Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Jatuh Cinta Dengan Cerdas, Bukan Dengan Hati

leave a comment »

Kemarin malam saya menonton sebuah tayangan televisi Love, Marriage and Stinking Thinking yang dipandu dengan kocak oleh Mark Gungor seorang konselor dan pembicara tentang pernikahan di AS. Meski nyaris sepanjang acara saya tertawa terbahak-bahak, tetapi beberapa kebenaran yang ia lontarkan sangat menohok hati saya.

Mark menekankan pentingnya masa pacaran sebagai masa-masa mempelajari seseorang sebelum kita membulatkan tekad untuk menikahi yang bersangkutan. Tidak ada belahan jiwa, menurut Mark Gungor. Karena konsep soulmate adalah konsep yang bukan bersumber dari Alkitab. Tuhan tidak menciptakan satu orang hanya untuk membahagiakan kita ketika ia menjadi teman hidup kita. Tetapi Tuhan mengizinkan banyak lawan jenis ada di sekitar kita atau dalam pergaulan kita, untuk kemudian kita pelajari dan seleksi sebelum kemudian kita menikah.

Saya cukup sependapat dengan pernyataan Mark karena saya pun selama ini berpikir konsep belahan jiwa, yaitu seseorang diciptakan dan lahir ke dunia hanya kemudian untuk dipasangkan dengan kita sangat kekanak-kanakan. Roman picisan. Bagi saya jodoh dihasilkan melalui sebuah proses saling mengenal yang makin lama makin intim. Jodoh harus ditemukan dari kejamakan. One from a million, seperti lirik lagu Flowers In The Window yang dinyanyikan oleh Travis.

Mark menjelaskan lebih lanjut di dalam pacaran ada beberapa hal yang harus dipelajari sebelum kita memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih serius dengan orang yang kita cintai. Saya tidak akan membahas semua, tetapi yang paling menginspirasi saya adalah mengenal REAKSI teman dekat kita dalam setiap interaksinya dengan kehidupan, orang lain, dan dengan kita sendiri.

Reaksi yang tepat biasanya datang dari pemahaman yang tepat tentang kehidupan, orang lain, dan tentang kita. Seorang calon teman hidup yang dewasa akan menunjukkan reaksi dan respon yang dewasa ketika ia dihadapkan dengan pelbagai situasi yang memaksanya mengeluarkan sifat aslinya. Sehingga ketika kita melihat sang pacar menunjukkan reaksi yang tidak dewasa dan tidak tepat terhadap segala sesuatu, maka kata Mark seharusnya kita segera melarikan diri dari orang tersebut.

Seringkali kita memilih tidak lari dari “pacar” yang bereaksi dengan tidak dewasa dan bahkan cenderung menyakiti kita. Alih-alih menghindari dan MOVE ON dari dia, kita malah berusaha memberinya kesempatan untuk berubah. Bukannya menggunakan rasio, kita memutuskan bertahan dengan menggunakan logika hati yang sebenarnya sangat irasional.

Jatuh cinta sah-sah saja, tetapi ketika cinta malah membuat kita menjadi pribadi yang tidak baik akibat berhubungan dengan orang yang selalu bereaksi negatif dalam setiap aspek kehidupannya, maka sebenarnya kita sedang membangun jembatan yang mengarahkan kita pada jurang yang dalam dan membahayakan. Apalagi jika seiring perjalanan cinta kita tersebut yang kita dapati adalah nasehat dari orang-orang yang mempedulikan kita untuk menjauhi dirinya, maka sepantasnya kita segera mengambil keputusan untuk meninggalkannya. Lebih baik sakit hati sebentar karena kehilangan cinta daripada sakit hati seumur hidup karena mendapatkan petaka dari sejak bangun tidur hingga sebelum tidur.

Masih banyak pria dan wanita terhormat lainnya yang lebih pantas mendapatkan cinta, perhatian dan kesetiaan kita. Karena itu Tuhan menyediakan teman-teman lawan jenis yang banyak di sekitar kita untuk kita pilih. Bisa jadi teman hidupmu adalah teman kantor yang selama ini diam-diam mengagumimu. Bisa jadi pula teman hidupmu adalah sesama anggota jemaat di gereja yang Anda hadiri setiap minggu.

Dimana pun dia berada, buka mata. Dengarkan rasiomu, jangan suara hatimu yang menyesatkan. Hati yang berbunga-bunga ketika jatuh cinta, tidak akan pernah bisa menghasilkan keputusan yang rasional dan bijak. Justru yang dihasilkan adalah ilusi cinta yang membahayakan yang tanpa kita sadari bisa menyeret kita ke jurang maut.

Jangan ulangi kesalahan bodoh yang saya buat 3 tahun yang lalu. Bagi yang mengenal saya cukup dekat tentu mengetahui masa-masa kelam dalam hidup saya ketika bersama kisah yang salah. Untung pintu untuk melarikan diri masih bisa terbuka sehingga saya terhindar dari petaka yang lebih buruk.

Jatuh cinta harus cerdas. Dan jatuh cintalah dengan orang yang cerdas bereaksi dalam hidupnya. Lari jika ada kesempatan ketika terjebak dalam kisah yang salah. Lari dan selamatkan hidupmu.

Selamat mencintai.

Written by Rolan Sihombing

September 28, 2012 at 2:25 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: