Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

The Power of “Hidup Secukupnya”

with 2 comments

Era industrialisasi dan perdagangan yang mengawal modernisasi yang saat ini menjadi cakrawala dunia kita, meski berdampak positif tapi di satu sisi yang lain juga, membidani sebuah persepsi yang salah mengenai kebahagiaan. Kebahagiaan dalam pemahaman masa kini adalah having goods (memiliki barang-barang) dan bukan lagi knowing good (mengetahui yang baik) ataupun doing good (melakukan hal yang baik).

Contoh nyata. Teman saya merasa bahagia sekali ketika ia berhasil membeli sebuah iPhone terbaru. Rasa bahagianya itu timbul dari kekaguman orang-orang di sekitarnya yang selain memuji iPhonenya,  tetapi juga memuji dirinya. Teman saya bahagia karena dengan iPhone terbaru yang ia miliki, nilai dirinya menjadi bertambah besar. Orang-orang tidak lagi melihat parasnya yang jauh dari tampan, tetapi mengagumi iPhonenya yang kemudian mendongkrak penampilannya yang tidak bernilai tadinya menjadi penuh nilai tambahan yang mempesona.

Meski beberapa waktu kemudian teman saya itu terpaksa menjual iPhonenya dikarenakan ketidakmampuannya memahami jeroan dari perangkat mahal yang ia miliki tersebut. Perangkat yang tadinya “membahagiakan” dia, berubah menjadi perangkat yang membingungkan dan menghilangkan “kebahagiaannya.”

Jadi apa yang dimaksud dengan kebahagiaan?

Bagaimana meraih kebahagiaan hidup?

Rahasia menjadi bahagia sebenarnya sangat sederhana, yaitu merasa cukup. Bukan cukup banyak rumah atau cukup banyak mobil dan harta; tentu saja juga bukan cukup tiga atau lima istri. Rasa cukup dengan pilihan yang sedikit, dan cukup atas persepsi kebahagiaan yang dimiliki.

Barry Schwartz mengungkapkan dengan baik sekali tentang pentingnya memiliki pilihan sesedikit mungkin dalam hidup lewat bukunya The Paradox of Choice: Why More is Less.” Schwartz berargumen manusia akan lebih berbahagia jika dihadapkan pada pilihan yang terbatas, daripada lebih banyak lagi pilihan.

Untuk membuktikan argumennya tersebut, ia melakukan survey sederhana.  Schwartz meminta beberapa mahasiswa untuk memberikan nilai bagi rasa coklat yang akan diberikan pada mereka. Para mahasiswa tersebut dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama diberi sebuah kotak berisi enam buah coklat, sementara kelompok kedua diberi sebuah kotak berisi tiga puluh buah coklat. Mereka diminta mencicipi coklat- coklat tersebut dan memberikan pendapat mereka.

Ketika kemudian mereka ditanya tentang pendapat mereka mengenai coklat- coklat tersebut, kelompok yang hanya memiliki pilihan enam buah coklat ternyata memberikan nilai dan menunjukkan tingkat kepuasan yang lebih tinggi terhadap coklat- coklat tersebut dibandingkan kelompok kedua yang diberi tiga puluh macam coklat dalam kotak.

Semakin sedikit pilihan semakin meminimalkan potensi mengambil keputusan yang salah. Demikian penjelasan Schwartz lebih lanjut dalam bukunya. Karena dengan banyaknya pilihan maka biaya seseorang untuk mengambil sebuah keputusan menjadi semakin besar. Dibutuhkan lebih banyak upaya dan usaha bagi seseorang untuk mengambil sebuah keputusan jika ia dihadapkan pada banyak pilihan, yang kemudian semakin meningkatkan resiko terjadinya sebuah keputusan yang salah dan disesali.

“Manusia membutuhkan keputusan-keputusan yang tidak perlu disesali untuk bahagia,” Schwartz menambahkan lebih lanjut. Jika keputusan yang diambil seseorang adalah keputusan yang tak dapat dikoreksi atau disesali, maka secara natural manusia akan membuat banyak pembenaran terhadap keputusan tersebut dan kemudian secara kejiwaan akan membuat ia melakukan keberpihakan pada keputusan yang telah diambil. Ketika seseorang sudah merasa keputusannya benar dan secara kejiwaan ia pun sungguh berpihak dan menjalani keputusan tersebut, maka orang tersebut akan merasa sangat bahagia.

Dalam kasus teman saya, ia merasa dengan iPhone yang ia miliki akan membahagiakannya. Tetapi ketika seorang teman saya yang lain membeli sebuah ponsel android yang fungsi dan fiturnya sama dengan iPhone tapi lebih user friendly (meski Steve Jobs membuat iPhone dengan alasan menciptakan sebuah ponsel yang sangat user friendly) baginya, maka sontak ia menyesali keputusannya membeli iPhone dan segera menjadi tidak bahagia, meski secara nyata iPhone berhasil mendongkrak tampangnya yang pas-pasan itu.

Seandainya teman saya yang lain tidak menunjukkan alternatif ponsel user friendly yang lain, sudah dapat dipastikan teman saya akan selalu bahagia dengan iPhonenya yang dibeli dengan mencicil tersebut.

Semakin sedikit pilihan semakin minim resiko penyesalan keputusan, dan semakin bahagia seseorang dalam hidupnya. Dengan kata lain semakin minimnya standar kebahagiaan yang dimiliki seseorang sangat bergantung dari semakin minimnya potensi salah memutuskan yang dipicu dari terlalu banyaknya pilihan yang ditawarkan kepadanya.

Salah satu penggalan kalimat dalam Doa Bapa Kami berbunyi demikian: “Berilah pada kami makanan kami yang secukupnya.” Mungkin setelah kalimat itu jika ditambahkan kalimat “..karena kebahagiaan kami bukan dikarenakan banyaknya jumlah dan pilihan makanan yang tersaji di meja kami, tetapi dikarenakan kami tahu makanan yang seadanya ini adalah bukti pemeliharaanMu kepada kami,” maka arti penggalan kalimat itu akan menjadi sangat jelas. Kebahagiaan bukan karena begitu melimpahnya makanan yang tersaji; malah akan menimbulkan kekalutan dan kebingungan untuk menjatuhkan pilihan makanan mana yang akan dimakan, dan juga kemudian menimbulkan perasaan menyesal mengapa tidak memilih menu yang dipilih orang di sebelah kita, dan ditambah rasa sesal karena makanan yang dipilih membuat kolesterol dan asam urat naik; tetapi kebahagiaan timbul karena mengetahui bahwa Tuhan Pencipta langit dan bumi memelihara hidup kita dengan makanan yang tersedia. Ditambah dengan kesadaran jika makanan tersebut dibeli dengan uang hasil jerih lelah kita sendiri, dan kesadaran bahwa masih banyak orang yang tidak seberuntung kita yang bisa makan dengan teratur.

Itulah kebahagiaan sejati.

Kemarin ketika dalam perjalanan pulang dari kantor, saya membayangkan betapa nikmatnya jika setelah kerja terhidang sepiring pisang goreng hangat seperti buatan Mama saya. Maklum ketika jauh dari orang-orang yang kita cintai, segala hal kecil yang pernah kita terima dan rasakan dari mereka sangatlah kita rindukan. Selain karena kemarin saya kangen dengan Mama tercinta, saya pun kangen dengan pisang goreng buatannya.

Sepanjang jalan saya hanya bisa memikirkan betapa enaknya jika bisa menyantap pisang goreng ditambah secangkir kopi hangat sembari melepas penat dan bermain-main dengan keponakan tercinta. Saya tegaskan, itu semua masih dalam pikiran dan khayalan.

Setiba saya di kontrakan, belum selesai saya melepas sepatu, tetangga sebelah saya memanggil saya dan menyerahkan sepiring besar berisi beberapa pisang goreng berukuran besar persis seperti buatan Mama saya. Tanpa bermaksud mendramatisir, ketika saya menyantap pisang goreng tersebut, saya diingatkan sebuah ayat yang berbunyi:

“…dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.” (Mzm.37:4)

Bahagiakan diri kita dalam Tuhan, bukan kepada alternatif-alternatif yang lain seperti kekayaan, penampilan, atau pengakuan orang lain, maka Ia akan memberikan kepada kita hal-hal baik dan berkenan di hadapanNya, yang ada di hati kita dan mungkin hanya sekedar terbersit dalam pikiran kita.

Hidup bahagia adalah merasa cukup dengan apa yang sudah ada pada kita. Mengejar hal-hal lain yang belum ada pada kita karena kemampuan dan kualifikasi kita yang belum memadai, hanya akan mengakibatkan sebuah hidup yang penuh dengan ketidakpuasan. Sebuah hidup penuh dengan gerutuan, dan bukannya ucapan syukur, adalah kehidupan yang paling tidak bahagia.

Selamat menikmati The Power of “Hidup Secukupnya.”

Written by Rolan Sihombing

September 11, 2012 at 4:57 pm

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Bung Rolan, keren banget tulisannya.. Saya jadi inget ada satu film mandarin dimana mengutip kata2 buddha “lebih banyak 1 barang mungkin hidupmu lebih berisiko, namun kurang 1 barang mungkin hidupmu akan lebih baik”. Jadi inget juga Amsal 30 yg meminta Tuhan untuk tidak memberikan kekayaan atau kemiskinan, cukup “memakan” yg menjadi bagiannya saja.

    Terima kasih bung… Ditunggu tulisan selanjutnya..
    God Bless your ministry and life enough.

    Bayu Soepono

    bsoepono

    September 13, 2012 at 6:11 am

  2. Terima kasih Pak, sudah menyempatkan diri mampir membaca tulisan saya. Jadi tambah semangat nulis karena ada Bapak yang baca🙂

    God bless you Sir..

    Rolan Sihombing

    September 13, 2012 at 5:10 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: