Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Yusuf: Manusia Tangguh Pengejar Mimpi Yang Anti Galau

leave a comment »

Beberapa orang ditakdirkan Tuhan untuk menjadi pembunuh impian di dunia ini. Hanya sedikit orang yang ditakdirkan sebagai pemimpi, dan lebih sedikit lagi yang diizinkan Sang Khalik untuk mendapati mimpinya terwujud.

Yusuf, anak ke-11 dari duabelas bersaudara, hasil pernikahan Yakub-ayahnya-dengan empat orang istri yaitu Lea, Rahel, Bilha, dan Zilpa. Ayahnya sangat mencintainya karena Yusuf adalah buah cinta dari Rahel, cinta sejati Yakub. Karena rasa sayang yang besar, maka tak segan-segan Yakub menghadiahkan pelbagai keistimewaan kepada Yusuf. Seiring waktu berjalan, cinta kasih Yakub yang tidak berimbang menjadi titik awal ketidaksukaan sepuluh anak laki-lakinya yang lain kepada Yusuf.

Dan tidak hanya itu. Selain disayang ayahnya, Yusuf pun beberapa kali bermimpi. Mimpi Yusuf menyiratkan bahwa suatu saat kesepuluh saudara-dan juga ayah ibunya-akan sujud menyembahnya. Dalam mimpinya, ia seperti berkas gandum yang tegak berdiri dan disembah oleh berkas-berkas gandum kepunyaan kakak-kakaknya. Ia pun bermimpi bahwa matahari, bulan, dan sebelas bintang sujud menyembahnya. Tak ayal mimpi yang sekilas terkesan angkuh dan arogan, semakin menambah kebencian saudara-saudaranya.

Hingga suatu kali ketika Yusuf diperintah ayahnya untuk mencaritahu keberadaan saudara-saudaranya yang sudah terlalu jauh menggembalakan kambing domba milik ayahnya. Dari jauh, saudara-saudaranya telah melihat kedatangannya. Tetapi sebelum Yusuf mendekat, saudara-saudaranya itu merencanakan sebuah pembunuhan padanya.

Kata mereka seorang kepada yang lain: “Lihat, tukang mimpi kita itu datang! Sekarang marilah kita bunuh dia dan kita lemparkan ke dalam salah satu sumur ini, lalu kita katakan seekor binatang buas telah menerkamnya. Dan kita akan lihat nanti, bagaimana jadinya mimpinya itu.”

Singkat cerita, Yusuf tidak jadi dibunuh oleh saudara-saudara kandungnya. Ia dijual kepada seorang saudagar yang kebetulan lewat, yang akhirnya pula menjual Yusuf kepada seorang pegawai istana kepala pengawal raja di Mesir.

Kisah Yusuf mungkin sudah terjadi ribuan tahun yang lampau, tetapi para pembunuh mimpi masih berkeliaran hingga sekarang. Pembunuh mimpi ini bisa dipisahkan menjadi orang, ataupun sebuah keadaan yang sulit.

Manusia Pembunuh Mimpi

Orang-orang yang tidak suka dengan sebuah mimpi masih ada hingga sampai hari ini. Buktinya orang-orang seperti Martin Luther King Jr, Robert Kennedy, Rudolf Diesel, Mahatma Gandhi, John Lennon, hingga Munir terpaksa meregang nyawa karena dibunuh oleh orang-orang yang gemar membunuh mimpi. Mereka ini adalah sedikit contoh dari segelintir orang di bumi ini yang memimpikan sebuah masa depan yang baik dimana hanya ada kebaikan di dalamnya. Tetapi layaknya dua sisi mata uang, dimana ada pemimpi di situ pula ada orang-orang pembunuh mimpi.

Pembunuh mimpi tidak selalu mengambil rupa seorang pembunuh sadis yang meletuskan peluru ataupun menuangkan racun arsenik. Pembunuh mimpi tidak jarang mengambil rupa orang-orang terdekat kita. Dalam kasus Yusuf, pembunuh mimpinya adalah saudara kandungnya sendiri.

Entah sudah berapa banyak orang yang menyatakan kepada saya bahwa orang-orang terdekat seperti orangtua, saudara kandung, dan juga guru, telah membunuhi mimpi mereka. Pembunuhan tersebut dilakukan dengan cara menertawakan mimpi hingga menganggap teman-teman saya tersebut sebagai pemimpi yang tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk mewujudkan mimpinya.

Saya sering membayangkan apa yang ada di benak ayah Orville dan Wilbur ketika mendengarkan dua orang putranya sibuk berceloteh mengenai kemungkinan manusia bisa terbang seperti burung di angkasa. Tetapi apa pun yang ada di benak ayahnya, kita beruntung ayahnya tidak memilih mencemooh dan menertawakan mimpi Orville dan Wilbur. Seandainya Milton Wright, ayah dua bersaudara ini, menertawakan ide gila anak-anaknya, mungkin kita tidak akan pernah menggunakan pesawat terbang sebagai alat transportasi. Untung, Milton Wright mendukung, dan malah pernah memberikan mainan helikopter yang terbuat dari bambu dan kertas.

Suatu kali seorang kerabat pun menertawakan upaya saya menanam cabe di halaman rumah di Bekasi. Ia mencemooh dari masalah penggarapan tanah, kualitas tanah, dan tangan saya yang “panas” sehingga tidak mungkin cabe-cabe itu tumbuh. Tetapi kerabat saya itu salah. Meski pohon cabe yang saya tanam tidak banyak, tetapi terbukti pohon cabe yang sejumlah 40 buah itu tumbuh dan menghasilkan cabe cukup untuk kebutuhan dapur setiap hari.

Ketika seseorang mendatangi kita dan menceritakan mimpinya ataupun cita-citanya, apakah yang kita lakukan? Menertawakannya? Mengkritiknya? Atau malah mengguruinya dengan kemampuan dan segudang pengalaman kita?

Saya memilih untuk mendengarkan mimpi seseorang, dan diam-diam mendoakan agar Tuhan menyertai orang tersebut sehingga mimpinya menjadi kenyataan.

Tantangan Pembunuh Mimpi

Selain harus menghadapi amarah saudara-saudaranya yang membenci dan berusaha membunuh mimpinya, Yusuf pun dihadapkan pada berbagai kesulitan yang juga berusaha memadamkan mimpinya. Setelah kehidupannya bertolak belakang 180 derajat, dari anak kesayangan ayahnya menjadi seorang budak di negeri orang. Tentu saja sebagai budak, ia harus melakukan nyaris segala hal dan tanpa kenal istirahat. Pasti di setiap malam ketika ia jatuh kelelahan sehabis bekerja berat seharian, selain merindukan kasih sayang ayahnya ia juga pasti menahan rasa kecewa karena mimpinya yang demikian spektakuler tak kunjung menjadi kenyataan. Bagaimana mungkin saudara-saudaranya akan menghormatinya sementara dia sendiri hanya seorang budak di negeri orang? Bahkan bagaimana mungkin ia bisa kembali pulang ke rumah ayahnya dan bertemu kembali dengan saudara-saudaranya, sedangkan ia adalah properti tuannya yang menjadi orang kepercayaan Firaun?

Alih-alih kecewa dan menjadi orang yang negatif, Yusuf memilih bekerja sebaik mungkin sehingga ia pun dipercaya menjadi kepala rumah tangga tuannya. Yusuf pasti merasa ada secercah harapan untuk mimpinya jadi kenyataan karena ia sudah naik pangkat. Ia tidak lagi seorang budak yang hina, tetapi ia adalah pengurus rumah tangga yang bertanggung jawab dalam pengelolaan semua kepunyaan tuannya.

Tapi kembali mimpinya diuji. Ia difitnah oleh istri tuannya sendiri dan dijebloskan dalam penjara. Kali ini mimpinya pasti tidak akan pernah terwujud. Bagaimana mungkin seorang narapidana, sampah masyarakat, bisa menjadi pemimpin? Hanya keajaiban yang bisa membuat Yusuf dapat hidup melihat mimpinya tergenapi.

Pada akhirnya memang keajaibanlah yang membawa Yusuf menjadi orang nomer dua di Mesir. Ia diangkat sebagai pelaksana pemerintahan di Mesir karena berhasil menerjemahkan mimpi Firaun dan membuat strategi jitu untuk mengatasi masa kelaparan yang mengancam. Di bawah kekuasaan Yusuf, Mesir menjadi satu-satunya negeri yang memiliki cadangan makanan yang berlimpah ketika terjadi malapetaka kelaparan hebat.

Siapa yang pernah menduga, karena kelaparan hebat melanda seluruh kawasan Timur Tengah kala itu, saudara-saudara Yusuf bertolak ke Mesir dan berencana membeli makanan di Mesir. Hanya keajaiban yang kemudian membuat saudara-saudara yang pernah menjualnya sujud menyembah Yusuf yang sudah menjadi orang berkuasa di Mesir.

Mimpi Yusuf menjadi kenyataan.

Kehidupan seringkali tidak akan ramah kepada kita. Selain berhadapan dengan orang-orang yang mencemooh cita-cita kita, kita juga akan dipertemukan dengan berbagai kesulitan yang akan menguji kehidupan kita. Kemiskinan, kecelakaan, kematian orang tercinta, fitnah, dan pelbagai kesulitan lainnya akan kerap kali menghampiri kita dan berpotensi meluluhlantakkan segenap kemanusiaan kita; termasuk mimpi kita.

Tetapi Yusuf meresponi tantangan itu bukan dengan kegalauan. Ia tidak meratapi kemalangannya. Ia tidak mengutuki saudara-saudaranya. Ia tidak membenci kehidupannya.

Mudah bagi Yusuf untuk mengakhiri hidup dengan gantung diri di sel penjara. Atau mudah pula bagi dia di penjara itu untuk belajar semua teknik kejahatan agar ia bisa membalaskan dendamnya. Tetapi itu tidak ia lakukan. Yang ia lakukan adalah menjadi orang tahanan yang berbeda, berpikir positif, tidak melawan, cekatan. Sehingga saking berbudinya Yusuf di penjara, ia pun menjadi tahanan favorit yang kemudian dipercaya untuk menangani semua tahanan yang lain.

Untung saja Yusuf tidak menjadi galau, pesimis, menyerah, pahit hati, mendendam, atau menjadi sinting dan alay. Ia memandang semua yang terjadi dalam kehidupannya sebagai sesuatu yang harus ia jalani dengan sabar. Jauh di dasar hatinya, ia percaya bahwa pada suatu saat nanti ia akan berhenti jadi orang tahanan. “Badai pasti berlalu,” demikian keyakinan Yusuf kala itu.

Apakah kesulitan sedang menerpa kehidupan Anda? Seperti Yusuf yang sabar dan tawakal menghadapi semua badai kehidupan, hendaklah kita juga memilih bersikap yang sama. Memilih untuk bertahan dan menjadi tangguh dalam setiap ujian kehidupan. Dan sama seperti Yusuf yang dapat menyongsong impiannya, kita pun dapat melihat semua yang kita impikan jadi kenyataan. Asalkan kita bertahan, tetap tabah, sabar melakoni semua ujian. Dan tentu saja dengan menjadi galau, mengeluh, mendendam, pahit hati, dan semua prilaku negatif lainnya, tidak akan pernah membawa kita ke sana yaitu ke tanah perjanjian kita.

Terus bermimpi dan bertahan menghadapi ujian kehidupan. Jangan GALAU!

-Ruteng, 3 Oktober 2012-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: