Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Bukan Otak Jenius, Tetapi Hati Yang Tulus: Sebuah Perjalanan Pencerahan Sejati

leave a comment »

Dengan terus terang saya mengakui bahwa saya bukanlah orang yang bisa dikategorikan jenius. Meski juga bukan termasuk tipe orang yang bodoh, tetapi kemampuan berpikir saya tidaklah secanggih teman-teman yang kebetulan saya tahu memiliki kecerdasan tingkat dewa. Saya masih ingat ketika hasil test IQ dibagikan saat SMP, saya cukup terpukul karena angka yang tertera di kertas kecil itu menunjukkan angka yang sangat standar. Anehnya, seorang teman yang setahu saya nilai raportnya SELALU di bawah saya, ternyata memiliki angka IQ yang tinggi yang sedikit lagi bisa dikategorikan jenius.

Menjalani masa-masa SMP dengan label kecerdasan RATA-RATA cukup meresahkan jiwa, ditambah mengetahui bahwa kepincangan saya kala itu sudah hampir memastikan kesuraman masa depan saya. Masa-masa sekolah memang merupakan masa yang sangat  menguras emosi, dan air mata tentunya. Tetapi untung Tuhan menganugerahkan orangtua terbaik, yang saya yakin dalam kesunyian malam selalu berdoa agar anaknya yang muram ini tidak terjerumus pada jalan yang salah. Dan untungnya pula, saya tidak melangkah ke jalan yang salah. Maksudnya tidak merokok, mabuk-mabukan, ataupun menggunakan narkotika.

Sampai suatu ketika saat kuliah saya berjumpa dengan kitab suci; ini hanya istilah yang saya berikan bagi buku-buku yang merubah paradigma saya secara drastis, jadi jangan menyangka saya sedang melecehkan agama; yang berjudul Multiple Intelligence. Karena saat kuliah saya mengandalkan uang bulanan dari sponsor, jadi saya hanya menelan ludah menahan keinginan membeli buku itu. Tetapi alangkah senangnya saya ketika ada satu buku “display” yang tidak bersegel. Segera saya mengambil buku agenda yang selalu saya bawa di dalam tas ransel saya, dan dengan buru-buru (karena takut “dimarahi” pegawai toko buku G*****ia) saya menyalin intisari buku tersebut. Sesampai di asrama saya membaca tulisan cakar ayam karena dibuat dengan tergesa-gesa tersebut, dan saya gembira sekali karena akhirnya saya menemukan kecerdasan otentik milik saya sendiri, yaitu kecerdasan musikal dan linguistik.

Segera kenangan-kenangan masa lalu pun terlintas, dan saya baru mengerti mengapa saya senang sekali belajar sembari mendengarkan musik di tape compo kepunyaan Bapak, dan mengapa saya begitu mencandunya terhadap buku, termasuk buku komik bergambar seperti Asterix, Smurf, dan juga majalah Bobo. Bahkan saya pun seringkali melahap majalah Gadis yang selalu dibeli Bapak setiap bulan untuk kakak saya.

Berita yang cukup menggembirakan hati kala itu, yaitu bahwa saya jenius dan tidak ada satu orang pun seperti saya di dunia ini. Tetapi seandainya kala itu sejak kecil ataupun remaja saya mendapatkan pencerahan seperti itu, saya mencurigai entah sudah berapa judul novel ataupun judul lagu yang telah saya hasilkan. Pasti banyak.

Tetapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Saya percaya setiap kita jenius, dan hasil tes IQ yang pernah kita terima di masa lampau tidak 100% akurat sebagai indikator kecerdasan kita. Kita jenius karena di dunia ini hanya ada satu orang yang seperti kita, yaitu kita sendiri. Sejujurnya saya cukup ngeri jika ada satu orang lagi yang sama persis dengan saya, karena dunia pasti kewalahan. Bayangkan jika Anda memiliki 2 orang yang seperti saya di akun FB Anda, maka Anda pasti akan lelah dijejali status-status “kami” yang penuh dengan puisi-puisi melow ataupun kutipan-kutipan. Salah seorang teman saya di FB menyatakan bahwa ia mengira saya bekerja untuk Mario Teguh karena selalu menyampaikan kutipan demi kutipan di status saya. Saya pun tidak bisa membayangkan ada dua orang di dunia yang sama dengan Mario Teguh. Another Golden Way? Satu saja sudah CUKUP.

Hahaha…

Kemudian saya bertemu dengan satu kitab suci lainnya, yang berjudul Isu-isu Global, dan sampai hari ini masih jadi buku yang selalu saya baca berulang-ulang. Buku ini merubah secara drastis tidak hanya pola pikir, tetapi pilihan hidup saya kemudian. Buku ini memaksa menurunkan isi kepala saya (baca pengetahuan) ke hati saya. Saya berubah menjadi orang yang mengejar kejeniusan menjadi orang yang berusaha melakukan sesuatu yang berguna dengan ketulusan.

Buku ini membuat saya tak sabar ingin keluar dari gereja dan pekerjaan saya sebagai staf, selain juga saya jenuh dengan pertengkaran di antara kedua atasan saya kala itu di departemen anak. Saya juga bosan dengan khotbah-khotbah pendeta yang sarat dengan janji-janji kemakmuran pribadi sementara di sebelah tembok gereja ada banyak orang yang masih tidak tahu apa yang akan ia makan setiap hari.

Kemudian “kemarahan” ini juga berlanjut dengan kepedihan hati saya mendengar kisah seorang pemuda Papua yang dilaporkan hilang oleh sebuah LSM di sana. Pemuda ini menjadi korban kebrutalan tentara yang menghajarnya habis-habisan dengan popor senjata hanya karena kebetulan lewat di area terlarang di sebuah tambang emas terkemuka di sana. Padahal yang ia lakukan adalah hanya berjalan menyusuri jalan pintas agar segera bisa pulang ke rumahnya sehabis menghadiri sebuah ibadah sore di gereja. Sepulang dari pertemuan di sebuah kawasan di Bandung itu, saya menangis sembari berjalan kaki menyusuri jalan Cisangkuy. Saya ingat saya menengadahkan kepala saya ke langit, dan berkata: “Mengapa Kau biarkan itu terjadi?

Setelah kejadian itu, bagai mendapat durian runtuh saya pun diterima bekerja di sebuah lembaga pelayanan yang berfokus pada pengembangan anak-anak miskin. Sebuah tempat kerja yang sangat sesuai dengan amarah hati saya terhadap jerat-jerat kemiskinan, yang jauh lebih memberi dampak ketimbang gereja saya kala itu yang hanya piawai mengkhotbahkan tentang kemiskinan.

Dan hari ini, sebelum tulisan ini rampung dituliskan, mata saya berkaca-kaca melihat data angka-angka putus sekolah pada beberapa anak binaan, yang hanya karena kemiskinan orangtuanya-sesuatu yang tidak bisa mereka tolak-terpaksa menggadaikan impian masa depannya untuk memiliki hidup yang lebih baik di masa depan.

Ini tidak benar, dan seharusnya tidak terjadi.

Namun jauh di dasar hati saya, rasa syukur kepada Sang Khalik karena mengizinkan dua buah buku merubah hidup saya. Dari seorang yang minder menjadi seorang yang haus akan ilmu dan mengejar kejeniusan, namun kemudian berubah drastis menjadi pribadi yang tidak berambisi lagi akan titel bertumpuk-tumpuk di belakang nama dan justru mengejar sedikit perbuatan tulus untuk menolong sesama yang tidak seberuntung saya.

Kita tidak perlu otak yang jenius untuk menolong sesama; kita hanya butuh hati yang tulus tergerak oleh belas kasihan.

-Ruteng, 24 Agustus 2012-

Written by Rolan Sihombing

August 24, 2012 at 10:53 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: