Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari

leave a comment »

“Kami ingin guru-guru tidak merokok saat memberi pelajaran di kelas,” demikian pernyataan 25 anak lebih dari dua sekolah dasar di dua kecamatan yang ada di Ruteng. Pernyataan itu disampaikan anak-anak kelas 3-5 SD dalam sesi dengar pendapat anak yang diadakan Wahana Visi Indonesia Manggarai hari ini.

Rupanya anak-anak lebih memahami pola hidup yang sehat ketimbang orang dewasa. Bahkan mereka lebih menyadari norma-norma etis dan profesionalisme kerja yang harusnya dilakukan orang dewasa. Dalam pemikiran mereka yang masih polos dan lugu, mereka tahu bahwa seorang guru tidaklah pantas mengajar sembari merokok.

Saya jadi teringat dengan seorang teman saat SMA dulu. Teman ini seringkali merokok di kelas pada saat pelajaran diberikan. Dan agar ia bisa bebas merokok di kelas, ia sengaja duduk di deretan bangku paling belakang dan paling dekat dengan jendela. Sehingga asap rokoknya tidak tercium oleh guru yang sedang mengajar.

Saya mencurigai kebiasaan buruk teman ini pasti diperoleh karena meniru gurunya sewaktu SMP yang juga merokok sembari mengajar.

Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan nasional, pernah mengatakan: “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani,” yang berarti guru seharusnya ketika berada di depan memberi contoh; saat berada di tengah murid memberi semangat; dan dari belakang guru memberi dorongan. Semboyan ini sama sekali tidak dipraktekkan oleh guru-guru yang merokok di depan anak didiknya sembari mengajar. Guru lebih mementingkan kesenangan pribadinya ketimbang mengupayakan kepentingan terbaik bagi anak-anak didiknya, calon pemimpin-pemimpin di masa yang akan datang. Namun jika gurunya saja merokok sembari menunaikan tugas, tidak heran teman yang saya ceritakan di atas pun ikut-ikutan merokok di dalam kelas pada saat proses belajar mengajar terjadi.

Saya berkesempatan berbincang-bincang dengan seorang anak sebelum sesi hari ini berakhir. Pokok perbincangan kami adalah mengenai cita-citanya. Cukup mengejutkan juga ketika saya mengetahui cita-citanya ketika dewasa nanti. Dia mengatakan ingin jadi Pastur. Ketika saya menanyakan alasan mengapa ia ingin menjadi Pastur, dia mengatakan dengan polos:

“Saya ingin kemana-mana pakai mobil dan diantar oleh pak supir.”  

Ketika saya mendengar jawaban anak itu, saya nyaris tidak kuasa menahan tawa, tetapi karena saya tahu jika saya tertawa tadi maka anak itu tidak akan mau lagi berbicara dengan saya. Saya memuji cita-citanya, tetapi saya pun berupaya meluruskan motivasi dengan menggunakan bahasa yang ia mengerti. Mungkin selama ini ia melihat ada beberapa hamba Tuhan yang hidupnya mapan secara materi, sehingga ia pun menyimpulkan bahwa menjadi seorang Pastur akan sangat menyenangkan dengan materi dan hak istimewa yang melimpah.

Saya pun mengatakan menjadi Hamba Tuhan, bukanlah mengenai hak istimewa, harta yang diterima, ataupun mengenai kekuasaan yang dimiliki. Menjadi Hamba Tuhan seperti Pastur adalah wujud tertinggi dari kasih, komitmen dan dedikasi kita kepada Tuhan dan juga kepada umat. Pelayanan tidak boleh diidentikkan dengan materi yang bisa diterima, tetapi harus diarahkan sekuat-kuatnya untuk kepentingan orang lain yang kita layani.

Semoga setelah mendengar uraian saya tersebut, anak itu bisa kembali memiliki motivasi yang lebih tepat.

Anak-anak belajar dari melihat dan meniru orang dewasa. Ketika seorang guru merokok sembari mengajar, maka sudah dapat dipastikan anak didiknya pun akan meniru perilaku guru tersebut. Dimulai dengan merokok sembari belajar sampai kemudian bisa berdampak bekerja dengan etos kerja yang tidak profesional. Ketika seorang pelayan Tuhan hidup dalam kemewahan dan materialisme, maka sudah dapat dipastikan anak-anak yang melihat gaya hidup pelayan Tuhan tersebut pun menginginkan kemewahan dalam hidupnya dengan mengatasnamakan Tuhan dan memperkosa ayat-ayat untuk mendukung gaya hidup mewah yang mereka inginkan.

Guru, Pastur, Pendeta, Papa, Mama dan semua orang dewasa yang ada di sekitar kehidupan seorang anak, adalah  sosok yang seharusnya “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.”  

Guru kencing berdiri, murid pun kencing berlari. Kita, para pendidik khususnya, adalah tayangan hidup yang ditonton seorang anak. Semakin bagus kita menyajikan tayangan kehidupan kita, semakin bagus pula akhlak anak-anak yang berada di sekitar kita.

Written by Rolan Sihombing

September 6, 2012 at 7:24 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: