Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Seandainya Ibu Guru Matematikaku Tidak Galak

leave a comment »

Seandainya guru matematika saya saat SMP tidaklah galak, hari ini saya pasti akan jadi seorang ilmuwan ataupun peneliti; minimal seseorang yang mempunyai kecintaan pada matematika. Tetapi sayangnya itu tidak terjadi. Guru matematika saya saat SMP yang sudah almarhumah, adalah sosok guru yang luar biasa galak dan sedikit “kejam.” Beliau tidak akan segan-segan menghantamkan penggaris kayu yang tebal ke betis murid-murid yang dia nilai nakal. Dan sedihnya, saya termasuk salah satu siswa yang pernah kena hajaran penggaris kayunya hingga patah terbelah dua.

Hari itu saya benci matematika, karena didorong ketidaksukaan dan ketakutan saya pada amarah beliau. Padahal sewaktu SD, nilai matematika saya saat Ebtanas adalah termasuk yang cukup tinggi. Bahkan NEM (Nilai Ebtanas Murni) saya kala itu tertinggi kedua dengan rata-rata nilai 9.

Saat kelas 3 SMP, semua berubah total. Meski nilai NEM SMP saya masih cukup baik kala itu, bahkan pada saat penerimaan siswa baru, saya termasuk salah seorang siswa dengan NEM SMP tertinggi kedua setelah seorang teman yang baru hijrah dari Riau kala itu. Karena nilai NEM yang bisa dibilang bagus inilah, saya pun masuk kelas paduan suara di SMU 36, meski kemudian justru kegiatan paduan suara ini malah membuat prestasi akademis saya mundur lebih drastis lagi.

Tetapi kemudian ketakutan pada guru matematika yang kemudian berimbas pada ketakutan pada pelajarannya, pun terus berlanjut hingga SMU. Bahkan nampaknya cukup berdampak hingga saat ini. Saya mencurigai pola pengaturan keuangan yang tidak baik, dan tidak terlalu cakapnya saya dalam menyusun sebuah kerangka pikir yang logis dan terstruktur, pastilah dikarenakan lemahnya penguasaan ilmu matematika dalam diri saya. Itu yang ditulis dalam sebuah laporan Self Assesment yang saya ikuti: “Rolan kurang bisa membangun konstruksi pikiran secara terstruktur. Sehingga kemampuan berbahasanya yang tinggi tapi tanpa disertai struktur pikiran dan teori yang logis, maka orang-orang yang mendengar Rolan akan beranggapan Rolan hanya piawai bicara.” Sedih juga mendapatkan komentar seperti itu di laporan analisa pribadi sendiri.

Di saat saya menulis blog ini, saya sedang menyusun materi-materi workshop untuk sosialisasi dan perumusan Sekolah Ramah Anak se-Kabupaten Manggarai yang akan difasilitasi oleh lembaga tempat saya bekerja sekarang. Selain karena kebetulan dalam workshop ini ada materi tentang Hak Anak yang harus disampaikan, tujuan pelatihan ini kelak akan selaras dengan program kerja saya selama beberapa tahun ke depan. Sehingga masukan dari seorang petugas perlindungan anak tentang isu-isu yang akan disampaikan dalam workshop ini, sangat dibutuhkan.

Sewaktu materi-materi pembelajaran sudah saya petakan dan saya susun sesuai output yang diharapkan dari pelatihan ini, saya diingatkan tentang ketidaksukaan saya pada matematika. Dan jika dirunut ke belakang, ketidaksukaan ini dikarenakan trauma dan ketakutan saya pada guru matematika dan kemudian berimbas pada ketidaksukaan saya pada pelajaran itu.

Artinya guru, suka atau tidak suka, memainkan peranan yang penting dalam proses belajar mengajar seorang anak. Ketika seorang guru bisa menjadi motivator seorang anak dalam suatu disiplin ilmu, maka sudah dipastikan anak tersebut akan senang mempelajari ilmu yang diajarkan. Bahkan anak itu dengan inisiatifnya sendiri akan berusaha secara proaktif mempelajari “ilmu yang ia sukai karena gurunya” secara mandiri. 

Seharusnya pendidikan itu ditujukan untuk kepentingan terbaik anak, yang adalah pelanggan utama dari sekolah. Sehingga jika pendidikan adalah untuk anak, maka seharusnya guru pun bukan lagi hanya sebagai instruktur, tetapi juga sebagai pelatih dan mentor anak yang selain membagi ilmu dan hidup tetapi juga mendorong anak didiknya untuk mengembangkan dirinya sesuai dengan bakat dan karunia yang Tuhan sudah berikan pada anak itu.

Inilah inti pendidikan, yaitu mendidik anak sehingga potensinya bertumbuh sampai titik maksimal. Dan pada akhirnya anak tersebut dapat memiliki kecakapan yang ia butuhkan untuk bertahan hidup dan juga kemudian untuk memberi makna pada kehidupannya dan orang-orang sekitarnya.

Seandainya ibu guru matematikaku tidak main pukul, mungkin sesuatu yang berbeda terjadi dalam hidup saya. Lagipula anak yang “nakal” bukan berarti ia benar-benar nakal. Banyak variabel-variabel yang menyebabkan saya dikecam sebagai “nakal” namun belum tentu saya benar-benar nakal kala itu. Ini yang tidak dipahami oleh sang ibu guru tercinta.

Yah, namanya juga seandainya. Tetapi terlepas dari sakitnya betis saya dihantam penggaris, saya tetap bersyukur karena Tuhan menempatkan ibu guru matematika yang saya cintai ada di hidup saya. Karena segala sesuatu pada akhirnya mendatangkan kebaikan bagi kita, betul???

Terima kasih Bapak dan Ibu guruku semua. Dua jempol untuk semua jasa-jasamu hingga hari ini saya masih eksis dan berkarya bagi Negeri tercinta.

Written by Rolan Sihombing

August 22, 2012 at 4:45 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: