Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Pertempuran Seumur Hidup: Menaklukkan Diri Sendiri, Dan Bukannya Orang Lain

leave a comment »

Jonas Salk, seorang peneliti medis dan virolog yang dikenal karena penemuan vaksin polio pertama yang paling aman dan efektif, pernah berkata demikian: “Jika semua serangga di bumi punah, maka dalam 50 tahun ke depan semua bentuk kehidupan di bumi akan berakhir. Jika semua manusia di bumi punah, maka dalam 50 tahun ke depan semua bentuk kehidupan di bumi akan kembali sejahtera.”

Sebagai contoh adalah kecoa, serangga yang sering kita anggap musuh yang paling menyebalkan, yang ketika ia hadir maka dengan segera kita akan mengambil pelbagai alat untuk membinasakannya. Nenek moyang kecoa pada fase awal Bumi telah hidup lebih dari 3,5 miliar tahun SM yaitu pada Zaman Palaezoikum, lebih awal dari yang sering disebutkan sebagai zaman kehidupan dinosaurus (Zaman Mesozoikum). Ketika Dinosaurus mengalami kepunahan, kecoa tidak; padahal bentuk fisik kecoa tidaklah sebesar dan sekokoh dinosaurus ataupun binatang-binatang purba lainnya. Sehingga karena ketahanannya itu, sampai hari ini kita bisa dengan mudah menjumpai kecoa, sedangkan dinosaurus hanya tinggal fosil.

Alasan mengapa kecoa kuat bertahan hidup hanya satu, yaitu karena mereka mampu beradaptasi pada kondisi dan lingkungan apapun. Asalkan suhu dan kelembaban cocok, serta ada makanan, mereka bisa bertahan hidup di mana pun di dunia ini.

Manusia dalam sejarah peradaban adalah spesies yang lebih membahayakan ketimbang spesies lainnya. Penjajahan, genocide, Perang Salib, Perang Dunia, Kamp Konsentrasi, pemerkosaan, pembunuhan, dan semua kejahatan-kejahatan lain yang bisa didaftarkan di sini adalah ulah satu spesies bernama Homo Sapiens terhadap manusia lainnya. Bahkan tak jarang semua bentuk kejahatan di bumi ini seperti perang, dilangsungkan atas dasar agama, sebuah sistem sosial yang diadakan untuk kesejahteraan penganutnya.

Contoh paling mutakhir, Perang Irak jilid 2 di era kepemimpinan George W. Bush. Tidak bisa dipungkiri terorisme adalah musuh global yang harus kita perangi, tetapi menempatkan terorisme sebagai dalih penyerbuan AS ke Irak adalah asumsi yang menyesatkan. Karena menurut beberapa artikel yang bisa dijumpai dengan mudah di internet, Perang Irak jilid 2 semata-mata bertujuan untuk menguasai persediaan minyak bumi yang sudah semakin menipis. Bahkan dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh sebuah koran Israel, George W. Bush meyakini perang yang sedang dipimpinnya adalah atas kehendak Tuhan yang berbicara langsung secara audibel kepadanya. Padahal itu hanyalah dalih untuk sebagai pembenaran atas perang yang ia komandani.

Tragis dan kejam. Dalam sebuah tayangan video yang dibocorkan oleh Wikileaks, ada sebuah peristiwa penyerangan dengan menggunakan helikopter terhadap masyarakat sipil yang juga menewaskan beberapa wartawan dari Reuter. Dan lebih ironisnya adalah tentara yang melakukan penyerangan tersebut tertawa terbahak-bahak melihat satu per satu manusia yang ditembakinya meregang nyawa.

Perang atas nama Tuhan, huh?

Seperti yang disampaikan Jonas Salk dalam kutipan di atas, ketika seluruh spesies manusia hilang dari bumi maka semua bentuk kehidupan akan kembali sejahtera dalam waktu 50 tahun, adalah benar. Manusia adalah kekuatan yang sangat menakutkan.

Dan sayangnya, ketika saya melihat cermin, saya melihat seorang musuh yang paling mengerikan yang pernah saya lihat. Musuh itu adalah diri saya sendiri. Saya adalah makhluk paling menakutkan bagi diri saya sendiri, dan setiap hari saya harus berjibaku habis-habisan dengan diri saya sendiri. Dan lebih mengerikannya lagi, pertempuran saya dengan diri saya sendiri harus dilalui sampai maut kelak menjemput saya.

Mengapa? Karena saya begitu mencintai diri saya, menganggap diri saya spesies paling unggul, paling bertalenta, dan paling mampu mengubah dunia. Begitu berpusatnya saya kepada diri saya sendiri, menjadikan saya pribadi yang sering mengacuhkan penderitaan dan air mata orang lain. Saya akan mudah dengan angkuhnya berjalan tanpa menghiraukan seorang anak yang mengulurkan tangannya kepada saya untuk meminta sedikit uang agar ia bisa makan. Saya akan dengan kejinya memaki-maki orang-orang yang saya anggap lalai dalam mengerti keinginan dan kemauan saya. Bahkan saya diam-diam bisa melakukan rencana kejahatan kepada orang lain tanpa memikirkan kepentingan orang yang akan menjadi obyek kejahatan saya.

Mengerikan bukan? Seperti Jonas Salk katakan, makhluk seperti saya inilah (sialnya) yang harus dipunahkan dari bumi sehingga bentuk kehidupan lainnya bisa tetap utuh dan sejahtera.

Kemarin saat ibadah hari Minggu, Pendeta berkhotbah tentang musuh yang harus kita taklukkan. Jika saya boleh menambahkan maksud pernyataan beliau, musuh yang paling utama yang harus kita taklukkan setiap hari adalah diri kita sendiri. Pertempuran kita bukan saja melawan iblis, tetapi sesungguhnya darah dan daging dalam tubuh kita inilah yang harus diperangi. Iblis sejati bukanlah sesuatu yang ada di atas langit sana, tetapi iblis yang ada dalam diri kita.

Ada sebuah eksperimen kontroversial tentang kejahatan yang pernah dilaksanakan pada era 1971 oleh seorang peneliti kejiwaan bernama Philip Zimbardo. Penelitian ini kemudian dikenal dengan Stanford Prison Experiment dan dibukukan dalam sebuah buku best seller yang berjudul The Lucifer Effect. Secara acak Philip Zimbardo memilih 24 orang normal dan memberikan mereka dua peran untuk disimulasikan, yaitu peran sebagai narapidana dan peran sebagai penjaga penjara selama dua minggu. Kedua grup ini ditempatkan dalam sebuah laboratorium yang dikondisikan seperti sebuah penjara sesungguhnya.

Para peserta eksperimen yang mendapatkan peran sebagai narapidana, diperlakukan sebagaimana narapidana pada umumnya sejak hari pertama. Mereka dijemput dari rumahnya dengan polisi sungguhan, diborgol, dan dibawa ke penjara rekayasa itu. Setelah itu mereka ditelanjangi dan diberikan pakaian narapidana beserta nomer yang jadi identitas mereka. Mereka pun ditempatkan dalam sel-sel yang menjadi rumah mereka selama beberapa minggu ke depan dengan pengawasan yang super ketat.

Di dalam penjara sudah ada orang-orang yang berperan sebagai sipir penjara yang harus dengan penuh penjiwaan memerankan peran tersebut. Mereka diberikan semua atribut dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk menjadi sipir, termasuk wewenang untuk mendisiplinkan para narapidana jadi-jadian ini.

Yang terjadi kemudian adalah para narapidana yang bukan benar-benar narapidana dan bahkan tidak pernah melakukan kejahatan seumur hidupnya, mengalami tekanan mental yang berat dan trauma berkepanjangan akibat perlakuan keras dan tidak berprikemanusiawian dari para penjaga penjara jadi-jadian ini. Selanjutnya, Zimbardo pun mendapatkan hasil bahwa sepertiga dari para penjaga penjara jadi-jadian ini ternyata memiliki bakat orisinil untuk berperilaku sadistis. Penelitian ini kemudian mendapat kecaman dan kritik pada masa itu.

Tetapi hasil dari penelitian ini kemudian sangatlah berguna, yaitu kejahatan dan juga tindakan sadis bisa muncul ketika seseorang mendapatkan wewenang untuk menjadi berkuasa atas orang lain. Ketika seseorang merasa dirinya lebih berkuasa, lebih unggul, lebih cakap, lebih berotoritas daripada orang-orang lain, maka orang-orang ini akan berkecenderungan melakukan hal-hal yang tidak sepantasnya dilakukan manusia normal. Mereka akan cenderung bersikap arogan, masa bodoh, tidak berbelaskasihan, meremehkan orang lain, dan juga merendahkan harkat dan martabat orang yang menjadi obyek pelampiasannya tersebut.

Ketika kita merasa lebih unggul, di situlah asal-muasal dari semua perilaku kejahatan terhadap sesama manusia.

Marianne Williamson pernah menuliskan puisi seperti ini.

“Ketakutan kita terdalam bukanlah karena kita merasa tidak memadai. Ketakutan kita terdalam adalah ketika kita kuat tak terkira. Cahaya kitalah dan bukannya kegelapan yang paling menakutkan kita. Kita bertanya pada diri kita, “Siapakah aku ini begitu brilian, cakap, bertalenta, dan luar biasa?” Sebenarnya, siapakah Anda jika tidak seperti itu? Anda anak Tuhan. Peran kecilmu tidak akan melayani dunia. Tidaklah pernah jadi sesuatu yang mencerahkan dari menyusutkan diri Anda sehingga orang-orang tidak merasa tidak aman berada di dekat Anda. Kita semua ditakdirkan untuk bersinar, selayaknya anak-anak bersinar. Kita dilahirkan untuk memanifestasikan kemuliaan Tuhan yang ada di dalam kita. Tidak hanya pada beberapa orang; kemuliaan itu ada di semua orang. Dan ketika kita membiarkan cahaya kita bersinar, tanpa sadar kita memberi orang lain izin untuk melakukan hal serupa. Sebagaimana kita dibebaskan dari ketakutan kita sendiri, kehadiran kita secara otomatis membebaskan orang lain pula.”

Kita begitu berkuasa sebagaimana Tuhan memberikan kita kuasa yang luar biasa untuk menaklukkan bumi dan menguasai semua ciptaanNya. Tetapi kekuasaan ini juga begitu menakutkan ketika kita menyalahgunakan kekuasaan tersebut, karena hal-hal buruk pasti terjadi. Betul kita adalah anak-anak Tuhan yang mewarisi bumi, yang sanggup melakukan apa pun yang ingin kita lakukan. Kita bisa menaklukkan puncak Himalaya jika kita mau. Kita bisa membuat novel terlaris sepanjang peradaban manusia dan merubah dunia menjadi tempat tinggal yang lebih baik. Kita bisa begitu berkuasa hingga orang-orang lain pun terinpirasi untuk menjadikan diri mereka berkuasa pula.

Tetapi begitu menakutkannya kekuasaan ini ketika kita salah menggunakannya. Kita bisa jadi pembunuh jutaan orang. Kita bisa memerintahkan sebuah perang berkepanjangan. Kita bisa menangkapi dan membunuhi satu persatu orang-orang yang tidak sejalan dengan kita. Kita bisa mengabaikan penderitaan orang lain. Kita bisa mematikan rasa belas kasihan kita pada orang-orang yang tidak seberuntung kita.

Kepada orang dengan perasaan ego maniak ini kita harus berkata padanya setiap hari di cermin, “Hei kamu. Kamu punya kekuasaan untuk menaklukkan orang lain di bawah kakimu dan membuat mereka memuja dan patuh kepadamu. Tetapi kamu juga punya kekuasaan untuk mengangkat orang tersebut, memberinya harapan, dan mengatakan dengan sungguh kepadanya bahwa dia bukan pecundang; bahwa dia bisa mengalahkan semua kekhawatirannya, dan membungkam semua ketakutannya, dan mengatakan padanya bahwa masa depan masih ada, harapan masih tersedia.”

Pertempuran kita setiap hari adalah menaklukkan naluri menguasai orang lain yang begitu dalam tertanam dalam diri kita. Pertempuran kita seumur hidup kita adalah membiarkan belas kasihan pada orang lain yang menderita merasuki pola pikir dan perilaku kita. Sehingga kemudian bukan menaklukkan orang lain, tetapi menaklukkan diri kita untuk mengasihi tanpa batas setiap orang yang ada di sekitar kita.

-Ruteng, 27 Agustus 2012-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: