Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

TV Kristen Pun Tidak Mendidik

leave a comment »

Sejak beberapa hari ini, saya kembali terhubung dengan dunia luar. Karena TV saya sudah dipasangi parabola, dan saya pun bisa menyerap informasi-informasi yang relevan sekarang. Dari sekian banyak channel yang tersedia, terdapat dua channel yang menyiarkan tayangan-tayangan bernuansa Kristen. Karena hobi saya adalah gonta-ganti channel, maka saya sesekali menyaksikan tayangan yang tersedia di channel Kristen tersebut, yang mayoritas diisi dengan khotbah-khotbah dari hamba-hamba Tuhan yang terkenal.

Dan saya terkagum-kagum dengan mayoritas isi khotbah yang disampaikan, yaitu tentang berkat, berkat, dan berkat. Lagi, lagi, dan lagi. Bahkan ada beberapa pengkhotbah, dengan materi acara yang sama,  yang acaranya bisa berulangkali ditayangkan sepanjang hari. Karena saya pernah bekerja di content provider yang menyediakan tayangan-tayangan Kristiani untuk channel-channel TV tersebut, saya paham jika ada beberapa acara yang ditayangkan berulang-ulang kebanyakan karena memang tidak ada materi lain yang bisa disiarkan.

Tema tentang berkat memang lebih diminati, khususnya di tengah ancaman krisis ekonomi secara global. Para pendeta pun terpaksa menyesuaikan isi khotbahnya dengan tuntutan pasar tersebut. Karena jika tidak, besar kemungkinan tidak akan “laku” diundang berkhotbah kesana kemari.

Saya tidak menyalahkan dan menganggap khotbah berkat itu haram. Sah-sah saja. Jika memang kebutuhan seseorang masih seputar hak-hak yang bersangkutan, maka seindah-indahnya khotbah-khotbah seputar kewajiban umat di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara ataupun khotbah seputar kepedulian sosial, pastilah tidak akan didengar.

Saya akan sulit bicara mengenai kewajiban mengerjakan PR kepada Joddy keponakan saya yang masih TK A, dibanding jika berbicara dengan Joanna, kakaknya, yang sudah kelas 5 SD. Mengapa? Karena Joddy masih ingin bermain, tidur lebih cepat, minum susu sebanyak-banyaknya, ataupun menonton acara TV kesukaannya tanpa diganggu. Sedangkan Joanna yang sudah menjelang masa akil balik, mulai menyadari tanggung jawab yang harus ia kerjakan. Ia juga mulai menyadari konsekuensi jika ia melalaikan tanggung jawab yang harus ia kerjakan sebagai pelajar misalnya.

Hal yang sama berlaku dalam level kedewasaan iman seseorang. Semakin dewasa iman seseorang, maka semakin besar kesadarannya akan tanggung jawabnya sebagai orang percaya di tengah masyarakat yang lebih luas. Ia tidak lagi mengharapkan berkat, tetapi justru ia ingin menjadi berkat buat orang lain. Ia tidak lagi mengedepankan pergumulan pribadinya, tetapi ia sebisanya berusaha membantu orang lain yang sedang mengalami pergumulan.

Jadi sorry to say, acara-acara di channel-channel Kristen sangatlah kekanak-kanakan. Penuh dengan iming-iming berkat, dan terjaminnya semua kepentingan pribadi. TV Kristen pun sama tidak mendidiknya seperti TV-TV swasta lainnya.

Selain keresahan saya tentang acara TV yang penuh dengan angin surga, ada hal lain yang menjadi bahan lamunan saya beberapa hari ini. Ini dimulai dengan sebuah dialog antara saya dengan seorang Suster dari sebuah Kesusteran di Ruteng, yang kebetulan juga menjadi rekan kerja saya dalam upaya menciptakan Ruteng sebagai kota yang ramah anak.

Suster mengatakan banyak masyarakat desa yang merasa tidak ada yang salah dengan pola asuh yang mereka terapkan selama ini, meskipun berulangkali LSM yang berfokus pada perlindungan anak menyatakan bahwa kekerasan dalam pengasuhan anak adalah salah dan melanggar Undang-undang Perlindungan Anak. Khusus untuk masyarakat Manggarai, ada pepatah yang berbunyi: “Di ujung rotan, ada emas.” Yang artinya ada manfaat besar dan yang berguna jika seorang anak dididik dengan keras; termasuk dengan menggunakan kekerasan dalam mendisiplin anak.

Ada dua kemungkinan dari fakta mengapa banyak orangtua di Manggarai khususnya, merasa tidak ada yang salah dengan pola asuh mereka yang keras kepada anak-anak mereka. Pertama, karena faktor budaya yang sudah sangat mengakar. Kedua, karena arogansi LSM-LSM peduli anak yang langsung menghakimi pola asuh yang keras, yang sudah jadi budaya, sebagai sesuatu yang salah.

Sebuah budaya yang salah seharusnya diberi lawan tanding dalam bentuk budaya, atau bisa disebut sebagai budaya alternatif. Dan untuk menciptakan sebuah budaya alternatif, dibutuhkan kerjasama dari pelbagai pihak. Dan gereja sebagai bagian dari masyarakat, meski minoritas sekalipun, berkewajiban membantu terciptanya sebuah budaya alternatif yang dapat mencelikkan mata masyarakat yang selama ini berbudaya dengan kurang tepat.

Tapi jika gereja, baik Gereja institusi ataupun gereja secara personal yaitu tiap jemaat, saja lebih suka dininabobokan dengan berkat dan hak-hak individu; bagaimana mungkin bisa menyadari kewajiban untuk menciptakan sebuah budaya alternatif. Jika gereja (institusi dan personal) lebih doyan membangun diri sendiri, bagaimana mungkin kesadaran untuk membangun masyarakat bisa timbul? Dan seharusnya TV Kristen, dan media Kristen lainnya, pun mendidik gereja untuk mulai meninggalkan kekanak-kanakan mereka dan beranjak dewasa dengan lebih menaruh kepedulian pada semua hal yang terjadi di luar tembok gereja.

Saya pernah mengatakan di dalam beberapa kesempatan khotbah di kampus-kampus yang ada di Bandung, bahwa setiap orang Kristen hendaknya jangan hanya jago kandang. Bernyanyi dengan semangat, meloncat-loncat saat pujian, menangis bercucuran air mata (yang bisa jadi karena menangisi problemanya sendiri) pada saat penyembahan, bahkan berteriak dengan penuh semangat ketika firman Tuhan disampaikan (biasanya untuk mengamini hak istimewa dan berkat untuk dirinya sendiri); tetapi ketika berada di tengah masyarakat tidak ada kontribusinya sama sekali. Aktif di PMK, tapi melempem di Senat Mahasiswa. Jago di persekutuan Kristen, tapi melempem di Karang Taruna.

By the way, karena topik saya bukan tentang berkat atau “bagaimana menjadi mahasiswa teladan dengan doa dan tanpa belajar”, maka saya tidak pernah lagi diundang untuk khotbah di kampus-kampus yang ada di Bandung. Hahaha…

Jika hari ini banyak sekali permasalahan sosial yang tidak terpecahkan di tengah bangsa ini, maka seharusnya ini menjadi sebuah momentum yang tepat bagi gereja untuk memberikan kontribusi nyata di tengah masyarakat. Budaya alternatif, yang mencoba melawan sebuah budaya dunia yang korup, sangat bisa tercipta jika gereja mau mengulurkan dan mengotori tangannya untuk bekerjasama dengan warga masyarakat lain yang beragama lain pula.

Masih terkait dengan kegelisahan saya di atas, yaitu tentang budaya alternatif yang ramah anak yang harus menjadi lawan tanding untuk budaya kekerasan dalam pola asuh di Manggarai, dan juga tentang arogansi LSM yang mungkin selama ini hanya menginformasikan pengetahuan tentang pola asuh yang salah, maka perenungan saya berikutnya adalah masyarakat itu semestinya dipandang bukan hanya sebagai penerima manfaat (beneficiary) tetapi sebagai mitra yang sejajar. Di dalam hubungan kemitraan yang sejajar, sebuah proses belajar resiprokal bisa terjadi, dimana masyarakat belajar dari LSM dan sebaliknya LSM pun belajar dari masyarakat. Dan pola hubungan seperti inilah yang sangat relevan di era post-modern seperti sekarang.

Sebuah komunitas haruslah merupakan kombinasi antara bakat-bakat individu yang berbeda yang kemudian saling berinteraksi dalam hubungan dialogis dengan metode pembelajaran yang resiprokal. Pada pola hubungan seperti ini, semua orang adalah ahli dan pendapatnya pun berharga bagi kemajuan komunitas tersebut.

Komunitas yang berpusat pada satu orang dan tidak melibatkan partisipasi dari orang lain yang ada di komunitas itu, lambat laun akan menjumpai ajalnya sendiri. Kesimpulan yang hampir senada dari pelbagai literatur yang mempelajari tentang kepunahan dari sebuah kerajaan, adalah sebagai konsekuensi dari sistem pemerintahan yang otoriter dimana rakyat tidak diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam perkembangan kerajaan. Sehingga jika sebuah komunitas tidak ingin mengalami kepunahan, maka sebuah hubungan kemitraan yang dialogis dan resiprokal harus dikedepankan.

Ah sudah terlalu panjang tulisan ini. Pasti pembaca sudah menguap. Jadi saya akhiri saja sekarang. Ada hal lain yang ingin saya lakukan terlebih dulu, yaitu menonton channel-channel TV Kristen. Siapa tahu hari ini tidak mengkhotbahkan tentang berkat lagi.

Mungkinkah? Sepertinya sih tidak mungkin.

Written by Rolan Sihombing

September 5, 2012 at 4:52 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: