Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Dalam Pelukanku: Part 2

leave a comment »

BAB SATU

Tidak seperti biasanya, hari ini ruang sidang empat di Pengadilan Negeri Bandung dijejali dengan pengunjung sidang. Kursi-kursi yang ada di ruangan yang terletak di bagian paling belakang dari area Pengadilan Negeri Bandung ini, sudah terisi penuh dengan para pengunjung sidang yang kebanyakan adalah buruh pabrik PT. Cendana Tekstilindo, Tbk. Kedatangan mereka dikarenakan mereka ingin mendengarkan putusan majelis hakim mengenai kasus pemecatan massal yang dilakukan terhadap 300 buruh pabrik tekstil terkemuka di Bandung itu.

PT. Cendana Tekstilindo adalah perusahaan tekstil yang mengalami kebangkrutan dikarenakan krisis moneter yang menimpa Indonesia beberapa waktu yang lalu. Akibat krisis keuangan itu, pihak manajemen pun merumahkan karyawawan-karyawannya secara massal. Keputusan itu semakin diperparah oleh tidak terbayarkannya uang pesangon kepada sejumlah besar buruh yang hari ini hadir ke PN Bandung untuk mendengarkan putusan hakim terhadap gugatan dan nasib uang pesangon mereka. Detik-detik menentukan hidup mereka berjalan sangat lambat seiring belum hadirnya majelis hakim di ruangan persidangan.

Di meja penasehat hukum mantan buruh PT. Cendana Tekstilindo, Rian berulangkali mengusap keringat yang deras mengucur di lehernya. Riuh rendah suara perbincangan para buruh yang saling memperbincangkan gugatan mereka menyebabkan Rian nyaris tidak mendengar suara dering teleponnya yang sengaja ia setel pelan.

“Halo,” kata Rian.

“Bro ini gue, Setyo. Man, sorry ya gue gak bisa datang ke sana. Biasa, si bos ngasih tugas dadakan nih.”

Rian sedikit kecewa mendengar pernyataan sahabat dan rekanannya dalam kasus gugatan buruh PT. Cendana Tekstilindo. Di saat yang paling menentukan, sahabat dan rekananku meninggalkanku sendiri, gerutu Rian dalam hati.

“Bro, halo.”

“Oke, gak apa-apa sob. Lagipula hari ini cuma pembacaan putusan kan? Kalaupun hakim gak mengabulkan, gue ajuin banding aja nanti ke PTTUN,” jawab Rian sembari menyeka keringat yang masih deras mengalir di lehernya.

“Yoi. Nanti pokoknya kabar-kabari gue ya.”

“Iya, tenang aja. Oke, sebentar lagi hakim bakal muncul nih. See you in Jakarta, right.”

“Sip. Weit, tunggu dulu. Gue nyaris lupa info ke elo. Nanti jam 11 siang, elo lihat Breaking News, ada gue nanti. Kasusnya cukup heboh, sob. Elo pasti gak nyangka pokoknya.”

Sembari melihat arloji di lengan kirinya, Rian bertanya kembali, “Kasus apaan?”  

“Ada deh. Pokoknya kasus besar. Ya udah, gue capcus dulu ya. By the way, semoga beruntung di kasus pertama elo.”

“Okelah, bro. Akan lebih menyenangkan jika gak ngurusin yang beginian, bro.”

“Udahlah, nikmati aja. Siapa tahu nanti elo bakal jadi rekanan gue di Setyo Raharjo and Associates. Sekarang gue jadi kacung dulu, besok elo yang jadi kacung gue.”

“Well, keep on dreaming.”

“Hahaha, baiklah tuanku, anak sang Maruli Halomoan Simanjuntak. See you around.”

Rian pun mematikan panggilan telepon dan mengaktifkan moda sunyi pada ponselnya. Sembari memasukkan ponsel tersebut ke dalam tasnya, ia sempat melirik sekilas di wall screen ponselnya. Dalam wall screen itu terlihat foto Rian dan beberapa temannya sedang mengangkat gelas wine di salah satu cafe. Foto itu diambil pada saat perayaan wisuda Rian beberapa bulan yang lalu. Di samping kanan Rian adalah Setyo, sahabat dan rekanannya yang baru saja meneleponnya. Mereka berdua adalah rekanan di firma hukum yang terkenal di Jakarta, Ahmad Tjokro and Associates Advocate. Bagi Rian, ini adalah kasus pertamanya semenjak keberhasilannya menamatkan pendidikan hukum di salah satu Universitas ternama di Jakarta. Sedangkan Setyo adalah salah satu pengacara yang senior di firma hukum tersebut yang ditugaskan untuk membantu Rian yang masih hijau di dunia peradilan.

Rian Simanjuntak, demikian nama lengkapnya. Sebenarnya nama asli Rian bukanlah Rian, melainkan Parulian. Tetapi dikarenakan sewaktu kecil Rian mengalami sakit parah yang nyaris merenggut nyawanya, maka atas nasehat Opungnya nama Parulian dirubah menjadi Rian. Konon katanya, nama Parulian terlalu berat disandang oleh Rian yang adalah putra bungsu pengacara terkenal Maruli Halomoan Simanjuntak.   

Rian menyelesaikan dengan enggan kuliah hukumnya selama nyaris 7 tahun. Berbeda dengan Setyo yang sebenarnya satu angkatan dengannya, Rian menghabiskan 3 tahun pertama perkuliahannya dengan sibuk menggeluti hobi bermusiknya. Ketika Setyo lulus summa cum laude dan segera direkrut oleh Ahmad Tjokro, Rian masih sibuk menawarkan demo album band mediokernya ke pelbagai label rekaman.

Karena ayahnya merupakan pengacara top di Indonesia yang tidak sudi karirnya dirusak oleh kegagalan anaknya yang nyaris drop out, maka dengan segala pengaruh dan koneksi yang dimiliki ayahnya Rian pun dengan ajaib kembali diperbolehkan meneruskan kuliahnya. Didorong karena ancaman ayahnya dan juga kesadaran mengenai kualitas band mediokernya, Rian pun menyerah dan melanjutkan kuliah hukumnya dengan enggan.

Prestasi akademiknya yang sangat biasa-biasa saja, menyebabkan tak ada satu pun firma hukum yang tertarik merekrut Rian. Ayahnya yang tak ingin dianggap sebagai ayah yang gagal, lagi-lagi menolong Rian dengan membujuk Ahmad Tjokro menerima Rian menjadi pengacara yunior di firma hukumnya. Dan pada akhirnya, Rian pun hari ini berada di Pengadilan Negeri Bandung menangani perkara gugatan mantan buruh PT. Cendana Tekstilindo yang sempat menjadi tajuk berita media-media nasional beberapa bulan yang lalu.

“Majelis hakim memasuki ruangan. Para pengunjung sidang yang berada di dalam ruangan sidang diharapkan berdiri.”

Suara panitera pengadilan menyentakkan lamunan Rian yang berharap sedang berada di atas ranjang kamarnya. Kenapa aku harus jadi pengacara. Ini impian Papa, bukan impianku, gerutu Rian dalam hatinya. Ruang pengadilan, berkas perkara, hakim, jaksa dan semua hal yang berhubungan dengan pengadilan, menjadi hal-hal yang menjemukan bagi Rian.

Seringkali Rian berharap jika ayahnya bukanlah pengacara kondang di negeri ini. Sejak kecil ayahnya sudah mengharapkan dirinya menjadi pengacara dan kemudian mengambil alih firma hukum yang didirikan ayahnya. Dalam pelbagai kesempatan acara keluarga, setiap saat ada kerabatnya yang bertanya mengenai cita-cita Rian, maka entah bagaimana ayahnya selalu muncul di samping Rian dan menjawab pertanyaan yang ditujukan kepadanya dengan kalimat singkat: “Rian akan jadi pengacara hebat seperti papanya. Betul kan Rian?” Tentu saja waktu masih kecil, hal itu belum terlalu mengganggu Rian. Tetapi seiring waktu berjalan dan Rian semakin dewasa, tentu bukanlah hal yang lucu lagi jika ayahnya yang selalu menjawab pertanyaan tersebut.  Karena itu, Rian selalu mencari alasan untuk tidak mengikuti acara keluarga seperti arisan, bona taonan, dan sebagainya. Ia tidak ingin ditanya-tanya mengenai cita-citanya, karena sekuat apapun Rian berusaha menjawab, ayahnya selalu akan menjadi nabi atas kehidupannya.

Padahal Rian tahu bakat sesungguhnya adalah di bidang musik. Selain itu dikarenakan ketidaksukaannya akan desakan ayahnya terhadap pilihan hidupnya, Rian seringkali melampiaskan unek-uneknya di buku harian sejak remaja. Dan kebiasaan itu menyebabkan Rian cukup piawai dalam menulis, baik menulis artikel maupun menulis cerpen. Tidak jarang pula cerpennya diterbitkan di majalah-majalah ibukota. Tetapi menjadi pemusik ataupun penulis, bukanlah kehidupan yang mulia menurut ayahnya. Menjadi pengacara dan ahli hukum adalah hidup yang sudah digariskan oleh ayahnya. Di luar itu, semua adalah pekerjaan dan karir yang “murahan” menurut ayahnya.

Beruntung Rian memiliki ibu yang lebih memahami bakat sesungguhnya. Ibunyalah yang seringkali mengizinkan Rian menyelinap keluar rumah, menutup buku-buku hukum yang wajib ia baca, dan pergi ke studio untuk berlatih dengan band yang ia bentuk sejak SMP. Bahkan ibunya pernah beberapa kali menonton penampilan band Rian, dan tak jarang duduk di barisan paling depan untuk menyemangati anaknya.

Tetapi semua berubah ketika ibunya sakit keras dan kemudian meninggal dunia. Ibu yang selalu memahaminya meski tak jarang pula bersikap tegas padanya untuk menyelesaikan kuliah, terpaksa berhenti berjuang melawan kanker payudara yang diidapnya. Rian masih ingat kata-kata terakhir ibunya yang dibisikkan ke telinganya, “Amang, selesaikan kuliahmu ya hasian. Biar papamu senang dulu. Lambat laun ia akan mengerti apa yang kamu mau. Kalau kamu diwisuda nanti, mama pasti tersenyum dari surga.”

Kata-kata terakhir itulah yang kemudian membuat Rian meletakkan gitar bassnya untuk selamanya. Dengan susah payah dan rasa enggan, ia pun menjalani hari-hari kuliah di fakultas hukum, mengulang pelbagai mata kuliah yang bernilai D dan C. Setiap kali ia ingin menyerah, selalu ia ingat kata-kata terakhir mamanya, dan itu menjadi penyemangat dirinya untuk kembali menyelesaikan kuliah hukumnya.

Sama seperti hari ini, dimana ia menangani perkara pertamanya di ruang pengadilan. Ia tahu meski PT. Cendana Tekstilindo pailit, tetapi sebenarnya mereka sanggup membayar pesangon 300 buruh pabrik yang mereka rumahkan. Karena jika ditelusuri, perusahaan masih memiliki aset yang jika diuangkan akan dapat membayar pesangon 300 buruh yang hanya senilai kurang dari 1 milyar rupiah.

Tetapi perusahaan milik Hadi Chandra, salah satu orang terkaya di Indonesia itu memang tidak punya itikad baik membayarkan hak-hak buruh yang seharusnya mereka terima. Bahkan pihak perusahaan pernah menawarkan uang damai yang nilainya jauh dari kewajiban perusahaan. Tentu saja tawaran itu ditolak perwakilan buruh yang merasa telah dizalimi oleh perusahaan. Yang lebih memprihatinkan beberapa hari yang lalu, anak Hadi Chandra yang bungsu mengadakan resepsi pernikahan yang besar-besaran. Ada media infotainment yang membocorkan ke publik bahwa biaya pernikahan anak bungsu Hadi Chandra sebesar 6 milyar lebih. Jumlah yang jauh lebih dari cukup untuk membayar uang pesangon 300 buruh yang menjerit meminta hak mereka.

Rian sudah bisa menduga jika majelis hakim akan mengeluarkan amar putusan yang menolak gugatan penggugat, yaitu buruh-buruh PT. Cendana Tekstilindo yang dirumahkan, dan menerima keberatan tergugat untuk membayarkan hak-hak buruh mereka dengan alasan pailit.

“Apakah ada keberatan dari saudara penasehat hukum penggugat?” kali ini suara tegas hakim ketua yang membangunkan lamunan Rian.

Menyadari ia sudah melamun dan tidak berkonsentrasi mengikuti pembacaan keputusan hakim ketua; dengan gugup Rian berkata, “Maaf Hakim Ketua, bisa diulangi pernyataan Hakim Ketua?”

Sontak saja suara cemoohan dari para buruh yang memadati ruangan sidang itu membahana ketika Rian meminta Hakim Ketua membacakan ulang pernyataan yang baru disampaikan.

“Saudara Penasehat Hukum, jika Anda ingin melamun sebaiknya jangan di ruang sidang. Melamunlah di Taman Lalu Lintas dekat sini. Ini sidang, dan Anda wajib memenuhi kewajiban Anda sebagai penasehat hukum dari pihak penggugat.”

“Maafkan saya Hakim Ketua. Saya sedang tidak enak badan sebenarnya,” Rian terpaksa berbohong.

“Saya mengenal ayahmu sejak lama, dan ayahmu tidak pernah sedetik pun kehilangan konsentrasi dalam tiap tugas persidangannya.”

Ya, ya, ya. Ayahku, Maruli Halomoan Simanjuntak memang orang hebat. Bisakah nama beliau tidak dibawa-bawa? gerutu Rian di dalam hatinya.

“Karena waktu kita terbatas, amar putusan bisa Saudara baca nanti. Tetapi pada intinya kami majelis Hakim memutuskan untuk menolak gugatan penggugat dan menerima permohonan tergugat untuk tidak mewajibkan tergugat membayar pesangon para penggugat. Dikarenakan tergugat, PT. Cendana Tekstilindo pailit dan tidak mampu membayarkan hak-hak yang diinginkan para penggugat.”

Betul kataku. Hakim pasti tidak mengabulkan permohonan para buruh, kata Rian dalam hatinya.

“Apakah ada keberatan yang ingin disampaikan Saudara Penasehat Hukum?”

“Pak Hakim Ketua, saya mewakili pihak penggugat dengan ini mengajukan banding atas amar putusan ini dan meminta perkara ini dibawa ke PTTUN.”

 “Baik, permohonan dikabulkan. Dengan demikian sidang perkara pemutusan hubungan industri antara Serikat Buruh PT. Cendana Tekstilindo melawan PT. Cendana Tekstilindo, kami nyatakan berakhir.”

Ketika hakim ketua mengetukkan palunya, serentak semua buruh yang memenuhi ruangan itu mengeluarkan suara cemoohan. Suasana ruang pengadilan menjadi ricuh. Beberapa orang berteriak dengan penuh emosi mengutuki keputusan hakim ketua. Beberapa orang yang lain menendang kursi pengadilan sembari mengeluarkan kata-kata kotor. Dan bahkan beberapa di antara mereka mencoba merangsek ke depan, namun petugas pengadilan berhasil menghentikan mereka.

“Pengacara anjing!” maki seorang buruh sembari menghujamkan bogem mentahnya ke rahang Rian.

Rian yang tidak siap menerima pukulan itu pun jatuh tersungkur. Malang baginya, melihat ia jatuh terkapar buruh-buruh yang lain pun berusaha menghakimi Rian. Beberapa dari mereka berhasil menendang perut dan punggung Rian. Rian pun hilang kesadaran, ketika sebuah sepakan yang keras menghantam kepalanya.     

(Bersambung)

Written by Rolan Sihombing

September 17, 2012 at 3:43 pm

Posted in Fiksi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: