasikan nilai-nilai baik kepada mereka. Dan jika untuk menanamkan hal yang baik itu bahkan harus menyita sebagian waktu saya, saya dengan senang hati melakukannya itu untuk mereka. Sehingga kelak ketika mereka dewasa, mereka bisa jadi orang yang lebih baik dari saya. Mereka bisa tumbuh seperti yang Tuhan mau, dan tidak melakukan kesalahan yang sama yang saya pernah lakukan di masa lampau.

Bapak Ibu, mari kita teladani Yesus yang bersedia meluangkan waktu untuk melayani anak-anak yang sering diabaikan. Bahkan tidak hanya sering diabaikan, anak-anak kerap kali juga dianggap sebagai pengganggu. Yang menyedihkan adalah bahwa yang sering menghalang-halangi anak-anak untuk datang kepada Yesus adalah murid-muridNya. Orang-orang yang paling dekat dengan Yesus, yang paling mengerti intisari dari pelayanan Kristus, yaitu untuk menjadi jalan keselamatan bagi manusia yang sudah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah, malah menghalang-halangi anak-anak yang juga merupakan bagian dari rencana keselamatan yang Yesus berikan bagi manusia.

Siapa murid-murid Yesus dalam pengertian sekarang? Ya benar, kita adalah murid-muridNya. Kitalah yang sering menghalang-halangi anak-anak untuk datang kepada Kristus. Orang Kristen, Gereja.

Bagaimana cara kita menghalangi anak-anak untuk datang kepada Tuhan? Selama hampir 7 tahun lebih saya berkecimpung dalam pelayanan anak, baik di gereja maupun di organisasi-organisasi kemanusiaan, saya mengetahui salah satu cara yang sering digunakan oleh Gereja yang tanpa sadar justru adalah sebagai penghalang bagi anak-anak untuk datang kepada Kristus. Yaitu dana. Banyak gereja hanya mengalokasikan dana yang sangat sedikit untuk pelayanan anak. Bicara dana yang sedikit berarti terkait dengan program yang sedikit. Semakin sedikit dana yang dikeluarkan gereja untuk pelayanan anak, maka semakin sedikit program kerja yang bisa dicanangkan selama satu tahun.

Akibatnya program pelayanan anak, miskin kreasi. Programnya hanya itu-itu saja setiap minggu selama 12 bulan selama 12 tahun. Sehingga tidak heran, sekolah minggu adalah waktu yang paling membosankan. Itu pernah saya rasakan. Saya tidak suka menghadiri sekolah minggu karena cerita yang disampaikan oleh guru sekolah minggu saya hanya itu-itu saja. Cara penyampaiannya pun itu-itu saja. Tidak ada badut, tidak ada film, tidak ada panggung boneka. Karena anggaran untuk pelayanan sekolah minggu sangat sedikit sehingga kualitas guru sekolah minggu juga tidak meningkat. Dari terbit matahari sampai pada masuknya, dari kekekalan hingga kekekalan, sang guru sekolah minggu hanya bisa menyampaikan cerita tentang Zakheus yang naik ke atas pohon untuk melihat Yesus. Sampai murid-murid sekolah minggunya sudah jenggotan, yang ia ceritakan hanya Zakheus yang naik ke atas pohon untuk melihat Yesus. Sampai suatu kali guru sekolah minggu ini saking sudah tuanya dan tidak pernah belajar hal yang baru, dia bercerita bahwa suatu kali Lazarus naik ke atas pohon untuk melihat Yesus. Murid-muridnya yang sudah jago internetan, langsung cari di internet lewat ponsel mereka, dan mereka mengetahui bahwa sesungguhnya yang naik pohon adalah Zakheus. Karena anak-anak sekarang sudah sangat cerdas dan kritis, maka mereka serentak protes, ”Bu, bukan Lazarus yang naik pohon tapi Zakheus.” Karena sudah punya pengalaman yang luar biasa dalam dunia sekolah minggu, jadi ibu guru sekolah minggu ini mengatakan dengan tenang dan tanpa grogi, ”Hai Lazarus turunlah dari pohon itu. Karena itu tempatnya Zakheus, dan Aku ingin bicara dengan Zakheus bukan denganmu.”

Maukah kita menginvestasikan banyak hal untuk anak-anak kita? Mari kita beri waktu yang lebih untuk anak-anak kita. Sediakan waktu khusus untuk berbicara dengan mereka. Singkirkan kesibukan kita, dan mulai luangkan waktu lebih banyak untuk anak-anak kita. Bermain dengan mereka. Kelitiki mereka. Main kuda-kudaan dengan mereka jika mereka masih kecil. Jika sudah dewasa, luangkan waktu untuk mengobrol dengan mereka.

Selain itu sebagai organisasi, mari kita belajar untuk memberikan yang terbaik untuk anak, dalam hal ini menyediakan dana untuk program sekolah minggu. Seberapa yang kita sumbangkan untuk pelayanan anak, mari kita memberikannya dengan sukacita. Jika pun kita belum bisa memberi banyak untuk pelayanan anak, mari kita serius membangun sekolah minggu sebagai investasi rohani untuk anak-anak kita.

Yesus menyatakan anak-anak adalah pemilik Kerajaan Allah

Setelah Yesus mengetahui bahwa murid-muridNya menghalang-halangi anak-anak untuk datang kepadaNya, maka yang Yesus lakukan adalah memarahi para muridNya, dan berkata: ”Biarkan anak-anak itu datang kepadaKu, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.” Bahkan Yesus menambahkan lagi bahwa barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.

Ada dua kata kunci di sini: Kerajaan Allah dan seperti anak kecil. Kerajaan Allah adalah menurut Roma 14:17 adalah bukan soal makanan dan minuman tetapi soal kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus.

Kerajaan Allah adalah sebuah pemerintahan Tuhan dalam hidup kita melalui pengorbanan Kristus. Hasil dari pemerintahan Tuhan tersebut adalah kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita yang menguasai hidup kita setiap hari. Kerajaan Allah adalah suatu keadaan dimana ketika kita diperhadapkan pada sebuah ketidakbenaran tetapi kita memilih untuk hidup benar, dan melakukan yang benar. Kerajaan Allah adalah suatu keadaan dimana ketika dunia sedang diperhadapkan pada sebuah kecemasan, ketakutan, kekhawatiran, tetapi kita memilih untuk tetap tenang dan yakin bahwa Allah akan bertindak pada waktunya dan dengan sesuai caraNya yang ajaib. Kerajaan Allah adalah suatu keadaan batiniah yang penuh dengan sukacita meski setumpuk persoalan menghadang, meski kesedihan melanda, meski keputusasaan menerpa, tetapi kita tetap bersukacita. Ini adalah keadaan ketika Kerajaan Allah benar-benar menguasai dan memerintah atas hidup kita.

Tetapi bagaimana ini bisa beroperasi? Bagaimana Kerajaan Allah ini benar-benar bisa menguasai hidup kita? Jawabannya sederhana, yaitu dengan iman yang polos seperti anak-anak yang polos. Kerajaan Allah tidak akan pernah kita rasakan dan terjadi dalam hidup kita jika logika kita lebih berkuasa daripada iman sederhana. Kerajaan Allah tidak mungkin bisa memerintah hidup kita ketika terlalu banyak pertimbangan yang kita miliki.

Ah kalau nanti saya menerima Kristus dan menjadi Kristen, saya pasti dibenci.

Ah kalau nanti saya dibaptis, pasti saya dihapus dari daftar warisan.

Ah kalau nanti saya ikut Dasar Kekristenan, jangan-jangan keluarga saya akan mengusir saya dari rumah.

Ah kalau nanti saya jujur dalam pekerjaan, jangan-jangan nanti akan ditertawakan dan dimusuhi teman kantor yang lain.

Ah kalau nanti saya selalu bernyanyi memuji Tuhan, jangan-jangan nanti akan dianggap sebagai orang gila.

Inilah mengapa Kerajaan Allah sulit memerintah di kehidupan orang yang penuh dengan pertimbangan, keraguan, logika, kekhawatiran. Kerajaan Allah tidak bisa bisa menguasai kehidupan orang yang masih ingin dikuasai oleh dirinya sendiri. Tidak. Allah akan memerintah dengan leluasa ketika ego dan keakuan kita tidak lagi menjadi tuan atas hidup kita. Allah hanya bisa memerintah dalam hidup kita ketika hati kita, hidup kita, pikiran kita, tubuh kita, kita salibkan bersama Kristus di kayu salib, dan kemudian membiarkan Yesus menjadi Tuhan dan Raja dalam kehidupan kita.

Ketika kita menanggalkan segala penghalang untuk Tuhan memerintah dalam hidup kita, yaitu pertimbangan kita, keruwetan pola pikir kita, dan segala keraguan kita, dan menerima Kristus dengan iman yang sederhana seperti seorang anak-anak yang polos, maka Kerajaan Allah akan memerintah dalam hidup kita. Dan akibatnya adalah kita akan menghidupi kebenaran, damai sejahtera akan kita rasakan, dan sukacita akan terus senantiasa meluap dari hati kita. Meskipun orang-orang hidup dalam dosa dan ketidakbenaran, tetapi karena iman kita yang sederhana seperti anak-anak maka kita akan tetap mampu untuk memilih dan bertindak benar. Meskipun permasalahan silih berganti menerpa hidup kita, tetapi ketika kita tanpa pertimbangan dan keraguan dan meyakini tanpa tedeng aling-aling seperti anak-anak maka damai sejahtera dan ketenangan batin dan jiwa itu akan menguasai hidup kita. Dan meskipun kesedihan, dukacita, keputusasaan, kekhawatiran mencoba menghancurkan emosi kita, tetapi ketika kita dengan sederhana meyakini bahwa tidak ada masalah yang tanpa jalan keluar karena Kristus selalu beserta kita.

Suatu kali keponakan saya yang bernama Joanna meminta hadiah jika ia berhasil naik kelas. Karena saya menyayangi Joanna maka saya mengatakan saya akan memberikan hadiah berupa tas dan crayon ketika ia naik kelas nanti. Saya mengatakan itu di awal tahun ajaran ketika ia kelas 4 kemarin. Tentu saja ia senang sekali mendengar pamannya akan memberikan tas dan crayon yang bisa ia pakai untuk hobi menggambarnya. Dan lagipula bagi saya harga tas dan crayon tidaklah seberapa, karena saat itu saya masih bekerja di Bandung.

Dan kemudian terjadilah sebuah peristiwa yang mengharuskan saya harus mempertanggungjawabkan kesalahan saya sebagai pegawai. Saya harus mengundurkan diri karena telah melanggar aturan tempat saya bekerja. Artinya saya pun harus kehilangan gaji bulanan yang selama ini saya terima. Meski kemudian saya sempat bekerja di sebuah rumah produksi di Jakarta, tetapi dikarenakan bukan pekerjaan yang tetap, maka setelah 3 bulan bekerja kontrak saya tidak diperpanjang. Sehingga sejak Februari saya tidak punya pekerjaan, tidak punya penghasilan. Dan mencari pekerjaan di Jakarta sangatlah sulit, apalagi jika kita tidak memiliki keterampilan. Saya yang memiliki pengalaman dalam level yang cukup baik pun mengalami kesulitan yang luar biasa untuk mendapatkan sebuah pekerjaan yang baru.

Keadaan yang sulit ini pun membuat saya kemudian mengatakan pada Joanna keponakan saya bahwa saya tidak akan bisa menepati janji saya untuk memberikan tas dan crayon padanya. Saat saya mengatakan itu, sempat terlihat ada raut kekecewaan di wajahnya. Tetapi kemudian dia mengatakan sesuatu yang mengagetkan saya. Dia katakan: ”Tulang pasti dapat pekerjaan baru. Pasti tulang bisa kasih hadiah kenaikan kelas untuk aku nanti di bulan Juli.”

Imannya begitu sederhana. Dia tidak memusingkan bahwa mencari pekerjaan itu sulit, tetapi dia yakin tulangnya pasti mendapatkan pekerjaan baru. Dia tidak mempedulikan bahwa tulangnya ini cuma sarjana teologi dan akan sangat sulit bagi seorang sarjana teologi untuk mendapatkan pekerjaan di organisasi Kristen, terlebih lagi di perusahaan yang benar-benar komersial dan mencari keuntungan. Dia hanya yakin bahwa akan ada pekerjaan terbaik yang tulangnya dapatkan dan kemudian dia akan mendapatkan hadiah kenaikan kelas yang dia nanti-nantikan.

Di awal bulan Juli, saya ditelepon dan suara di ujung telepon itu mengatakan bahwa saya diterima bekerja di Wahana Visi Indonesia tempat saya mengabdi sekarang. Ketika saya menyampaikan berita kepada Mama dan keponakan saya, Joanna pun mengatakan: ”Tuh kan benar kata aku. Tulang pasti dapat pekerjaan. Jangan lupa ya janjinya.”

Akhir Agustus seusai menerima gaji, saya pun mentransfer sejumlah uang kepada Mama. Selain untuk keperluan bulanan, juga tidak lupa untuk hadiah kenaikan kelas untuk 4 keponakan saya. Tidak hanya Joanna yang mendapat tas dan crayon, 3 keponakan saya yang lain pun mendapatkan hadiah kenaikan kelas dari tulangnya.

Anak-anak begitu sederhana dalam iman dan pemikiran mereka. Jika mereka tahu Tuhan adalah Bapa yang baik, maka mereka tidak pernah akan meragukan kebaikan Tuhan. Mereka akan meyakini kalau Tuhan akan mencintai mereka apa adanya, dan memelihara kehidupan mereka setiap hari.

Namun sebaliknya, jika mereka mendapat sebuah pengalaman buruk dari ayah ibunya yang berlaku kasar dan kejam padanya, maka ketika seseorang memberitahu bahwa Tuhan adalah Bapa yang baik, ia juga akan dengan sederhana mengatakan bahwa bapaknya tidak baik, dan Tuhan berarti tidak mungkin baik.

Atau jika anak-anak sejak kecil dicekoki bahwa tidak ada Tuhan, bahwa Tuhan tidak adil, maka dengan sederhana pula ia akan menelan keyakinan itu mentah-mentah.Apakah bapak ibu tahu, bahwa Mao Tse Dong pemimpin komunis di RRC menularkan ide komunisme hingga seluruh RRC menjadi komunis tidak dimulai dengan orangtua? Ya, ia menularkan ide komunisme kepada anak-anak dan remaja. Dan kemudian anak-anak dan remaja yang dicekoki ide komunisme inilah yang kemudian menjadi penganut komunisme yang sangat setia dan yang sekarang menjadi pemimpin-pemimpin Partai Komunis di RRC.

Apa jadinya jika sejak kanak-kanak, kita sebagai gereja dan juga sebagai orangtua, mengajarkan secara berulang-ulang bahwa mereka adalah pemimpin masa depan, bahwa Tuhan punya rencana yang hebat untuk mereka, bahwa Tuhan sangat mencintai mereka sehingga rela mati di kayu salib untuk mereka, bahwa mereka berharga di mata Tuhan dan Tuhan mau mereka menjadi orang-orang yang mengubah dunia? Saya yakin ketika kita melakukan itu, kita akan melihat sebuah dunia yang lebih baik; sebuah dunia tanpa korupsi, sebuah dunia tanpa terorisme, sebuah dunia tanpa lingkungan yang rusak. Sebuah Kerajaan Allah yang nyata di tengah dunia. Sebuah pemerintahan Tuhan yang mendominasi semua lapisan di masyarakat, dan semua bidang dalam kehidupan berbangsa.

Bagaimana itu bisa terjadi? Itu dimulai oleh kita, generasi yang lebih tua untuk tidak menghalang-halangi anak-anak untuk datang kepada Kristus. Namun selain itu, itu hanya bisa terjadi ketika kita membawa anak-anak kepada Kristus, sama seperti yang dilakukan oleh orang yang tidak diketahui namanya pada ayat 13 dari Injil Markus 16 yang menjadi perenungan kita pagi ini. Mungkin saja orang itu adalah papanya, ataupun mamanya. Tetapi bisa jadi itu adalah pamannya, bibinya, atau bahkan kakaknya. Siapa pun itu, kisah dalam Firman Tuhan yang kita renungkan ini tidak akan terjadi tanpa orang tersebut membawa anak-anak kepada Yesus.

Masa depan apa yang Bapak Ibu impikan terjadi di tengah gereja, kota, dan bangsa kita? Apapun itu bisa terjadi jika kita membawa anak-anak kita kepada Tuhan. Sehingga oleh karena itu mari kita membawa anak-anak kita kepada Tuhan dan mengajarkan kasih Tuhan kepada anak-anak kita sedini mungkin. Karena iman mereka yang sederhana, maka mereka akan meyakini bahwa Tuhan sungguh-sungguh mencintai mereka. Firman Tuhan dalam Amsal 22:6 mengatakan untuk setiap kita mendidik orang muda, yaitu anak-anak menurut jalan yang patut baginya sehingga pada masa tuanya pun anak-anak tersebut tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.

Yesus memperlakukan anak-anak dengan penuh kasih sayang

Di ayat yang ke 16, kita menemukan pernyataan bahwa Yesus memeluk anak-anak itu. Bahkan tidak hanya itu, Yesus pun meletakkan tanganNya atas mereka, dan memberkati mereka.

Satu hal yang saya pelajari dari orang-orang bule selama saya bekerja di organisasi kemanusiaan internasional adalah mereka tidak sungkan mengekspresikan cinta kepada pasangan mereka, ataupun kepada anak-anak mereka. Mereka kerap kali tanpa sungkan menggandeng tangan pasangan mereka saat berjalan. Bahkan mereka pun tidak canggung memeluk pasangan mereka.

Begitu juga kepada anak-anak. Para pria dan wanita bule ini kerap kali menyentuh, memeluk, mengelus kepala, bahkan menggelitiki anak-anak mereka. Selain ungkapan kasih sayang lewat sentuhan fisik, para orang tua bule ini juga tanpa ragu sering memuji ataupun menyemangati anak-anak mereka dengan kata-kata positif.

Cukup bertolak belakang dengan sebagian orang Indonesia. Saya katakan sebagian karena ada juga orang Indonesia yang saya kenal juga tidak seperti kebanyakan orang Indonesia yang sering merasa sungkan untuk menunjukkan perilaku penuh kasih sayang kepada pasangan maupun anak-anaknya.

Sebagai orang Batak, saya seringkali melihat laki-laki dewasa Batak yang dingin. Termasuk ayah saya. Di hadapan kami anak-anaknya, Bapak tidak pernah memeluk Mama, atau menggandeng tangannya. Beliau juga tidak pernah memeluk saya ataupun menggelitiki saya. Namun bukan berarti Bapak tidak mencintai Mama dan saya. Yang saya ketahui kemudian setelah saya beranjak dewasa, bahasa cinta Bapak saya bukanlah sentuhan.

Ada lima bahasa cinta yang digunakan oleh manusia untuk mengkomunikasikan rasa cinta dan sayangnya kepada pasangannya.

Yang pertama adalah lewat sentuhan fisik. Ada orang yang senang menggengam tangan pasangannya. Dan ketika dia melakukan itu, berarti dia sedang menunjukkan kepada pasangannya bahwa dia sungguh mencintai pasangannya tersebut.

Yang kedua adalah kata-kata yang menguatkan. Ada orang-orang tertentu yang senang sekali memberi kata-kata penyemangat kepada pasangannya sebagai tanda sayangnya. Bahasa cinta yang seperti ini senang sekali mendengarkan keluh kesah orang yang dicintainya, dan ia pun akan memberi kata-kata penyemangat dan memotivasi sebagai bentuk cintanya.

Yang ketiga adalah hadiah. Orang seperti ini akan mengatakan ”aku cinta kepadamu” bukan dengan kata-kata, melainkan dengan hadiah. Jika orang dengan tipe bahasa cinta hadiah sedang pergi ke suatu daerah, maka orang ini akan membawakan oleh-oleh untuk orang-orang yang dicintainya.

Yang keempat adalah tindakan pelayanan. Orang dengan bahasa cinta seperti ini adalah orang-orang yang dengan sukarela melakukan suatu hal untuk orang-orang yang ia cintai. Mencuci piring untuk istrinya. Membawakan keranjang belanjaan istrinya. Membuatkan teh atau kopi untuk suaminya yang baru pulang kerja. Atau memijit pasangannya yang baru saja penat bekerja.

Yang terakhir adalah waktu yang berkualitas. Orang dengan bahasa cinta seperti ini adalah tipikal orang yang akan memberikan waktu untuk berbincang-bincang dengan pasangannya. Ia tidak sungkan mematikan telepon genggamnya dan menyediakan waktu untuk berbicara dan mendengarkan pasangannya.

Yesus melakukan lima bahasa ini kepada anak-anak yang ia cintai. Ia memeluk mereka, memberkati mereka dengan kata-kata positif. Ia melayani anak-anak, menyediakan waktu yang berkualitas untuk anak-anak, dan mungkin saja memberikan sesuatu sebagai kenang-kenangan untuk anak-anak tersebut. Yesus memperlakukan anak-anak itu dengan penuh kasih sayang.

Tetapi sayangnya seringkali kita sungkan menunjukkan kasih sayang kepada anak-anak kita. Bahkan tidak hanya itu, seringkali kita malah menunjukkan perilaku yang keras kepada anak-anak kita. Daripada memeluk anak kita ketika ia gagal dalam pelajaran di sekolah, yang kita lakukan malahan memarahinya dan menyebutnya anak bodoh. Daripada memberikan waktu yang berkualitas untuk anak-anak kita, kita malah sibuk dengan koran, TV, dan pekerjaan kita sehingga mengabaikan perkataan yang anak-anak kita ucapkan. Daripada membantu anak-anak kita dalam mengerjakan PR sebagai tanda pelayanan kita sebagai orangtua kepada anak kita, kita malah menyuruhnya melakukan pekerjaan orang dewasa yang seharusnya kita lakukan. Daripada memberinya hadiah kecil kepada anak kita sebagai tanda cinta kita, kita malahan mengingkari janji kita kepada anak-anak.

Saat kita tidak menunjukkan kasih sayang sebagai orangtua kepada anak-anak kita, maka anak-anak kita akan mencari kasih sayang di luar. Dan tentu saja di luar sana tidaklah seramah rumah. Di luar sana adalah dunia yang kejam untuk anak-anak kita. Tidak heran banyak anak perempuan hamil di luar nikah, karena mereka haus akan kasih sayang dari pria paling sejati yang seharusnya ia miliki, yaitu ayahnya sendiri. Tidak heran banyak anak-anak muda sekarang menjadi pecandu narkotika karena mereka mencari kasih sayang yang tidak pernah ia dapatkan di rumah.

Suatu kali saya pernah bertanya kepada seorang teman saya yang pecandu narkotika. Saya menanyakan mengapa ia bisa menjadi pengguna narkotika. Jawaban yang ia berikan sangat mengejutkan saya. Dia mengatakan alasan dia menggunakan narkotika adalah agar papanya memperhatikan dia. Ketika papanya mengetahui dia menggunakan narkotika, papanya menjadi sibuk mencarikan panti rehabilitasi untuknya dan menyediakan waktu mengantarkan dirinya ke panti rehabilitasi yang ada di luar kota. Papanya yang pengacara terkenal menyangka dengan harta yang berlimpah maka anaknya sudah mendapatkan kasih sayang yang ia butuhkan. Padahal ternyata yang sebenarnya dia butuhkan adalah sekedar pelukan dari seorang ayah.

Teman saya ini tidak pernah mencapai usia 25, karena pada usia yang ke 23 ia meninggal dunia karena overdosis. Jenasahnya ditemukan oleh tetangganya di got yang tak jauh dari rumahnya.

Bapak Ibu, anak-anak kita membutuhkan kasih sayang dari kita. Mengapa? Karena mereka manusia sepenuhnya yang membutuhkan kasih sayang layaknya manusia pada umumnya. Anak-anak bukanlah separuh manusia. Mereka seutuhnya manusia meskipun usia dan pengalaman mereka masih muda dan sedikit. Karena mereka manusia, maka sebagai kodratnya mereka juga merupakan makhluk sosial yang membutuhkan orang lain.

Kapan terakhir kali kita memeluk anak kita? Kapan terakhir kali kita bermain dengan anak kita? Kapan terakhir kali kita berbincang-bincang dengan anak kita? Atau jangan-jangan kita baru-baru saja memaki anak kita, memukulinya?

Bapak Ibu mari sebagai generasi yang lebih tua, kita perlakukan anak-anak kita dengan penuh kasih sayang. Peluk mereka. Berkati mereka setiap pagi sebelum pergi ke sekolah dan katakan hal-hal yang positif untuk mereka, jangan maki mereka. Berikan hadiah saat mereka berhasil maupun saat mereka gagal, sehingga mereka bisa memahami kasih karunia Allah. Layani mereka dengan membantu mereka saat mengerjakan atau melakukan hal-hal yang sulit. Berikan waktu berkualitas untuk mereka. Matikan handphone Bapak Ibu dan bermain dengan mereka. Bicara dengan mereka.

Ketika kita lakukan ini, kita akan melihat sebuah generasi perjanjian yang akan membawa keluarga kita, gereja kita, kota kita, dan bangsa kita kepada tanah perjanjian yang Allah sudah janjikan kepada kita.

Doa saya, mulai hari ini kita membawa anak-anak kita kepada Tuhan karena Yesus menghendaki anak-anak kita untuk datang mendekat padaNya. Yang berikutnya, mari kita ajarkan secara berulang-ulang tentang kasih Tuhan pada mereka karena iman mereka yang sederhana adalah iman orang-orang yang empunya Kerajaan Allah. Dan yang terakhir, mari kita perlakukan anak-anak kita dengan kasih sayang sehingga mereka bisa merasakan kasih Bapa surgawi itu melalui kita.

Mari kita berdoa.

Written by Rolan Sihombing

October 15, 2012 at 12:35 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: