Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Lalong Pondong Du Ngon, Lalong Rombong Du Kolen

leave a comment »

Dalam lokakarya Sekolah Ramah Anak yang diadakan Wahana Visi Indonesia Manggarai selama dua hari ini, salah satu materi yang sangat menginspirasi adalah pada saat dialog terbuka dari para peserta mengenai kebajikan-kebajikan Manggarai yang dapat menjamin perlindungan hak anak-anak.

Di dalam budaya Manggarai terdapat goet atau pantun-pantun warisan leluhur yang bisa dikaitkan sebagai tanda harapan orang tua kepada anaknya. Goet itu berbunyi demikian:

“Lalong pondong du ngon, lalong rombong du kolen.”  

Yang memiliki arti jika seorang meninggalkan rumahnya membawa bekal sedikit, maka ketika ia kembali ke rumah harus membawa hasil yang banyak. Jika dikaitkan dengan pendidikan anak, maka goet itu bisa berarti setiap anak yang pergi dari rumahnya untuk bersekolah harus pulang dengan membawa hasilnya, yaitu ilmu dan karakter yang banyak dan dapat berguna untuk kemajuan orang lain. 

Saat saya melihat para peserta, tua dan muda, kepala sekolah, guru, dan tokoh-tokoh masyarakat saling berdiskusi mengenai kebajikan-kebajikan Manggarai yang dapat digunakan untuk melindungi anak-anak mereka, saya merasa bangga sekali sebagai orang Indonesia. Karena bangsa ini sangat kaya dengan nilai-nilai luhur yang diwariskan nenek moyang kita secara turun temurun. Dan sesaat saya merasa optimis bahwa bangsa ini akan mengalami perubahan yang baik di tangan generasi yang akan datang, dan secara khusus di tangan anak-anak Manggarai yang menjadi tanggung jawab pelayanan saya.

Saya nyaris menitikkan air mata ketika harapan ini begitu menggema dalam sanubari saya.

Tetapi di satu sisi saya juga sangat pesimis mengenai nasib bangsa ini. Ketika saya membuka koran on-line dan saya melihat judul artikel “20 Anggota DPR Plesir Ke Denmark dan Turki”, harapan tersebut mulai luntur sedikit. Lagi-lagi anggota DPR.

Bagaimana mungkin bangsa ini berubah lebih baik, jika generasi sekarang melihat tontonan hidup yang memuakkan dari para orang dewasa dan para pemimpin bangsa. Mereka yang menyebut dirinya pemimpin sibuk memikirkan bagaimana mereka bisa mendapatkan kepuasan dan keuntungan pribadi, sementara di saat yang sama ada saudara sebangsa mereka yang malam ini terpaksa tidur dengan perut lapar karena tidak memiliki sepeser uang pun untuk membeli makanan.

Salah seorang fasilitator dalam lokakarya Sekolah Ramah Anak yang kami adakan, bercerita kepada saya dengan geram tentang seorang hamba Tuhan yang begitu ekslusif, bergaya elit, dan bahkan nyaris jarang bersentuhan dengan penderitaan umat. Ia menceritakan nilai-nilai pengabdian yang sudah mulai luntur dari teman-teman yang menyatakan dirinya sebagai pelayan Tuhan.

Tidak ada uang, tidak ada pelayanan.

Yang terpenting adalah kebaktian di hari Minggu. Tidak perlu terlalu pusing memikirkan tanggung jawab sosial.

Demikian pernyataan-pernyataan yang kerap dilontarkan secara bersenda-gurau oleh para rohaniawan yang dikenal fasilitator itu.

Sepertinya kita harus kembali kepada konsep sederhana dari para leluhur, seperti yang dianut leluhur orang Manggarai yang saya tuliskan di atas, tentang keberhasilan adalah pulang ke rumah membawa ilmu dan tabiat yang baik setelah menunaikan tugas belajar. Dunia dengan segala tata nilainya yang sudah semakin akristiani, mendidik orang-orang zaman sekarang bahwa ukuran keberhasilan adalah materi yang ia miliki, titel akademis yang tinggi, dan jabatan/pekerjaan/status sosial yang terhormat.  Padahal itu semua bukan ukuran keberhasilan yang sejati. Jika mengacu kepada pantun Manggarai tersebut, maka keberhasilan diidentikkan dengan manfaat ilmu yang bisa diberikan seseorang kepada masyarakat, dan karakter yang mulia yang bisa dilihat oleh orang lain.

Ketika kita kelak hanya sekedar sebuah nama yang tergores di batu nisan, kebanggaan kita yang utama seharusnya adalah betapa hidup kita yang singkat ini telah mendatangkan banyak kebaikan kepada orang lain. Harta duniawi bisa habis, tetapi harta dalam bentuk kebaikan dan karakter yang mulia tidak akan habis dimakan waktu. Rumah megah tidak akan bisa berbicara mengenai siapa kita, tetapi manusia yang adalah rumah tempat Roh Ilahi bersemayam dapat berbicara mengenai siapa dan apa yang kita lakukan semasa hidup.

“Lalong pondong du ngon, lalong rombong du kolen.”

Written by Rolan Sihombing

September 7, 2012 at 4:11 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: