Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Dalam Pelukanku: Part 1

leave a comment »

PROLOG

Suatu tempat di sekitar Jakarta Selatan, pukul 22.13 WIB

Malam ini menjadi malam yang paling disesali oleh Yasmin Margareth, pemimpin redaksi harian terkemuka ibukota Bahana Indonesia. Sesudah mengakhiri rapat koordinasi yang ia pimpin, ia bermaksud segera pulang ke apartemennya. Namun ketika ia baru saja hendak membuka pintu mobilnya yang terparkir di basement kantor, seorang pria yang tidak ia kenal menghajar perut dan dagunya dengan pukulan yang sangat keras sehingga ia terjatuh pingsan. Dan ketika ia terbangun dari pingsan, ia sudah terbaring dengan tangan dan kaki terikat di atas permukaan lantai yang dingin. Karena pusing dan sakit di dagunya, menyebabkan ia lama baru menyadari kalau ia terbaring di apartemennya sendiri.

Yasmin masih setengah sadar, dan sesekali terbatuk-batuk akibat efek pukulan keras di perutnya tadi. Apa yang terjadi pada diriku? Mengapa aku terikat seperti ini? Sembari mengumpulkan tenaga, ia berusaha mencoba meronta-ronta agar tali yang mengikat kaki dan tangannya bisa terlepas. Usahanya gagal.

Sesosok pria tegap dengan muka tertutup topeng berjalan perlahan mendekatinya. “Kau tidak akan bisa melepaskan ikatan tali itu. Itu ikatan mati.”

“Siapa kau? Apa yang kau inginkan dariku?” sang pemimpin redaksi yang cantik ini tergagap sambil menggigil ketakutan melihat sosok pria bertopeng yang misterius itu.

Pria bertopeng itu sekarang berjongkok. Perlahan-lahan wajahnya semakin mendekat dengan wajah Yasmin. Sesekali ia menarik nafas dalam-dalam. Aroma keringat dan parfum Yasmin yang sudah bercampur, menyebabkan gairahnya lambat laun memuncak. Tangannya yang dilapisi sarung tangan karet yang biasa dipakai dokter, kini membelai-belai halus wajah Yasmin yang sempurna itu. “Seharusnya kau tahu apa yang kuinginkan, cantik.”

Yasmin merasakan semburan hawa hangat keluar dari hidung pria itu dan menyapu permukaan kulit wajahnya. Detakan jantung pria itu pun semakin tidak beraturan terdengar olehnya. Ia semakin bergidik ketakutan ketika mata pria terlihat liar memandangi bibir ranumnya. “Tolong jangan sakiti aku. Aku punya uang. Aku akan berikan semuanya padamu.”  

“Uang? Satu milyar pun akan kutolak mentah-mentah. Yang penting bagiku sekarang adalah melihat kau terbaring dan terikat tanpa sehelai benang pun menempel di tubuhmu.”

Yasmin yang tahun ini mendapat penghargaan wanita eksekutif berpenampilan menarik dari sebuah majalah life style terkemuka di Jakarta, merupakan bukti hidup dari sebuah kecantikan elegan yang khas Indonesia. Darah Batak dan Bali mengalir di dalam dirinya, sehingga sikap tegas, kecerdasan, wajah eksotis dan kulit yang indah, ia miliki bersamaan. Akibat pola hidup sehat yang ia jalani, tubuhnya terlihat padat berisi dan kencang seperti layaknya seorang gadis remaja. Padahal dua bulan lagi ia akan genap berusia 31 tahun. Sebuah usia yang menandakan kematangan wanita. Tak heran pula karena kecantikan dan keelokan tubuhnya dari ujung kepala hingga ke kaki, banyak pria iseng yang memanipulasi fotonya menjadi foto tanpa busana dan mengunggahnya di internet. Seorang teman Yasmin pernah menyatakan padanya kalau namanya merupakan salah satu nama yang paling banyak diketikkan dan dicari di sebuah situs pencari. Bahkan di beberapa kriteria pencarian, kata “bugil” ditambahkan oleh pria-pria yang penasaran akan keindahan tubuhnya itu.  

Tetapi pria-pria itu terpaksa menelan ludah saja karena Yasmin sudah memiliki pasangan, dan dalam waktu dekat mereka akan segera menikah. Nama pria yang beruntung itu adalah Reno Adisubrata, pengusaha muda yang baru saja terpilih sebagai Ketua Ikatan Pengusaha Muda Indonesia. Selain tampan, cerdas dan berduit, Reno juga anak orang top. Ayah Reno, Sugeng Adisubrata, adalah mantan Jendral yang cukup disegani di zaman Orde Baru. Bahkan menurut kabar yang berkembang akhir-akhir ini, ayah Reno digadang-gadang akan menjadi calon kuat RI 2 dalam PEMILU mendatang.

Kalau Reno tidak ada urusan bisnis di London, tentu aku tidak mengalami kejadian ini. Aku pasti sudah bersamanya sekarang untuk membicarakan masalah itu. Pikiran Yasmin melayang ke sosok Reno yang amat ia butuhkan saat ini. Namun ia tahu mengharapkan Reno datang menolong dirinya adalah keinginan yang tidak mungkin. Sama tidak mungkinnya dengan keinginan Yasmin membicarakan sebuah masalah penting yang bisa mengancam hubungan mereka. Berulang kali Yasmin meminta kesediaan Reno untuk bertemu dan berbicara, tetapi berulang-ulang pula Reno menolak dengan alasan sibuk. Kesabaran Yasmin terhadap alasan kesibukan Reno pun habis. Tadi siang ketika Reno menelponnya, ia mengancam akan membatalkan rencana pernikahan mereka. Dan akhirnya Reno pun bersedia meluangkan waktu untuk membicarakan masalah itu akhir pekan nanti sekembalinya dari London. 

Yasmin pun tak menyadari tangan pria bertopeng itu sudah mencopot dua buah kancing kemeja yang ia kenakan hari ini. Bagian atas dari bra hitam yang menutup buah dadanya terlihat dengan jelas sekarang. Bak menemukan harta karun, pria bertopeng itu sekarang dengan kasar berusaha menyingkapkan bra yang dikenakannya. Oh Tuhan, ia akan memperkosaku. Tolong aku, kumohon.  

“Simpan nafsumu itu.” Sesosok pria berjalan mendekati Yasmin yang nyaris saja ditelanjangi. “Baru saja kutinggal sebentar, kau sudah nyaris menggagahi wanita itu.”

“Habis aku tak tahan Bos. Ini Yasmin. Yasmin Margaret!”

“Aku tahu siapa dia, dodol! Minggir kau sekarang. Lebih baik kau berjaga-jaga di dekat pintu masuk ruangan ini. Aku dan dia akan berbincang-bincang sebentar.”

Sialan. Padahal aku sudah sedikit lagi bisa melucuti pakaian dalam perempuan itu. Pria bertopeng itu dengan kesal menyingkir dari tubuh Yasmin yang sudah ia tindih. “Terserah kau saja Bos.” Pria bertopeng itu berjalan luntai meninggalkan ruangan tempat Yasmin terikat.

“Jika aku terlambat satu detik saja, kau pasti sudah diperkosanya dengan bengis. Kebetulan itu hobinya dari kelas 6 SD. Memperkosa wanita.”

Yasmin terpaksa menyetujui pernyataan dari laki-laki. Untung saja pria ini datang. Tapi siapa dia? Yasmin berusaha keras mengenali sosok pria itu, namun lampu apartemennya yang hanya dinyalakan sebagian, membuat sosok itu tak ubahnya seperti bayangan hitam kelam. “Siapa kau? Apa yang kau dan pria maniak bernafas bau itu inginkan dariku? Aku mohon, tolong jangan sakiti aku.” Seumur hidup, Yasmin terbiasa sebagai wanita yang mandiri. Memohon kepada orang lain adalah sesuatu yang tabu ia lakukan. Tetapi kali ini, nampaknya ia harus benar-benar memohon agar bisa selamat melewati malam ini.

Pria itu menyalakan rokoknya. Sembari memainkan korek api gas di tangannya, ia menghisap dalam-dalam rokok cigarette yang beraroma mentol itu. Sembari tersenyum tipis ia kemudian berkata, “Kau ingin tahu apa yang kami, tepatnya aku, inginkan? Ayolah, gunakan insting wartawanmu itu untuk mencari tahu apa yang sebetulnya aku inginkan.”

Suaranya seperti akrab di telinga. Tapi siapa dia sebenarnyar? Apakah terkait kasus itu? Yasmin mencoba berpikir keras menyusun rangkaian-rangkaian informasi di memori otaknya. Tetapi ia sama sekali tidak bisa berpikir dengan baik. Terlebih di bawah ancaman, dagu yang masih terasa sakit, dan terikat nyaris setengah telanjang di dalam apartemen sendiri.

“Kau juga tidak mengenali suaraku, Yasmin?”

“Aku sama sekali tidak mengenalmu. Kumohon jangan sakiti aku. Jika kau menginginkan uang, aku bisa memberikan semuanya yang kumiliki.”

“Yasmin, Yasmin..tahukah kau kalau uang tidak bisa membeli segalanya. Uangmu tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang kuinginkan darimu,” ujar pria itu setengah berbisik. “Yang aku inginkan hanya bukti-bukti yang sudah kau kumpulkan itu.”

“Bukti-bukti apa?” Yasmin sebenarnya tahu maksud dari pria itu, tetapi ia harus berusaha sekeras mungkin untuk mencegah pria itu mendapatkan bukti-bukti yang sudah ia kumpulkan dengan susah payah. Sebuah bukti penting yang telah membentuk kehidupannya seperti sekarang ini. Dan juga sebuah bukti penting yang bisa mengancam dirinya dan masa depannya.

“Harus kuakui kau adalah seorang jurnalis ulung. Kemampuan investigasimu bahkan jauh lebih hebat dari seorang detektif hebat sekalipun. Tetapi kau pembohong yang buruk. Dan aku tahu kau telah berbohong. Kau tahu, kau telah berbohong.”

“Aku tidak mengerti dengan maksudmu. Jika kau tidak menginginkan uangku, baiklah. Rengut saja kehormatanku jika itu yang kau dan temanmu itu inginkan.”

“Wow, aku tidak salah mendengar? Seorang Yasmin Margaret menawarkan tubuh indahnya untukku? Aku benar-benar tersanjung. Mimpi apa aku semalam.” Pria itu berjalan mendekati tubuh Yasmin yang tergeletak di lantai. Ia berjongkok sekarang persis di sebelah tubuh Yasmin. Sembari menyingkapkan kemeja yang sudah terbuka oleh si pria bertopeng, ia pun berkata, “Harus kuakui tubuhmu indah. Seorang gay pun bisa berdecak kagum melihat kau yang dalam keadaan bugil.”

Darah Yasmin berdesir karena jari-jari pria berkacamata hitam itu menyentuh bagian atas buah dadanya. Ketakutan yang ia rasakan sekarang, jauh lebih besar daripada ketika ia nyaris ditelanjangi pria bertopeng tadi. Nampaknya laki-laki ini psikopat sejati, pikir Yasmin.

“Mungkin lain kesempatan aku bersedia membayar mahal untuk menelusuri setiap jengkal dari tubuhmu. Tetapi tidak kali ini. Yang aku inginkan adalah bukti-bukti yang sudah kau kumpulkan selama ini. Katakan padaku dimana bukti itu sekarang!”

“Jika aku tidak mau mengatakannya, apa yang akan kau perbuat?”

Belum sedetik Yasmin selesai berbicara, sebuah pukulan keras mendarat di hidungnya. Begitu kerasnya pukulan itu, tulang hidung Yasmin pun patah. Darah segar segera mengalir deras dari hidungnya yang mancung itu. Yasmin hanya bisa menangis menahan sakit luar biasa yang ia rasakan sekarang. “Bangsat, kau mematahkan hidungku!”

“Itu belum seberapa, sayang. Jika kau tidak segera mengatakan dimana bukti itu, aku akan membuatmu mati perlahan-lahan dengan kesakitan yang lebih dahsyat daripada hidungmu yang patah itu.” Pria itu tersenyum tipis sembari menghisap rokok yang ada di tangannya. “Jadi katakan padaku sekarang, atau tubuh indahmu ini akan mulai kulubangi dengan rokokku ini.”

Bibir Yasmin yang penuh dengan darah dari hidungnya yang patah komat-kamit seperti mengatakan sesuatu.

“Kau baru mengatakan apa? Katakan dengan lebih keras!”

Lagi-lagi Yasmin hanya menggerakkan bibirnya seakan-akan ia mengucapkan sesuatu. Tetapi kali ia sedikit berbisik.

Pria berkacamata hitam yang berdarah dingin ini pun mendekatkan kupingnya ke bibir Yasmin. Tanpa ia duga, Yasmin menggigit daun telinganya dengan keras hingga daun telinga itu robek. “Dasar perempuan laknat! Kau benar-benar cari mati?”

Sebuah pukulan keras menghantam mulut Yasmin. Dua kali pukulan telak menghantam mulutnya lagi, hingga kemudian beberapa gigi Yasmin hancur. Wajahnya kini bahkan sudah tidak berbentuk lagi.

“Jika kematian yang kau inginkan, baiklah akan aku kabulkan. Karena jika kau mati, bukti-bukti itu juga pasti terkubur bersamamu. Selamat tinggal Yasmin Margaret.”

Dinginnya malam itu, hampir sedingin pisau baja yang menghujam dada Yasmin Margaret yang meregang nyawa di dalam apartemennya sendiri. 

(BERSAMBUNG)

Written by Rolan Sihombing

September 13, 2012 at 4:24 pm

Posted in Fiksi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: