Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Seorang Pemuda Menjadi Gay Karena Saya

with one comment

Mengerikan bukan judulnya? Tenang, judul itu merupakan salah satu strategi untuk memaksa para pembaca menghabiskan 15 menit ke depan membaca tulisan saya. Saya harap tidak satupun dari pembaca akan berasumsi diam-diam jika saya adalah seorang penyuka sesama jenis. Mohon kepercayaannya kalau saya masih laki-laki normal (dan jomblo) yang sedang mencari cinta tulus seorang wanita yang mana merupakan komoditas yang sangat langka hari-hari ini.

Ada uang, abang kusayang. Tak ada uang, abang silakan pulang.

Hari ini saya mau bercerita tentang seseorang. Sebut saja namanya X. Hari ini mungkin X sudah berumur 30-an lebih. Dia laki-laki, tinggal di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, dan dia GAY.

Saya mengenal X pada tahun pertama saya berkuliah di salah satu sekolah teologi di Bandung, dan perkenalan itu terjadi saat saya menjalani masa praktek pelayanan yang pertama kali. Kebetulan pihak kampus menempatkan saya di kota ini, untuk menjalani masa praktek di salah satu cabang gereja yang sedang dalam fase perintisan.

Pelbagai tugas dan tanggung jawab saya kerjakan dengan sebaik mungkin, karena masa-masa itu semangat pelayanan gerejawi masih kuat mendorong motivasi saya. Saat itu saya seperti meyakini bahwa saya memang terlahir untuk ini; melayani pekerjaanNya di dalam sebuah institusi yang bernama gereja. Maklum masih muda, jadi penuh dengan mimpi utopia tentang arti PELAYANAN yang ternyata di kemudian hari saya dapati bahwa tugas-tugas gerejawi hanyalah setitik air di tengah lautan makna PELAYANAN yang sesungguhnya.

Anyway, karena masih muda dan penuh semangat, saya selalu mencari celah untuk “mencari jiwa.” Tentu arti mencari jiwa ini masih sangat sempit, yaitu hanya sekedar merubah orang yang saya dekati menjadi orang Kristen ataupun membuat yang bersangkutan menjadi anggota gereja. Oleh karena itu setiap malam, saya berusaha mencari “jiwa” untuk ditobatkan. Entah itu di warung makan, atau di tengah jalan sekalipun.

Lalu pada suatu malam saya bertemu dengan anak muda ini, yang bernama X. Kebetulan saat itu saya sedang makan nasi goreng di warung tenda dekat gereja, dan X pun muncul juga hendak makan malam dengan menu nasi goreng di warung tenda yang sama dengan saya. Singkat cerita, pesanan nasi gorengnya pun jadi, dan ia duduk persis di depan saya.

Didorong semangat “pelayanan” yang masih tinggi bergelora, saya pun mulai mencari celah untuk berbincang-bincang dengan X yang kemudian, harapan saya, diakhiri dengan proses “penjemaatannya.”

Tetapi kemudian perbincangan yang hanya basa-basi di awal, menjadi sebuah perbincangan yang serius dan bahkan banjir air mata dari X. Makan nasi goreng yang tadinya saya rencanakan hanya 30 menit saja, berubah menjadi ajang curcol X selama hampir lebih dari 2 jam.

X menceritakan dengan penuh kesedihan mengenai papanya yang berselingkuh dengan sekretarisnya di kantor. Lalu karena kecewa, mamanya yang membenci wajah X yang mirip dengan mantan suaminya, membuang X untuk bersekolah di kota kecil itu, dimana tidak ada sanak-saudara X yang bahkan tinggal di kota itu. Karena mamanya pun wanita karir yang terbilang sukses, setiap bulan X selalu dikirimi uang yang sangat banyak untuk remaja berusia 17 tahun pada tahun 1997.

Singkat cerita, X “bertobat.” Dan ia pun berjanji akan menghadiri kebaktian anak muda, dimana saat itu saya sudah tidak ada lagi di kota itu dan kembali ke Bandung untuk menjalani masa-masa kuliah kembali.

Di sinilah titik krusial yang kemudian merubah saya dan merubah X juga.

Kesibukan kuliah dan segala tugas dari dosen, membuat saya mengabaikan satu buah surat dari X; karena zaman itu telepon genggam adalah alat yang sangat teramat mahal untuk seorang mahasiswa teologi yang hanya mengandalkan transferan sponsor tiap bulan, yang juga jumlahnya tidaklah banyak. Surat itu, setelah saya baca, berisi tentang kabar terbaru X dan ia menceritakan betapa senangnya ia dengan “kedamaian” batiniah yang ia rasakan saat ini. Tetapi dia pun menceritakan kegalauannya karena teman-temannya sering menertawakan kebiasaan “gerejawinya” yang baru, karena nyaris sebagian besar temannya mengetahui bahwa X bukanlah siswa yang religius dan “baik-baik.”

Seharusnya saya segera meresponi surat itu. Tetapi sayangnya, kesibukan saya, atau mungkin bisa dibilang “ke-sok-sibukkan” saya, menyebabkan surat itu hanya terselip di buku jurnal saya.

Beberapa tahun kemudian ketika saya diskors dari kampus tanpa kejelasan, saya kembali ke kota kecil tempat saya pertama kali memiliki mimpi utopia tentang sebuah konsep yang bernama “pelayanan.” Tahun-tahun yang saya lalui sebelum fase skorsing, sangat berat. Masalah keluarga, diskriminasi yang saya alami, bahkan stigma sebagai mahasiswa “sesat” membuat banyak sekali perubahan paradigma terjadi dalam saya. Sehingga untuk sekedar memuaskan kerinduan akan keyakinan bahwa “saya dulu pernah jadi orang baik” membuat saya kembali ke kota itu.

Didorong penyesalan saya terhadap surat X yang saya abaikan bertahun-tahun yang lalu, saya pun segera berusaha mencari informasi mengenai X. Dan tentu yang saya tanya adalah pemilik warung tempat makan anak-anak kost seperti X. Bagai disambar petir di siang bolong, pemilik warung itu mengatakan demikian:

“Wah, si X sekarang sudah punya pacar lho Mas. Pacarnya itu pemilik salah satu salon besar di kota ini. Nama pacarnya Mas xxxx.”

“X sekarang gay?”

“Udah lama Mas, kurang lebih ketika ia kelas 3 SMA.”

Itu berarti tidak sampai 1 tahun setelah X mengirimkan suratnya kepada saya. I was such a moron! begitu pikir saya seusai mendengarkan penuturan pemilik warung yang juga kemudian saya ketahui adalah penyuka sesama jenis.

Seorang pemuda menjadi GAY karena saya. Karena ketidakpedulian saya sebagai seseorang yang memperkenalkannya pada kehidupan “gerejawi.” Karena kesibukan saya dengan diri saya sendiri, seorang anak memilih jalan hidup yang tidak lazim.

Saya ingin menghindari perdebatan apakah GAY itu itu benar atau tidak; percayalah sebuah perdebatan tidak akan pernah berakhir sampai kiamat datang; karena sewaktu saya dulu berbicara dengan X bertahun-tahun yang lalu, X mengatakan bahwa dia menyukai seorang wanita di sekolahnya. Artinya dia normal, memiliki ketertarikan pada wanita sebagaimana layaknya seorang pria pada umumnya. Saya tidak tahu peristiwa apa yang X alami sehingga kemudian menyebabkan X memilih jalan alternatif yang berbeda untuk hidupnya. Tetapi seandainya saya segera membalas suratnya, atau mungkin menyempatkan sedikit waktu untuk meneleponnya dari wartel dan sekedar menanyakan kabarnya dan menunjukkan kepedulian saya padanya; bisa jadi X tidak akan berakhir seperti sekarang ini.

Sesal kemudian tiada guna.

Akhir kata, jangan pernah menunda menunjukkan kepedulian Anda kepada orang-orang yang Anda cintai. Karena kita  tidak pernah tahu kemana masa depan membawa kehidupan orang-orang yang kita cintai tersebut.

Mulailah peduli.

 

-Ruteng, 29 Agustus 2012-

Written by Rolan Sihombing

August 29, 2012 at 10:29 am

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. setuju banget tuh kita tidak boleh menunda2 utk menunjukkan kepedulian kita

    angga restu

    April 14, 2014 at 10:27 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: