Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

“Biarkanlah Anak-anak Itu Datang KepadaKU!”

leave a comment »

Seorang teman bertanya mengenai alasan saya bersedia meninggalkan Jakarta dan segenap kemewahannya, untuk pergi ke salah satu propinsi termiskin di Indonesia. Bahkan dengan sedikit mengejek, teman saya itu mengatakan, “Pasti karena tidak satu perusahaan pun di Jakarta yang mau mempekerjakan elo, dan hanya ada lowongan kosong di NTT sehingga elo bersedia ke sana.”

Saya hanya terdiam sembari tersenyum kecut. Kebetulan teman saya mengatakan kalimat itu via japri di Facebook, sehingga dia tidak melihat senyum kecut saya.

Saya masih ingat ketika saya baru sembuh dari operasi panggul pada tahun 1997 akibat infeksi akut yang saya alami, saya bernazar akan menyerahkan seluruh hidup, rencana, dan masa depan saya untuk melayani Tuhan. Dan ketika EBTA dan EBTANAS selesai, Mama menanyakan dimana saya ingin berkuliah. Secara manusia, saya ingin berkuliah di jurusan kedokteran namun karena nilai saya pas-pasan saat itu serta saya tahu biaya perkuliahan saya akan jadi beban Mama – kebetulan pada waktu itu kondisi keuangan kami memang tidak memadai – maka saya katakan kepada Mama jika saya kuliah teologi saja di Bandung.

Malam sebelumnya, seorang kakak rohani menjanjikan bahwa dia akan membiayai kuliah saya sampai tamat, dan termasuk memberikan uang bulanan, jika saya berkuliah di sebuah sekolah teologi di Bandung yang ada di bawah pembinaan sinode gereja kami. Hati kecil sih waktu itu ingin melakukan negoisasi, dengan harapan bisa mengambil jurusan yang lain; syukur-syukur kakak rohani itu mau membantu biaya kuliah kedokteran. Tetapi karena sungkan dan juga memang tawaran itu cukup fair bagi saya, maka saya mengiyakan tawaran kakak rohani saya tersebut.

Saat Mama mendengar saya ingin mengambil sekolah teologi, Mama sempat mengatakan bahwa jika saya memang ingin mengambil jurusan lain, tidak masalah baginya. Beliau akan berusaha mencukup-cukupkan uang pensiun almarhum Bapak untuk biaya kuliah dan kebutuhan bulanan kami sekeluarga. Bahkan Mama mengingatkan saya untuk mencoba mengikuti tes PMDK di Institut Pertanian Bogor yang ditawarkan oleh ibu wali kelas saya kala itu.

Saya tidak ingin merepotkan Mama tercinta, sehingga saya tetap mengatakan:

“Olan kuliah di Bandung aja Ma. Ambil teologi. Kakak rohani Olan sudah menyatakan kesanggupannya untuk membiayai sampai tamat, termasuk memberikan uang saku bulanan dan uang untuk membeli buku-buku.”

Lalu apa hubungannya kisah saya itu dengan keberadaan saya di Manggarai?

Saya sangat tahu bagaimana sulitnya jika tidak memiliki uang yang cukup untuk melanjutkan sekolah. Saking sulitnya saya “terpaksa” mengiyakan tawaran dari kakak rohani saya untuk kuliah di sekolah teologi. Meskipun saya sudah bernazar akan melayani Tuhan seumur hidup, dan juga ada tawaran mengikuti tes PMDK di IPB, dikarenakan tidak ingin merepotkan Mama maka saya lebih memilih sekolah “gratis.”

Saya masih sangat beruntung karena masih ada seorang kakak rohani yang peduli dengan masa depan saya. Tetapi tidak dengan anak-anak miskin yang selama 4 tahun belakangan seringkali saya jumpai di lembaga-lembaga tempat saya mengabdi. Bahkan beberapa dari mereka yang tidak beruntung, ada yang jauh lebih cerdas daripada saya.

Sebagai contoh seorang anak remaja yang saya jumpai di Munduk, Bali. Anak ini cerdas, berbakti pada ibunya, dan berkarakter baik meskipun ayahnya dikenal sebagai narapidana kambuhan. Mimpinya adalah menjadi seorang dokter. Tetapi ia sangat teramat miskin sehingga kuliah kedokteran tak ubahnya seperti mimpi di siang bolong. Ketika saya berbincang-bincang dengan pemuda ini, berulang-ulang saya menjerit dalam hati. Seandainya saya kaya raya, akan saya biayai anak ini. Demikian pikir saya kala itu. Tetapi sayangnya saya belum sekaya itu.

Saya berusaha dengan jabatan dan wewenang saya kala itu, agar anak ini bisa mendapatkan beasiswa dari tempat saya melayani. Tetapi karena ada kebijakan dan faktor-faktor sampingan lainnya, usaha saya tidak berhasil. Anak itu sempat mengalami kekecewaan, bahkan tidak mau menegur Pendeta dan relawan-relawan lain yang selama ini membinanya.

Untung dia tidak memilih jalur kriminal seperti ayahnya. Saya dengar saat ini ia sedang mengambil pendidikan mantri kesehatan.

Kemiskinan itu jahat. Itu keyakinan saya. Hanya karena ketiadaan biaya, seorang anak dengan kecerdasan dan kemampuan yang brilian bisa mengubur impiannya dan memilih hidup ala kadarnya. Padahal di dalam setiap anak, Tuhan sudah meletakkan banyak potensi, kemampuan, dan keunikan. Tetapi seringkali faktor ekonomi, kebijakan dan peraturan, yang dibuat oleh para orang dewasa menjadi penghalang bagi anak itu untuk datang kepada Sang Pemberi Mimpi sejati, yaitu Tuhan yang mencipta dirinya.

Itulah alasan saya sesungguhnya mengapa saya bersedia meninggalkan Jakarta, Mama, kakak, adik dan tujuh keponakan saya, dan berada di salah satu daerah tertinggal di Indonesia. Saya ingin menjadi orang yang tidak menghalang-halangi anak-anak datang menjemput impian mereka. Saya ingin mereka menjadi orang-orang yang lebih baik daripada saya, dan berdiri menjadi pemimpin ketika kelak mereka dewasa. Saya ingin memberitahukan kepada mereka bahwa Tuhan sangat sayang kepada mereka, dan sudah menyiapkan sebuah masa depan yang penuh harapan untuk mereka.

“Biarkanlah anak-anak itu datang kepadaKu, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka. Sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.” Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka, Ia memberkati mereka.

(Mrk.10:14,16).

-Ruteng, 27 September 2012-

Written by Rolan Sihombing

September 27, 2012 at 3:14 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: